
"Dia itu...Aiko?"
Dari balik kaca Mika melihat Aiko yang terbaring dengan banyak sekali alat yang menempel pada tubuhnya.
Mika mengepalkan tangannya, "Kenapa aku kemari?" Mika berbalik dan berjalan pergi. Entah kenapa kebencian menyelimuti nya.
"Ck, kenapa aku mengkhawatirkan seorang jal*ng sepertinya?"
Mika berjalan pergi seraya membodohi tindakan nya. Entah kenapa tadi Mika seperti tersihir dan langsung saja kemari tanpa berpikir panjang.
...
Esoknya...
Tumpukan dokumen senantiasa menghiasi meja kerja Mika di kantor. Mika terlihat sangat serius dengan laptopnya.
"Sayang, bagaimana jika kita pergi jalan-jalan? Dari tadi kamu sibuk dengan pekerjaan," ujar Stella seraya melingkarkan tangannya di leher Mika.
"Aku sedang sibuk," jawab Mika tanpa mengubah ekspresi nya sama sekali.
"Ckckck, sikap Mika padaku sekarang mulai berubah,"
•••
"Hoaammmm... Aku butuh kopi," gumam Yuhi yang duduk sendirian di dalam ruangannya. Tangannya masih saja tidak berhenti membuat tulisan di atas kertas walaupun matanya berair karena mengantuk.
"Oh, halo. Sudah satu bulan sejak aku turun tangan merawat Aiko. Dan dia sudah sadar,"
Yuhi bergumam dalam hatinya serasa melangkah pergi meninggalkan ruangnya. Beberapa lembar kertas ia bawa dengan tangan yang seputih salju.
Setelah berjalan cukup lama, Yuhi berhenti di depan pintu yang di dalamnya ada seorang pasien.
Klak...
Yuhi membuka pintu dan menyapu seluruh pandangannya ke dalam ruangan tersebut. Seorang pasien yang tengah berbincang dengan gadis itu mengalihkan pandangan nya pada Yuhi serasa tersenyum.
"Apa pekerjaan belum selesai?" tanya nya dengan nada lembut.
"Aku datang kemari untuk memberimu ini," Yuhi memberikan lembaran kertas yang ia bawa tadi pada Aiko.
Aiko hanya membacanya sekilas, "Aku ingin bertemu Mika," ucap Aiko seraya tersenyum. Tidak, dia tidak tersenyum. Dia hanya menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Mengatakan memang mudah, tetapi semua itu akan sia-sia. Kamu pikir apa yang selama ini dia lakukan selama kamu tidak ada? Lebih baik kamu turuti aku dan segera pergi ke Inggris saja. Stella tidak akan tinggal diam jika tahu kamu masih hidup," ujar Yuhi seraya melangkah pergi.
Aiko hanya menunduk diam tanpa sepatah katapun.
"Aku pikir yang dikatakan Yuhi ada benarnya," ucap Mia yang sedari tadi duduk diam di samping Aiko.
Aiko diam saja tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Mia.
"Aku, agar pergi,"
•
•
•
"Aku harus pulang. Katanya Minggu depan kamu sudah boleh pulang kan?" ucap Mia yang berdiri di depan pintu hendak keluar.
"Iya," jawab Aiko singkat seraya tersenyum.
"Jika sudah keluar dari rumah sakit kamu tinggal saja denganku. Aku pulang, ya. Bye," ujar Mia melambaikan tangannya seraya melangkah pergi meninggalkan Aiko karena memang sudah malam.
Kini Aiko sendirian. Entah kenapa jadi hampa dan kosong begini.
"Aku sudah memutuskannya," ucap Aiko mantap. Dia turun dari ranjangnya dan mencabut infusnya.
Tubuh Aiko sudah mulai membaik walaupun dia agak sulit berjalan karena terlalu lama terbaring di ranjang.
Aiko langsung bergegas pergi setelah selesai mengganti bajunya. Untung saja Mia membawa baju ganti Aiko saat itu.
"Maaf aku keras kepala,"
Sesegera mungkin Aiko langsung pergi dari rumah sakit tanpa diketahui siapapun. Tapi siapa sangka, ternyata dari arah belakang seseorang melihat Aiko pergi dari ruang rawatnya.
"Ckckck, aku tidak tahu jalan pikiran gadis itu," ucapnya dengan rambut yang diterpa oleh angin malam. Mata merahnya menyala di tengah kegelapan malam.
•••
Aiko menaiki taksi dan menuju vila yang ia dan Mika gunakan saat itu. Harapan? Di tengah-tengah keadaan ini masih menanti harapan? Jangan bercanda. Aiko hanya menguji nasib.
Tidak lama berselang Aiko sampai di depan rumah tersebut. Mobil Mika ada di sana. Berarti Mika masih tinggal di sini.
Aiko sebenarnya ragu kemari. Tetapi rasa penasaran menuntunnya agar ia kemari dan bertanya secara langsung.
Ting...tong...
Kriiiiieeetttt....
Pintu terbuka dan memunculkan seorang lelaki dengan mata merah serta rambut yang berantakan. Wajah yang sangat Aiko cari-cari selama ini.
"Mika..," ucap Aiko bahagia. Sebab seseorang yang selama ini menjadi cahaya baginya tepat ada di hadapannya.
"Kamu, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Mika dengan dingin.
Deg ..
Entah kenapa pupil Aiko gemetaran mendengar apa yang dikatakan oleh Mika. Bibirnya tidak bisa bergerak serta air mata yang sedari tadi ia tahan hendak banjir keluar.
"Mika, siapa yang ada di luar?" tanya seorang perempuan yang tiba-tiba datang dan merangkul Mika dari belakang.
Aiko terkejut melihat siapa yang ia lihat. Baju minim yang ia kenakan hampir membuat buah dadanya keluar.
"Ada seorang gadis yang kemari entah apa tujuannya," jawab Mika melembutkan nada bicaranya pada Stella.
Stella memandang Aiko sekilas kemudian dia tersenyum licik dan membuat Aiko tidak tahan lagi melihatnya.
"Ahhh, aku baru ingat! Dia pembantu yang akan bekerja untuk kita," ucap Stella dengan nada menghina pada Aiko.
"Ohh, kenapa datangnya ma-,"
"Mika! Kenapa kamu tidak mengingatku! Tidak mungkin bukan kamu melupakan semua yang sudah kita lakukan!" bentak Aiko memotong ucapan Mika. Bulir beningnya benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi.
Mika sempat merasakan sesuatu ketika melihat mata berlian Aiko yang terkena air mata.
Namun dalam dirinya masih saja belum boleh percaya begitu saja.
"Cih, berani-beraninya perempuan rendahan sepertimu berteriak di depanku," jawab Mika dengan marah.
"Sudahlah. Usir saja dia pergi," ajak Stella seraya memeluk tangan Mika.
"Jangan pernah datang kemari lagi!"
Brakk....
Mika menutup pintu dengan kasar dan meninggalkan Aiko di luar sendirian.
Tangan Aiko gemetaran dengan bulir bening yang sudah banjir sampai membasahi seluruh pipinya.
Dia berjalan pergi di tengah derasnya salju yang turun. Hatinya membeku lagi seperti dulu. Di manakah cahaya yang selama ini menyinari jalannya?
Dingin, rasanya satu persatu langkah kakinya itu membuat tubuhnya semakin beku. Di tengah ia berjalan tiba-tiba seseorang memayungi dirinya.
Dengan cepat Aiko menoleh ke arah belakang.
"Nyonya. Mohon jaga diri anda," ucapnya dengan lembut seraya tersenyum.
"Leo," Aiko langsung melangkah ke arah Leo dan memeluknya. Dia sangat ingin menangis di dalam pelukan seseorang. Siapapun itu.
•
•
•
•
8 Tahun Kemudian...
"Pulang dari Inggris rasanya tidak rela,"
Rambut pirang yang tertiup angin itu sangat indah. Dress biru langit dihiasi dengan blazer putih membuat dia seperti putri dari negeri dongeng yang hendak menemui pangerannya.
"Ibu, apa kita akan bertemu ayah?"
"Ayah? Ayah kalian bahkan tidak tahu kalian lahir. Mungkin saja dia sudah mati, haha,"
°°°
Yey, Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil memasuki Season 2 dengan judul baru. "CONTRACT WITH YOU" (buat alesan judulnya diganti tanyain aja di QnA, buat yang penasaran)
Ketambahan si kembar ya gedd, Reyko dan Keyko. Btw, maap Minggu kemarin gak update, ada acara di rumah hehe.
Ah, berhubung memasuki season baru, jadi Hiatus sementara (please jangan marah mau bikin novel atu lagi soalnya)
SAMPAI KETEMU 4 DESEMBER, bye....
Bye bye kiss.... Salam sayang dari Author tercinta kalian...
Yang mau follow Instagram Author @shironekoo09, ya...