
Dorrrr.....
Satu peluru lepas dari tembakannya dan mengarah tepat ke punggung Mika. Namun sebelum sempat mengenainya dia lebih dulu menjepit peluru itu dengan jarinya. Dan sempurna. Peluru mendarat di antara jari telunjuk dan tengah. Tidak melukainya hanya sedikit meninggalkan bekas merah karena gesekan yang kuat.
Mika melihat wajah Yuki yang ketakutan kemudian beralih pada peluru yang dia tangkap, "Perset*n, seperti kalian itu tidak layak dianggap manusia. Dasar sampah!" lanjutnya seraya menghempasnya peluru itu ke lantai. Senyuman khas Mika yang sangat mengerikan keluar dan membuat keduanya merinding ketakutan.
Mika berjalan keluar, "Ah, aku lupa. Leo, panggil dokter untuk mengobati ayah mertua ku. Hahaha, lucu sekali," tawa hambar Mika mengisi ruangan dan hanya dibalas anggukan oleh Leo. Dia melanjutkan jalannya dengan tawa hambar mengiringi kepergiaannya.
°°°
Brak ....
Pintu ruang operasi dibuka dengan paksa. Memunculkan seorang dengan baju serba hitam dan mata merah menyala.
"Keluar atau akan ku bunuh kalian semua," ucap Mika dengan nada dingin membuat semua perawat yang mau memulai operasi ketakutan seraya berlarian keluar ruangan.
Pandangan Mika menyapu seluruh isi ruangan dan melihat Aiko yang terbaring lemas di salah satu ranjang pasien.
Mika langsung mengangkatnya untuk pergi dari rumah sakit. Namun saat hendak keluar dari ruangan itu dia dihadang oleh beberapa orang dengan senjata tajam di tangannya.
"Tsk... Apa yang kalian inginkan?" tanya Mika.
"Kami ingin kematian mu!" ucap salah satu dari mereka seraya mengayunkan pisau ke leher Mika. Namun sebelum itu terjadi dor....
Satu peluru menancap tepat di jantung orang tersebut. Ternyata Leo dan para pengawal Mika datang di waktu yang sangat tepat.
"Cepat urus mereka," suruh Mika dan dibalas dengan anggukkan Leo.
Sementara Mika membawa Aiko pulang.
•••••
Keesokan harinya
"Ummm," Aiko membuka matanya dan memegangi kepalanya yang sangat sakit. Efek obat bius kemarin masih sangat terasa. Dia bangun terduduk di kasur dan melihat Mika yang masih tidur di samping nya.
"Apa yang terjadi kemarin ya?" gumam Aiko dalam hati. Tanpa sadar tangannya menyentuh kepala Mika dan membuat Mika terbangun.
"Ini masih sangat pagi, tidurlah lagi," ucap Mika seraya mendekap tubuh Aiko agar tidur diperlukannya.
"Ugh, ini membuatku sesak," keluh Aiko. Dia mencoba lepas dari dekapan Mika.
"Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi," ucapan Mika membuat Aiko kaget. Pasalnya Mika mengatakan itu seraya menindih tubuh Aiko. Ingin melakukan itu.
"Tu-tu-tu-tunggu sebentar. Kamu tidak bersungguh-sungguh kan?"
"Maafkan aku," ucap Mika seraya menutup mata Aiko dan hendak mencium bibirnya. Namun sebelum itu terjadi.
"Mika! Bangun sekarang," teriak Ibunda seraya membuka paksa pintu kamar Mika dan Aiko. Jika diingat lagi, Ibunda memang berkunjung kemarin malam. Tapi karena ada kejadian yang menimpa Aiko jadi ia memutuskan untuk menginap.
Atmosfer membeku diantara mereka bertiga.
"Maaf, ibu akan keluar. Silahkan lanjutkan," ucap Ibunda seraya menutup pintu dengan wajah gembira.
"Hahh," Mika pun membatalkan niatnya dan bergegas bangkit dari kasur.
Apa yang mau dia lakukan tadi? Apa aku memang harus memuaskan suamiku sendiri? Tetapi, aku belum tahu. Perasaan apa yang dia simpan untukku.
Aiko meringkuk kan tubuhnya lagi di dalam selimut. Air mata mengalir tanpa sadar membuat nya sangat terpukul dengan pikirannya sendiri.
"Sudah pagi, loh. Kamu tidak mau bangun? Hmm," ucap Mika seraya menyibak selimut yang menutupi kepala Aiko dan mencium keningnya.
"Jangan sentuh aku!" Aiko menepis tangan Mika, "Maaf, aku ingin sendiri dulu," lanjutnya seraya membalikkan badan dan menutupi wajahnya dengan selimut.
"Aku akan turun lebih dulu," ucap Mika seraya keluar dari kamar dengan tatapan sedih.
Di meja makan
Meja bundar di ruang makan sudah terisi dengan beragam makanan. Dua kursi sudah diisi oleh Ibunda dan Mika.
Hening. Satu kaya yang dapat menjelaskan keadaan di meja makan.
"Aiko ada dimana?" tanya Ibunda memecah keheningan karena sedari tadi Mika diam saja.
"Sepertinya...dia sedikit tidak enak badan," jawab Mika dengan lesunya.
Ibundanya hanya mengangguk karena masalah Mika sudah bukan urusannya lagi.
Hari ini berlalu begitu cepat. Rumah menjadi sepi karena Ibunda dan Mika sudah pergi. Sejak pagi Aiko hanya duduk di kamar tanpa melakukan apapun. Sampai Mika pulang dari kantor di sore hari menjelang malam, Aiko masih berada di kamar. Bahkan membuat para pembantu di rumah cemas.
"Anu, Tuan. Sedari pagi nyonya tidak mau keluar kamar. Bahkan nyonya tidak makan," ucap seorang pembantu kepada Mika yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Mika tidak menjawab. Dia berjalan menuju kamarnya. Membuka pintu kamar dan melihat ke dalam. Aiko yang sedang duduk di atas kasur dengan tatapan kosong. Mika menghela napas kasar dan menghampiri Aiko. Dia duduk di sebelah Aiko. Awalnya semuanya diam sebelum Aiko membuka pembicaraan.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Aiko dengan nada lesu.
"Kalau ingin bertanya tanyakan saja,"
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Aiko dan membuat Mika terkejut. Dia baru menyadari apa yang sebenarnya ada di hati Aiko. Aiko tidak membutuhkan yang namanya uang ataupun harta yang dimiliki Mika. Selama ini dia memaksakan diri untuk tetap di sisi Mika karena ibunya. Tetapi saat dia dibuang oleh ibunya, apa yang dia dapatkan sekarang? Apakah hanya istri palsu agar Mika tidak dijodohkan? Cinta yang diberikan Mika diterima di tempat yang salah di hati Aiko.
"Tentu saja aku mencintaimu. Kamu kan istriku," jawab Mika. Tetapi jawabannya salah di hati Aiko.
"Jadi jika aku bukan istrimu, kamu tidak akan mencintaiku, ya,"
Mika hendak menjawab.
"Tidak usah dijawab lagi. Sekarang aku tahu. Aku hanya bersamamu karena aku sekarang sudah tidak punya tempat untuk kembali," ucap Aiko. Sekali lagi Mika akan menjawab namun...
"Aku mau turun dan makan. Bagaimana jika kita makan bersama?" ujar Aiko seraya turun dari kasurnya dan mengalihkan pembicaraan.
Mika yang sudah tidak tahu mau mengatakan apa. Menuruti Aiko. Namun dia bertekad akan mengatakan yang sebenarnya ada di hatinya.
Akhirnya mereka pun makan malam bersama tanpa mengungkit masalah yang tadi. Seakan tidak ada yang terjadi.
Berhari-hari berlalu tanpa ada masalah lagi. Aiko dan Mika menjalani hari-hari seperti biasa lagi. Namun kebahagiaan mereka hanya sesaat. Mereka masih belum tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
•••• Siap-siap ya~~ Karena badai akan datang menerjang ;)•••••
Di bandara. Sebuah mobil mewah sudah terparkir di depan pintu masuk dan sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian seorang perempuan cantik berjalan dengan elegan dan memasuki mobil tersebut. Dia melepas kacamata hitamnya, menyibak rambut panjangnya, dan menyeringai dengan bibir semerah darah.
"Sekarang kita pergi kemana nona?" tanya seorang sopir kepadanya.
"Sekarang kita pergi ke rumah Mika," jawabnya dengan wajah penuh semangat karena dia akan bertemu dengan kekasih masa kecilnya.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil
(Tes tes, oke hari ini Author nya lagi capek karena dia lupa harus update. Alhasil dia gercep ngetik ini sampe jarinya pegel. Jadi hari ini aku yang gantiin ya~~
Ini ceritanya dah hampir ke konflik utama yang bakal bikin kesel banget kata si Author sih. Aku mah gak tau. Karena aku gak boleh spoiler kata Author nya nanti aku di pecat.
Kalian yang baca jangan lupa like rate sama favorit ya~~
Oh ya hampir lupa. Kalo ada salah ketik mohon di maklumi ya)