Contract With You

Contract With You
Bab 20



Mika keluar dari bandara dengan Leo yang setia berada di belakangnya. Sebuah mobil hitam sudah tersedia dan hanya tinggal menunggu penumpangnya datang. Ya, ini waktu sebelum semuanya terjadi.


"Untung saja aku tidak jadi terjebak di sana," ujar Mika yang sudah duduk di kursi supir.


"Jika itu terjadi mungkin Nyonya akan meninggalkan surat cerai di atas meja kerja Anda Tuan," jawab Leo dengan nada bercanda. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi supir.


Entah terkena angin apa Mika ingin mengendarai mobilnya sendiri. Padahal selama ini dia lebih sering membiarkan Leo yang menyetir.


"Jaga ucapanmu," gumam Mika dan hanya dibalas dengan senyuman bercanda dari Leo.


"Perasaanku agak tidak enak,"


Mobil Mika pun melaju menembus jalanan. Namun ada yang aneh, sebuah mobil juga mengikuti mereka dengan mencurigakan.


Awalnya Leo tidak begitu mempermasalahkan nya, karena yang dia pikirkan mungkin saja tujuannya sama.


Namun tidak. Perasaan buruk yang menyelimuti Mika terjadi juga. Ketika mobil Mika sampai di tengah-tengah jembatan, mobil yang dari tadi mengikutinya tiba-tiba melaju dengan sangat cepat dan menabrak bagian belakang mobil Mika.


Seperempat badan mobil sudah melewati pembatas jembatan dan akan jatuh ke dalam sungai yang sangat deras.


"Keparat! Siapa yang menyopir mobil sialan itu?!" ujar Mika dengan marah. Leo hanya memegangi dadanya ketika melihat aliran sungai yang mengerikan. Rasanya jantungnya hampir copot.


Mika hendak menjalankan mundur mobilnya, namun mobil tadi malah mendorongnya jatuh dari atas jembatan.


"Kita akan jatuhhhh!!" teriak histeris Leo ketika mobil yang ia tumpangi mulai miring dan memperlihatkan pemandangan luar biasa menakutkan.


"Cih!! Kau keluar saja dulu!!" Mika menendang Leo keluar dari mobil. Untung saja kaca jendelanya terbuka dan membuat Leo selamat dari kecelakaan maut tersebut.


"Tu, tuan!!" teriak Leo ketika mobil sudah 100% jatuh dari atas jembatan.


"Ti tidak mungkin, Mikaa!!"


......................


Leo....


"Pertama kalinya dalam hidupku. Aku tidak bisa menolong temanku sendiri. Sialan! Bodohnya aku,"


Mika...


"Saat pertama kali keluar dari bandara aku sudah tahu. Ada yang tidak beres dengan mobil yang terus mengikuti ku. Tetapi insting ku tidak setajam dulu. Mungkin jika aku tidak ceroboh, aku tidak akan berakhir seperti ini..."


Jatuh dari atas jembatan seperti ini membuat liukan memori menyebalkan mengisi kepala Mika yang terluka parah. Mungkin jika Mika bukan keturunan dari Tiga Keluarga Mata Merah (Keluarga Mika yang merupakan pemimpin, Keluarga Yuhi yang merupakan pengawal, dan Keluarga Leo yang merupakan pelayan), tubuhnya sudah hancur jatuh dari dari jembatan.


"Air? Ah, benar juga. Karena aku terlalu ceroboh aku hampir membunuh teman ku sendiri,"


Gelembung-gelembung air yang terkena sedikit cahaya, basah, dan juga dingin.


"Aku kehabisan napas dan aku mulai sekarat. Aku harus segera pulang. Ada orang yang sedang menungguku,"


Dia memejamkan mata nya sebentar. Walaupun di dalam air, darahnya masih mengalir dengan deras. Hal tersebut membuat air menjadi ternodai.


Perlahan dia membuka mata merahnya.


"Aku itu siapa??...."


••••


"Uhuk... uhuk...uhuk,"


Di dalam mobil darah masih saja keluar dari mulut Aiko. Aiko memandangi tangannya yang penuh darah dengan mata sayu.


"Aiko, apa kamu baik-baik saja?" tanya Mia yang yang tengah menyetir. Wajahnya panik bercampur dengan bingung dengan situasi yang sedang menimpa mereka.


"Aku baik. Hanya saja, darah ini keluar tanpa henti," jawab Aiko seraya mengelap mulutnya yang bersimbah darah.


"Aiko,"


"Ya??"


"Apa kamu.. emmm, tidak jadi. Lagian tidak penting," Mia kembali fokus pada mobil yang sedang ia setir.


"Baiklah....," mata biru Aiko mulai pudar. Rasanya hati kosong dan tidak tahu harus apa.


"Apa Mika baik-baik saja??"


•••


Jarak dari rumah Aiko menuju jembatan yang dimaksud memang cukup jauh. Apalagi jalanan habis turun salju dan membuat mobil tidak bisa melaju dengan cepat.


"Apa masih jauh?" tanya Aiko yang sedari tadi menunduk.


"Beberapa menit lagi," jawab Mia dengan nada mengkhawatirkan Aiko.


Syuuuu....brakkk.....


Suara mobil yang berantakan memekakkan telinga.


Tubuh Aiko nyaris hancur jika Mia tidak dengan sigap menarik nya ke arah depan. Sejak awal Mia memang mencurigai sesuatu, dan perasaan buruknya terjadi.


Keduanya tidak sadarkan diri sedang darah yang bersimbah di seluruh tubuh mereka. Apakah ini pertanda? Atau Tuhan ingin menguji mereka?


Aiko masih bisa melihat keadaan sekitar walaupun tubuhnya tengah terluka parah. Rambut pirangnya hampir berubah warna menjadi merah karena terkena darah Aiko yang keluar dari kepala.


"Aku tidak bisa merasakan sakit. Apa aku sekarat? Mungkin saja aku mati. Mika, aku harap bisa bertemu denganmu lagi..."


........


Ninu...ninu....ninu....ninu....ninu.... ninu....ninu....


Ambulans datang di dua tempat yang berbeda. Dia dua tempat uang mengalami kecelakaan dengan penyebab yang aneh.


"Sangat aneh, hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 jam, ada dua kecelakaan yang terjadi di dua tempat yang berbeda,"


"Dua gadis yang koma dibawa ke Rumah Sakit Pusat,'


"Aku harap mereka baik-baik saja,"


"Bagaimana dengan yang ada di jembatan?"


"Satu korban berhasil selamat. Namun yang satunya dalam kondisi kritis,"


"Apa pelaku bisa diselidiki?"


"Tidak. Pelaku melarikan diri setelah menabrak korban,"


"Tapi aku berpendapat. Pelaku adalah orang yang sama,"


"Benar aku juga begitu,"


Percakapan dari para betugas medis serta kepolisian mengisi tempat kejadian. Menyisakan banyak teka-teki.


"Tunggu sebentar. Bukankah korban di jembatan adalah Presdir dari Perusahaan Aiha?"


"Iya, benar!! Dia bersama asisten nya,"


"Juga korban kecelakaan tadi adalah Aiko. Istri Presdir yang tidak pernah muncul di muka umum,"


"Iya, benar!! Berarti ini sudah direncakan sejak awal,"


"Sebaiknya kita tidak terlalu mendalami kasus ini jika mereka korbannya,"


"....."


Percakapan dari pihak kepolisian tidak kalah menarik dan membuat kerumunan semakin menjadi.


......................


"Maaf kan aku, aku sangat minta maaf,"


Mata merahnya yang seperti manik itu berkilauan. Air mata yang mengalir deras membuatnya sesekali sesegukan.


Ada saat di mana semuanya menjadi begitu suram dan tidak terlalu menyenangkan. Bahkan terkadang ada situasi yang membuat kita tidak bisa bergerak bebas. Terkekang dan terus bersikap layaknya boneka. Sesuatu yang hampa dan kosong.


.


.


.


.


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil


Di sini Author dengan senyum manisnya yang bagai gula haha


"Yahh, mungkin semakin lama ada yang berpikir karya saya sedikit membosankan. Tapi saya memang berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan yang terbaik untuk anda sekalian. Jadi jangan hanya membaca saja, silahkan terus dukung author agak lebih semangat lagi dengan selalu tinggalkan jejak kalian yang indah itu"


Salam hangat dari Author


**Pengumuman dari Author


Bab 1-20 Novel ini di Remake, bab selanjutnya adalah lanjutannya**