Contract With You

Contract With You
Bab 3



Tidak lama berselang, Mika datang ke ruangan tersebut.


"Ibu, Aiko ada dimana?" tanyanya seraya duduk di kursi sebelah ibundanya.


"Ibu kalah taruhan denganmu, nak," ucap Ibu mengangetkan Mika.


"Hah? Apa maksud ibu?" tanya Mika lagi.


"Gadis pilihanmu memiliki sifat yang ibu inginkan. Ya, sudahlah, kamu tunggu dia keluar, malam ini biar kan dia tidur di sini," ujar ibu seraya keluar dari dalam ruangan.


Ibu tiba-tiba berhenti di depan pintu kemudian berbalik ke arah Mika yang sedang melahap kue yang tadi sedang di makan ibundanya.


"Besok kamu boleh mendaftar pernikahan itu, tapi jangan sampai kamu menyakitinya, ingat aturan keluarga kita. Ibu akan kembali ke ruang tengah, ajak dia ke kamarmu dan jangan lakukan apapun padanya," perintah Ibunda sambil melangkah pergi meninggalkan Mika dengan beberapa pelayan mengikutinya.


"Tentu saja aku tidak akan melakukan apa-apa padanya, dia masih gadis di bawah umur," gumam Mika.


"Mi-Mika, apa ibu sudah pergi?" Aiko menepuk bahu Mika dan membuat Mika terkejut kemudian memalingkan wajahnya ke arah Aiko.


"Aaa! Kupikir hantu yang memegangi, tapi Aiko kamu sangat-..." Mika seketika terpesona melihat tampilan Aiko setelah didandani. Rambutnya ditata rapi dengan terusan berwarna biru dengan rok lebar berenda putih. Wajahnya penuh dengan riasan yang sederhana namun memikat.


"Mika, aku sedang berbicara denganmu," Aiko melambai-lambai kan tangannya di depan wajah Mika yang sedang melamun.


"Oh itu, ibu sudah pergi. Dia bilang kamu harus menginap di sini, akan ku antar kamu ke kamarku," ucap Mika dengan wajah yang memerah. Mika dan Aiko keluar dari ruangan tersebut dan berjalan mengarah ke kamar Mika di lantai 2.


"Aku tidak tahu. Padahal hanya untuk sekedar tidur harus memakai riasan sebanyak ini," ucap Aiko.


"Akan aku bantu kamu menghilangkannya nanti," ujar Mika seraya membuka pintu kamarnya. Mereka berdua memasuki kamar. Mika masuk duluan dan duduk di atas kasurnya yang sangat lembut.


"Duduklah kemari dan aku bantu menghilangkan riasan itu," ucap Mika. Aiko mengangguk dan duduk di samping Mika yang mengelap wajahnya dengan tisu. Setelah selesai Mika langsung mencari baju tidur untuk di pakai oleh Aiko di lemarinya.


"Mika, apa aku harus tidur bersamamu?" tanya Aiko cemas.


"Maaf, ya, rumahku hanya memiliki dua kamar utama, masa kamu harus tidur di kamar pelayan," jelas Mika.


"Ta-tapi tidak baik bagi seorang laki-laki dan perempuan tidur di kasur yang sama, sedangkan mereka belum menikah," ujar Aiko dengan wajah yang merah.


Mika tersenyum dan memberikan baju tidur kepada Aiko.


"Aku tidak akan melakukan apapun padamu, kok. Tenang saja, lagian kamu masih gadis dibawah umur," jelas Mika.


°°


"Kamu menganggap ku sebagai anak kecil," ucap Aiko.


"Lagian kamu lebih muda dariku. Bergegaslah mandi, kamar mandinya ada di samping kanan kamar ini," ucap Mika seraya mendorong Aiko keluar dari kamar dan menutup pintu setelah Aiko keluar.


"Dasar orang aneh," gumam Aiko. Dia berjalan menuju kamar mandi.


Mika membuka jendela kamarnya dan melihat pemandangan luar dengan angin yang berhembus kencang disertai dengan hujan.


"Hujan ini selalu membawa air mata," ucap Mika dalam hati.


Dia memandangi gunung dan melihat banyak orang membawa payung di jalanan disertai dengan lampu yang menerangi kota. Angin semakin kencang dan menerbangkan banyak daun yang berguguran di jalan. Mengingatkan bahwa musim gugur belum selesai.


"Jika kamu terlalu lama terpapar angin, kamu akan masuk angin, loh," ucap Aiko mengagetkan Mika. Aiko meletakan selimut di tubuh Mika. Mika menoleh ke arah Aiko dan memandangi Aiko yang sudah duduk di atas kasur seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Tidak ada," Mika berdiri dan berjalan ke arah Aiko, "Berikan handuk itu padaku," ucapnya.


Tanpa ragu Aiko memberikan handuknya pada Mika. Mika naik ke atas ranjang dan duduk di belakang Aiko. Dia mengeringkan rambut Aiko yang panjang.


"Rambutmu sangat panjang sampai-sampai aku merasa sulit untuk mengeringkannya," ujar Mika.


"Begitu kah? Bahkan aku butuh waktu enam tahun untuk memanjangkan rambut ini," sahut Aiko seraya tersenyum.


Setelah begitu lama membiarkan Mika membelai-belai rambutnya. Aiko tanpa sadar tertidur dan bersandar kepada Mika yang berada di belakangnya. Mika menusuk-nusuk pipi Aiko yang tertidur di dalam pelukannya dan tersenyum. Dia memindahkan Aiko di tempat yang seharusnya dan menyelimutinya dengan selimut tebal karena udara sangat dingin. Mika sendiri duduk di samping Aiko yang sudah terlelap.


"Kalau di lihat-lihat lagi gadis ini lumayan cantik," gumamnya. Dia menundukkan kepalanya ke arah wajah Aiko dan mencium dahinya.


Di luar sangat dingin. Air hujan yang jatuh memberikan kesan harmoni mereka sendiri. Aku mungkin hanya beruntung bertemu dengannya. Tapi aku merasa sangat beruntung setelah bertemu dengannya. Tidak apa-apa jika dia tidak mencintaiku, akan ku buat dia mencintaiku.


°°


Pagi tiba. Burung-burung berkicau di balik jendela. Hujan telah berhenti dan meninggalkan genangan di jalanan. Aiko membuka matanya dan melihat sekeliling. Dia duduk sebentar dan menguap seraya menggosok-gosok matanya.


"Ini di mana?" Aiko menengok ke sebelahnya dan melihat Mika yang tengah tidur pulas.


"Apa dia masih tidur?" gumamnya dalam hati seraya menyingkirkan rambut yang menghalangi mata Mika, "Kalau dilihat-lihat lagi dia cukup tampan," ucap Aiko dengan wajah yang bersemu merah.


Tiba-tiba Mika menggenggam tangan Aiko dan membuat Aiko terkejut.


"M-maaf, aku tidak sengaja," ucap Aiko.


"Gadis nakal," Mika tersenyum jahat dan menarik tangan Aiko agar mendekat dengannya.


"Waa!?"


Wajah Aiko berada tepat didepan Mika.


"Sangat dekat," ucap Aiko dalam hati.


"Tu-tunggu, apa yang kamu lakukan?" ucap Aiko. Wajahnya kini sangat merah seperti orang demam.


"Kamu ini gadis nakal, ya. Mau apa kamu mengusap wajahku? Mau mencuri ciumanku," ucap Mika dengan nada menggoda.


"Si-siapa yang mau se-seperti itu, aku cuma....cuma.." Aiko diam dengan wajah yang merona.


"Chu~~" Mika mencium pipi kiri Aiko, "Hanya itu yang bisa aku berikan padamu," ucapnya.


"Kamu keterlaluan, kita bahkan belum menikah," Aiko mengusap-usap pipinya. Mika turun dari ranjang dan membuka jendela kamar.


"Sudahlah. Bangun dan ganti bajumu," ujar Mika sambil mengusap-usap kepala Aiko.


"Tapi aku tidak punya baju ganti," Aiko menyibak selimutnya dan berdiri sambil mengikat rambut.


"Ah itu. Dia lemari ada banyak baju yang disiapkan oleh ibunda. Kamu pakai saja," Mika berjalan ke arah lemari dan membukanya. Di dalamnya ternyata sudah banyak baju yang disiapkan oleh ibu Mika untuk Aiko.


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil