Contract With You

Contract With You
Bab 14



"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Aiko dengan nada kecewa. Tanpa sengaja Aiko memasang wajah kecewa tidak seperti biasanya dan membuat Mika terkejut.


"Loh, dia siapa? Apa kamu mengenalnya Mika?" tanya Stella seraya menggelayut pada tangan Mika.


"Lepaskan," Mika menghempaskan Stella agar menjauh darinya dan berjalan ke arah Aiko.


"Maaf, aku bisa menjelaskan semua ini," lanjut Mika seraya menarik tangan Aiko.


Air mata Aiko mengalir dengan sendirinya, "Apa yang mau kamu jelaskan setelah aku melihat situasi seperti ini?" ucap Aiko seraya terisak.


Stella yang melihat hal tersebut langsung menarik Mika agar menjauh dari Aiko.


"Apa yang kamu lakukan? Bukankah kita kemari untuk mencari barang pernikahan?" ucapnya dengan nada sedih dan berpura-pura kasihan.


Aiko berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka berdua.


"Tunggu, Aiko," ucap Mika hendak menyusul Aiko, namun Stella menahannya.


Sekarang air mata Aiko benar-benar banjir dan tidak bisa dikendalikan lagi. Dia melihat Mia yang menghampirinya seraya membawa tas yang ia tinggalkan di meja.


"Apa yang terjadi Aiko?" tanya Mia khawatir. Namun Aiko tidak menjawabnya. Malah dia menarik Mia agar pergi dari tempat itu segera.


Di luar Leo sudah menunggu Aiko dengan khawatir karena dia tahu Mika pergi dengan Stella tadi.


Ketika sudah sampai di depan mobil Aiko langsung masuk ke dalam seraya menarik Mia untuk ikut dengannya.


"Anu, Nyonya. Apa tidak sebaiknya kita pulang bersama Tuan sekalian?" tanya Leo seraya masuk ke dalam mobil.


Melihat Aiko yang diam saja seraya menunduk, Mia mengguncang pelan tubuh Aiko.


"Aiko, apa kamu baik-baik saja?" Mia terkejut ketika menyentuh tubuh Aiko yang panas.


"Demamnya tinggi sekali. Cepat jalankan mobilnya ke rumahku," suruh Mia pada Leo.


"Tapi si Tuan," ucap Leo seraya menunjuk keluar ke arah Mika yang tengah berlari menuju mereka.


"Ah, entahlah. Apa kamu tidak lihat, Aiko menghindar darinya jadi sekarang jalankan mobilnya atau kamu turun saja. Biar aku saja yang mengemudi," ujar Mia dengan nada menyeramkan. Membuat Leo terkejut dan menurutinya. Entah kenapa Leo jadi lemah dihadapan Mia.


Mika yang tengah berlari menuju mobil berhenti setelah melihat mobil yang membawa Aiko melaju pergi.


"Hos, hos, tunggu sebentar," ucap Mika dengan napas terengah-engah. Namun harapannya hancur setelah melihat Aiko pergi begitu saja.


"Mika, kamu ini kenapa, sih? Memang dia itu siapa?" tanya Stella yang sejak tadi mengikuti Mika. Tidak ingin Mika pergi, Stella bergelayut di tangan Mika.


"Kubilang pergi!" Mika menghempaskan Stella agar menjauh darinya.


"Ih, kenapa kamu begitu?! Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?!" tuntut Stella dengan nada kasihan agar mendapatkan iba dari Mika. Namun Mika hanya memandang nya jijik.


"Siapa yang mau menikah dengan pelac*r seperti mu?" tanya Mika dan membuat Stella tersentak.


"Apa maksudmu?! Kamu kan sudah berjanji akan menikahi ku," ujar Stella.


"Asal kamu tahu, aku sudah menikah. Gadis yang tadi adalah istriku. Nyonya besar keluarga Aiha ada di tangannya. Kamu pikir aku bod*h untuk menikahi mu? Semua hal yang berhubungan dengan perusahaan ayah mu sudah aku buang sejak dulu. Rasanya aku ingin mengutuk semua orang yang terlibat dengan masalah perjodohan," Mika meninggalkan Stella dan bergegas menuju mobilnya untuk menyusul Aiko.


Di tengah keadaan tersebut. Amarah Stella memuncak.


"Sial*n! Sial*n! Mana mungkin aku mau menerima ini. Aku sudah bersusah payah kabur dari rumah tanpa membawa apapun, dan yang aku dapatkan adalah ini?! Nyonya besar keluarga Aiha adalah milikku, milikku!!" ujar Stella dalam hati dengan amarahnya.


•••


"Kamu bisa cepat tidak, sih?" ucap Mia kepada Leo dengan nada menyeramkan dan sekali lagi membuat Leo bergidik ngeri.


"Nona, apa tidak apa membawa Nyonya begitu saja?" tanya Leo.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Mia. Rumah Mia memang tidak terlalu besar, namun itu adalah rumah hasil jerit payah nya sendiri.


Mobil Leo berhenti di depan rumah Mia. Leo turun dan membuka pintu mobil untuk Mia dan Aiko.


"Biar saya gendong saja," ucap Leo seraya menggendong Aiko keluar dari mobil. Kemudian Mia keluar dan bergegas membuka pintu rumahnya.


"Cepat masuk sebelum Tuan Mika kemari," suruh Mia.


Mereka masuk ke dalam rumah dan langsung menuju lantai dua tempat kamar Mia berada.


"Baringkan Aiko di sini," suruh Mia pada Leo. Kemudian Leo menurunkan Aiko di kasur yang sudah ada di dalam kamar.


"Maaf, saya tidak bisa lama-lama. Karena Tuan pasti akan marah setelah tahu apa yang terjadi," ucap Leo pada Mia.


"Kamu beri tahu saja alamat rumah ini. Jika dia datang ke rumah ini, aku akan mengajarinya tentang bagaimana memperlakukan seorang gadis," ucap Mia dengan nada mengutuk. Sepertinya dia sangat marah melihat sahabatnya disakiti sampai seperti ini.


"Saya permisi," ucap Leo meninggalkan rumah Mia.


Mia segera mengganti bajunya dan mulai mengobati Aiko.


"Sebenarnya aku tidak mau kamu menikah di usia mu saat ini, Aiko," gumam Mia seraya meletakan handuk hangat di dahi Aiko.


Pandangan Mia beralih pada jendela kecil yang berada di sebelah ranjang.


Kalian tahu, sebenernya cinta itu rumit. Seperti labirin yang terus membuatmu kebingungan dan hilang arah. Seperti perjalanan yang kamu buat namun tidak tahu apa tujuannya.


Apa yang akan dipilih? Apa yang akan dijalani? Apa yang akan menjadi tujuan? Apa yang sebenarnya kita cari sampai lupa makan?


"Ukhh," kesadaran Aiko mulai kembali dan dia mulai membuka matanya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mia dengan nada khawatir.


Aiko tidak menjawab. Hanya bulir bening yang dengan deras membasahi pipi mulusnya. Mia tahu bagaimana perasaan Aiko sekarang. Seperti bunga yang baru saja mekar malah ke terjang badai. Seperti bunga dandelion yang terhempas angin. Sangat rapih dan mudah terkoyak.


Melihat Aiko yang terisak Mia langsung memeluknya.


"Menangis lah. Kamu akan lebih baik setelah mengeluarkan semuanya,"


Bintang pun hanya bersinar pada malam hari. Sekuat apapun bangunan, jika pondasinya rapuh maka bangunan itu pun akan roboh. Seperti hal nya manusia. Semakin jauh perjalanan yang ditempuh, maka akan semakin banyak rasa sakit yang menerjang mu. Ingatlah, dunia ini hanya bertahan sementara. Jangan disia-siakan. Teruslah maju dan jangan pernah mundur.


°°°


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil


Hola hola para pembaca yang setia~


Masih inget sama Author kan


(Kagak Thor dah lupa)


Elu jahat amat sih


Oke, jangan dihiraukan


Author mungkin bakal jarang up nih, jadi maaf buat yang enggak sabar Ama kelanjutan ceritanya


Dan jangan lupa like nya, kalian tahu kan tu fungsi tanda jempol wkwkk


Bye bye kiss....


(Idih....)