Contract With You

Contract With You
Bab 10



Beberapa hari setelahnya


Pagi hari yang lumayan cerah. Tidak seperti biasanya yang sering turun hujan. Apa karena musim gugur? Ah, mungkin saja. Aiko sedang duduk melihat pohon yang gugur di balik jendela kaca yang sangat besar di ruang tengah. Dia duduk dilantai ditemani oleh Mika yang duduk di kursi.


"Apa yang kamu lihat?"


Aiko hampir lupa bahwa dia tidak sendirian melainkan ada Mika di sampingnya. Hampir setengah jam dia tidak mengajaknya bicara karena lupa. Bukan lupa, tapi dia tidak mau menggangu Mika yang sedang sibuk dengan laptopnya. Yah, dia sibuk tapi tidak ke kantor. Entah apa yang dia pikirkan.


"Tidak ada," jawab Aiko singkat.


Drrrttt...drrrrrtt...drrrrt...


Ponsel Aiko berbunyi. Seseorang menelponnya.


"Halo halo halo," terdengar suara seorang gadis dari seberang.


"Mia. Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Aiko beruntun. Mia adalah teman Aiko. Bukan teman sih awalnya. Sebenarnya Mia adalah tetangga Aiko. Karena dia hidup sendirian, jadi Aiko sering menemaninya. Ibu gadis itu meninggal dan ayahnya pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kerjanya. Namun, sekarang menghilang tanpa kabar.


"Apa kamu ada waktu? Aku ingin bertemu denganmu,"


"Pas sekali aku sedang ingin keluar. Bagaimana jika di tempat biasa kita dulu,"


Mika menoleh ke arah Aiko yang sedang senyam senyum dengan temannya di telepon.


"Aku akan ke sana sekarang. Jangan terlalu lama ya, aku tidak mau menunggumu,"


Bip...bip...


Aiko menutup telepon nya dan bergegas ke kamar untuk bersiap-siap. Mika melihat Aiko dengan bingung.


Beberapa saat kemudian Aiko keluar dari kamar. Dia mengganti baju nya dan mengepang rambutnya. Membawa tas kecil untuk menaruh ponsel.


"Mau pergi kemana?" tanya Mika ketika Aiko hendak melewatinya.


"Aku ada janji dengan teman. Bolehkan aku keluar sebentar? Hanya minum di cafe mall," ucap Aiko. Dia sebenarnya takut untuk meminta izin dari Mika. Toh, selama ini selain keluar bersama, Aiko selalu dikurung dalam rumah.


"Hahh," Mika menghela napas, "Bawa ini. Pakai saja sesukamu," Mika melempar sesuatu ke arah Aiko. Aiko menangkapnya dan ternyata itu adalah kartu kredit titanium.


"Yang benar saja. Aku hanya ingin pergi ke cafe, bukan mau membeli mall itu," gumam Aiko dalam hati.


"A-nu, aku boleh memakai ini?" tanya Aiko khawatir. Tentu saja ada rasa sedikit takut di benak Aiko.


"Pakai saja sesukamu. Beli apapun yang kamu sukai. Jika tidak kamu pakai sepeser pun, aku tidak akan pernah memperbolehkan mu keluar lagi," ucap Mika dingin tapi dengan nada bercanda membuat Aiko susah payah menelan ludah nya. Mika tersenyum setelah melihat Aiko. Dia berjalan ke arah Aiko dan mengecup keningnya. Sesaat Aiko mematung.


"Jangan pulang terlalu larut. Ibunda bilang dia akan berkunjung kemari," pesan Mika.


Aiko hanya mengangguk dan menyimpan kartu kredit itu dalam tasnya.


Tin...tin...


"Pergilah, Leo akan mengantarmu," ucap Mika. Dia mengantar Aiko sampai depan rumah. Leo sudah menunggu dengan mobil yang sudah disiapkan.


"Aku pergi dulu," ucap Aiko seraya melambaikan tangannya ke arah Mika kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil melaju dengan cepat dan perlahan menghilang dari pandangan Mika.


°°°


Di dalam mobil yang sedang melaju. Aiko melihat jalanan kota yang dipenuhi banyak daun-daun gugur. Bahkan hembusan angin dingin sampai menusuk tulang. Hening. Satu kata yang dapat menjelaskan keadaan di dalam mobil itu. Leo yang sedang fokus menyetir dan Aiko yang diam seraya melihat pemandangan.


"Nyonya, kita akan pergi kemana?" tanya Leo memecah keheningan tadi. Aiko yang sedang berfokus ke arah luar langsung menoleh ke arah Leo yang sedang menyetir.


"Tolong antar kan aku ke mall pusat kota," jawab Aiko seraya tersenyum.


"Apa perlu saya menunggu anda di sana?"


"Tidak perlu. Sepertinya aku akan lama disana,"


Setelah percakapan singkat itu tidak ada yang bersuara lagi. Hening dan tenang. Dan akhirnya sampai di tempat tujuan.


Mobil berhenti tepat di depan mall besar. Sangat besar dan banyak sekali orang yang sedang lalu lalang entah kemana tujuan mereka. Leo keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Aiko.


"Terima kasih. Sepertinya aku akan merepotkan mu," jawab Aiko seraya tersenyum ke arah Leo.


"Itu memang tugas saya,"


Setelah menutup pintu mobil kembali Leo masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil pergi meninggalkan Aiko.


Aiko pun masuk ke dalam mall kemudian mencari sahabat yang sedang menunggunya di cafe.


Sesampainya di cafe


"Aiko kemari aku disini," seseorang melambaikan tangan ke arah Aiko. Tidak salah lagi dia sahabat Aiko. Mia.


Aiko pun langsung menghampiri temannya itu.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Aiko. Dia pun duduk di bangku yang sudah di sediakan.


"Kamu sangat lama. Aku sampai berlumut duduk disini," jawab Mia dengan nada bercanda. Aiko pun membalasnya dengan senyum iringi sedikit tawa.


"Aku melihatmu diantar oleh lelaki tampan. Siapa dia? Apa dia pacar mu? Harusnya kamu kenalkan padaku," tanya beruntun Mia membuat kepala Aiko berputar-putar. Yah, dia memang sangat cerewet dan agak menyebalkan. Tetapi dia tipe sahabat sejati yang tidak akan mengkhianati siapapun.


"Jika dipikir lagi, sepertinya aku belum memberitahu siapapun tentang pernikahan ku. Apa harus aku beri tahu Mia bahwa aku menikah dengan seorang Presdir?" lamun Aiko dalam hati.


"Permisi nona, pesanan anda sudah siap," seorang pelayan membawa dua gelas minuman membuyarkan lamunan Aiko.


Dua gelas capuccino hangat sekarang berada di depan mereka berdua. Mia langsung menyeruput cappucino tersebut karena dia sedari tadi memang kedinginan.


"Jadi, apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini sampai tidak ikut kuliah?" tanya Mia dengan nada menyelidik.


"Ahahahaha iya...," tawa hambar Aiko membuat Mia semakin penasaran.


"Jangan tertawa! Kamu membuatku tambah penasaran. Memang nya apa yang terjadi, sih? Saat aku pergi ke rumahmu malah aku diomeli oleh adik sia*an mu itu," gerutu Mia.


"Yah, sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu,"


Mata Mia langsung menatap Aiko dengan penasaran.


"Aku sudah menikah," ucap Aiko ragu dan membuat Mia tersedak minuman yang sedang ia minum.


"Uhuk uhuk, yang benar saja. Siapa yang mengajakmu menikah? Jangan-jangan kamu menjadi simpanan para direktur jelek?" tanya beruntun Mia seraya mengelap mulutnya dengan lengan bajunya yang panjang.


"Apa sih yang ada di pikiranmu? Tentu saja aku menikah dengan seseorang yang tidak atau mungkin belum aku cintai," jawab Aiko seraya menunduk.


"Apa maksudmu?"


Akhirnya Aiko menceritakan semua pada Mia sampai membuat Mia melongo mendengarnya. Mulai dari masalah ibunya yang sakit dirumah sakit dan terpaksa menikah dengan Mika. Dan adiknya Yuki yang memengaruhi ibunya agar membenci Aiko sampai akhirnya Aiko diusir.


"JADI KAMU MENIKAH DENGAN DENGAN PRESDIR MIKA YANG SANGAT KAYA ITU!" teriak Mia tiba-tiba dan membuat Aiko harus menutup mulutnya agar tidak kedengaran oleh orang lain. Untung saja kondisi cafe sedang sepi dan mereka memilih kursi yang berada di pojok jadi tidak ada yang mendengarnya.


"Aku tidak tahu kenapa jadi begini,"


"Kamu beruntung sekali. Dia mencintaimu dan pasti memberi apapun yang kamu inginkan," iri Mia seraya meneguk habis minumannya.


"Aku pikir pasti seper-," ucapan Aiko terpotong karena seseorang mengebrak meja mereka. Aiko pun menoleh ke arah orang tersebut.


"Anak sialan! Apa yang kamu lakukan di sini?"


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil


Yang UwU UwU ayo kumpul di sini. Jangan lupa komen, like, sama ratingnya ya~~ Author tunggu sampe tua pokoknya haha~


(Thor gak bisa diem bentar ya) ←lu lagi kenapa disini pulang sana.


(Ye elah dah mampir malah suruh pergi)


-_-