
Aiko yang terlelap diperlihatkan sebuah ingatan. Sebenarnya apa yang terjadi padanya selama 8 tahun?
Selamat di Inggris. Aiko tinggal dengan Alice dan menjadi akrab seiring berjalannya waktu. Alice mencukupi kebutuhan hidupnya dengan uang yang diberikan oleh Yuhi. Namun dia juga membuka toko bunga di rumahnya.
"Sejak kecil aku lebih suka bercocok tanam daripada harus pusing dengan tumpukan dokumen," itulah yang sering diucapkan Alice ketika ditanyai kenapa lebih memilih menjual bunga di desa seperti ini.
Selama dua bulan Aiko membantu Alice menjaga toko bunga. Walaupun berada jauh dari perkotaan, banyak sekali orang-orang yang lalu lalang di sini.
"Tempat ini sangat indah. Arsitektur abad pertengahannya belum hilang. Tempatnya damai dan orang-orang di sini ramah-ramah," Alice sering mengatakan ketika mengajak Aiko jalan-jalan.
Semuanya berjalan baik-baik.
Sampai ....
"Hoekkk... hoekkk...,"
"Are you alright? Setiap pagi kamu selalu seperti ini," tanya Alice khawatir ketika melihat Aiko muntah-muntah di dalam kamar mandi.
"I am fine. Mungkin aku hanya kelelahan," jawab Aiko dengan wajah pucat. Memang menurutnya aneh, setiap pagi dia selalu merasa mual.
Alice berpikir sebentar, "Aiko, kapan terakhir kamu menstruasi?" tanya Alice dengan mengharapkan kabar baik.
"Umm, sepertinya bulan lalu tidak. Aku benar-benar tidak ingat. Sudah la...," Aiko menghentikan ucapannya. Matanya melebar. Dia memegang perutnya. Terkejut, senang, atau sedih. Aiko tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Bulir bening nya mengalir entah tanda apa.
Alice tersenyum senang, "We're going to the hospital now," ujar Alice dengan bahagia. Dia melangkah keluar dari kamar mandi dan langsung menyiapkan mobilnya.
"Where are you going, Mom?" tanya Ren yang tengah menggambar di depan televisi.
"Ibu harus ke rumah sakit. Ren jaga toko ibu sebentar, ya," ucap Alice seraya mencium kening putranya itu.
Alice pun langsung menyeret Aiko ke rumah sakit. Padahal Aiko sebenarnya tidak mau karena itu membuatnya semakin bersedih.
"Apapun alasannya, this child is innocent," ucap Alice seraya menunjuk perut Aiko. Aiko pun menurut dan pergi ke rumah sakit bersama Alice.
Di sana mereka harus menunggu sebentar dan akhirnya nama mereka dipanggil. Dokter memeriksa Aiko dan memberi kabar baik.
"Selamat," ucapnya dan membuat Alice girang. Aiko hanya diam. Antara sedih dan senang.
"Everything will be alright," ucap Alice menyemangati Aiko. Aiko hanya tersenyum.
.
.
.
.
Keesokan harinya....
"Kehamilan anda sudah 3 bulan?! Apa anda tidak tahu sejak awal,"
Ucapan dari dokter tadi masih membekas di pikiran Aiko.
"Jadi, hal seperti ini terjadi juga? Kira-kira kalau Mika mendengarnya, apa yang akan terjadi?" gumam Aiko yang tengah merangkai sebuket bunga.
"Bibi, kamu mengikat bunganya terlalu banyak," ucap Ren yang tiba-tiba muncul dari belakang Aiko dengan segelas es batu yang ia bawa kemana-mana.
Seketika Aiko sadar bahwa dia malah merusak bunga tadi.
"Waaaa!! Maaf, bibi malah melamun," ujar Aiko membereskan bunga mawar yang tengah ia rangkai.
"Entah kenapa aku malah jadi sedih mengingat Mika," gumam Aiko dalam hati.
Tanpa sengaja duri bunga mawar menusuk jarinya.
"Akh!"
Darah terlihat keluar dari jari telunjuk Aiko.
"Bibi baik-baik saja?!" tanya Ren dengan khawatir, "Akan aku ambilkan kotak obat," lanjutnya setelah melihat jari Aiko tergores.
Tidak lama berselang Ren datang menghampiri Aiko dengan kotak obat yang ia bawa dengan hati-hati.
"Bibi harus berhati-hati kedepannya," ucap Ren dengan nada datar seperti biasanya. Dia mengambil plester dan menutup luka Aiko.
"Terima kasih. Ren benar-benar anak yang baik," ujar Aiko dan membuat wajah Ren memerah karena Aiko tersenyum sangat lembut.
"I-itu bukan masalah besar," gumam Ren mengalihkan pandangannya dari Aiko.
Aiko hanya tersenyum melihat anak laki-laki satu ini.
"Oh ya! Bagaimana jika anak bibi perempuan kamu menikah dengannya saja?" ujar Aiko dengan nada bercanda pada Ren.
"A-apa?? B-belum tentu anak bibi p-perempuan," jawab Ren terbata-bata dan membuat Aiko cekikikan melihatnya.
"Ta-tapi jika dia benar perempuan, a-akan aku pertimbangan," lanjut Ren dengan wajah tambah merah. Perkataan Ren membuat Aiko terkejut.
"Ahahahaha, kamu itu bisa saja," Aiko tertawa geli melihat wajah Ren merah layaknya tomat.
"What are you doing?" tanya Alice yang datang dengan membawa sebotol jus jeruk.
Aiko dan Ren menoleh bersamaan kemudian tertawa bersama dan membuat Alice bingung.
Alice pun berjalan menuju mereka berdua dan duduk di samping Aiko.
"Ren, dimana es batu yang kamu bawa tadi?" tanya Alice.
Ren langsung bingung dan mencari segelas es batu yang ia bawa tadi. Akhirnya dia menemukannya di samping pintu dan ternyata sudah mencair karena cuaca yang panas.
"Yah, sudah mencair," ucap Ren seraya memberikan gelas tadi pada ibunya.
"Dasar bocah nakal! Sudah ibu bilang taruh dulu di kulkas," Alice langsung mencubit kedua pipi putranya itu dan membuatnya menjadi merah.
"Ahaha, sudah hentikan. Akan aku ambil es batu yang baru," ujar Aiko seraya tertawa geli. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
"Apapun yang terjadi ini memang harus dilalui,"
•••
Hari berganti, dan musim terus berjalan. Kehamilan Aiko semakin membesar dan hari ini dia akan pergi ke rumah sakit untuk mengetahui jenis kelamin anaknya.
"Apa tidak apa aku ikut Bu?" tanya Ren yang duduk di kursi belakang mobil.
"Hah? Oh, tidak apa," jawab Alice cepat mengetahui apa yang anaknya maksud.
Selama ini Ren disembunyikan keberadaan karena dia bisa ditangkap oleh ayah Yuhi sebagai pengganti pewaris. Menjadi pewaris perusahaan kaya memanglah mimpi setiap orang, namun sebenarnya itu adalah neraka yang bisa mengancam pewaris itu sendiri.
Mulai dari ancaman pembunuhan dan disiksa oleh keluarga yang bersangkutan. Karena pewaris sama saja penghalang bagi mereka untuk meraup keuntungan. Yang ada di pikiran mereka hanyalah uang dan harta.
•••
Sesampainya di rumah sakit Aiko langsung menuju dokter karena entah kenapa rumah sakit sepi ketika pagi hari.
Aiko diperiksa sebentar dan beberapa saat kemudian hasilnya keluar.
"What?!!! Is it true?!!!" teriak Alice ketika melihat hasil dari pemeriksaan Aiko.
"I-iya. Walaupun tidak bisa dipercaya itulah hasilnya," jawab Aiko.
"Pantas saja perutmu lebih besar daripada ibu hamil biasanya. Ternyata anakmu kembar. Very surprising,"
Aiko tidak tahu harus seperti apa. Dia senang tapi rasanya mau menangis saja.
"Pertama kali hamil dan anakku kembar!! Tuhan, cobaan apa lagi yang kamu berikan padaku?!!"
Contract With You
Hmm, oh halo~
Lagi musim ulangan, jadi jaga kesehatan ya~