
Sudah tidak ada yang tersisa dari diriku. Tubuhku sakit. Kenapa aku diam saja tadi? Mungkin karena aku......bodoh.
Di tengah kerumunan ini, aku hanya merasa bahwa diriku tidak berguna. Tapi...pada saat terakhir, aku mendengar suara seseorang.
••
"Ukhhhh..,"
Aiko membuka matanya dan melihat sekeliling.
"Tunggu sebentar. Aku tidak bisa melihat!" teriak Aiko tiba-tiba dan membuat seseorang membuka pintu dengan cepat.
"Nyonya Aiha! Anda sudah sadar?" ucap seorang lelaki yang masuk terburu-buru dan langsung membuka perban yang menutup mata Aiko. Meskipun agak samar Aiko melihat dengan jelas sosok yang ada di depannya. Seorang lelaki dengan kacamata dan baju dokter. Dia sedikit pendek, tidak bukan pendek lagi tapi sangat pendek, bahkan seperti anak berusia 10 tahun. Rambutnya hitam pekat dengan mata merah bulat seperti bola mata Mika. Namanya Yuhi. Teman masa kecil Mika dan Leo. Sedikit informasi tentang mereka. Mereka bertiga adalah teman semasa kecil dan mereka menganggap sebagai saudara sendiri.
"Dia imut sekali...." gumam Aiko dalam hati dan seperti ada bunga-bunga berterbangan di sebelahnya.
"Goresannya tidak terlalu parah, namun sepertinya ada sayatan sedikit di pipimu. Apa ada yang menamparmu?" tanya Yuhi. Namun Aiko masih diam melihat Yuhi yang imut di depannya.
"Nyonya? Seperti nya anda belum pulih. Atau harus aku panggil suamimu kemari?" tanyanya lagi. Dia melambai-lambaikan tangannya di depan Aiko.
"Ah!? Maaf kan aku. Aku melamun. Baiklah, panggil Mika kemari, dan kenapa kamu memanggilku Nyonya Aiha tadi?" Aiko malah balik bertanya.
"Hoy, Mika kemarilah! Istrimu sudah sadar!" teriak Yuhi.
Mika yang sedari tadi duduk di luar bergegas masuk dan menghampiri Aiko. Dia langsung duduk di sebelah Aiko.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Mika.
"Tidak apa-apa," jawab Aiko yang sudah di balut banyak perban di tubuhnya.
"Mika, aku keluar. Ada beberapa obat yang harus aku ambil di ruangan lain. Jaga istrimu atau akan aku nikahi nanti," ledek Yuhi seraya melangkah pergi meninggalkan Aiko dan Mika.
Seketika hening atau kehabisan kata-kata.
"Jadi, apa yang terjadi sampai kamu seperti ini?" tanya Mika tiba-tiba dan membuat Aiko terkejut karena melihat wajah Mika yang suram.
"Itu Mika, jangan marah, aku hanya...."
Mika berdiri dan memeluk erat Aiko.
"Apa kamu tahu, aku sangat marah. Sampai aku tidak bisa tersenyum padamu. Jangan memasang wajah seperti itu, kamu dianiaya oleh orang lain. Tapi, kenapa kamu masih bisa tersenyum?! Aku bahkan bisa membuat ucapan yang mereka katakan menjadi wasiat terakhir mereka," teriak Mika pada Aiko.
"Mika, aku tidak merasa begitu, kok. Aku rasa, mereka hanya ingin meluapkan perasaan mereka. Tidak ada yang tahu apa yang ada di hati orang lain. Bahkan sekarang, aku tidak tahu apa yang ada di hatimu,"
Mika melepas pelukannya dan melihat Aiko yang tersenyum di depannya. Ia mengangkat tangannya pelan dan memegang pipi Aiko. Dia mendekatkan wajahnya dan hendak mencium bibir Aiko.
"Ehh?"
Deg deg deg deg
Aiko yang terkejut langsung menutup bibir Mika yang hendak menciumnya.
"Kenapa kamu menghindar?"
Mika kembali duduk di kursi seperti semula dan menatap Aiko dengan wajah yang terlihat merona.
"A-nu, itu terlalu cepat untukku,"
Jantungku berdegup sangat kencang....
Aiko memalingkan wajahnya dan membuat Mika tertawa kecil.
"Hanya bercanda. Ah, aku ingin mengajak dirimu menjenguk ibumu,"
"Baiklah,"
"Sudah selesai berbincang nya?"
Yuhi yang bersandar di pintu mengagetkan Mika dan Aiko yang sedang berbincang.
"Cepat menikah sana," ledek Mika.
"Diamlah. Ambil ini dan berikan pada istrimu,"
Yuhi memberikan sekantung obat pada Mika. Aiko melihat Yuhi dengan seksama dan sedikit tertawa. Itu membuat Yuhi melirik tajam ke arah Aiko.
"Berhenti melihat istriku, bodoh," Mika berdiri dan menepuk kepala Yuhi yang terasa sangat pendek baginya.
"Lepaskan aku!"
"Tutup mulutmu Presdir bodoh!"
Melihat hal tersebut Aiko tertawa kecil. Mika berjalan mendekat ke arah Aiko. Dia menggendongnya di depan karena kaki Aiko terluka.
"Kita akan pergi kemana?" tanya Aiko pelan.
"Menjenguk Ibumu," jawab Mika. Seketika Aiko tersenyum senang.
"Cih. Mika harusnya kamu memberitahu sesuatu pada istrimu kan?"
Yuhi duduk di kursi kerjanya dan menyandarkan tubuhnya seraya memijit pelan dahinya yang terasa agak pening. Mendengar hal yang dikatakan Yuhi Mika hanya terdiam.
"Itu bukan urusanmu, bocah,"
Sorot mata merah Mika serasa terpancar ke arah mata Yuhi dan membuatnya menoleh ke arah Mika.
"Ckckck, hanya bercanda. Jangan lupa lain kali jika mengunjungi bawakan aku oleh-oleh," Yuhi melambaikan pada Mika yang berjalan keluar dari ruangannya dengan menggendong Aiko. Dia melangkah ke arah jendela dan melihat Mika dan Aiko memasuki mobil dan perlahan menjauh dari klinik milik Yuhi.
"Aiha Mika. Nama yang cocok dengan sosok yang mengerikan seperti pedang bermata dua haha. Keren bukan,"
Yuhi tertawa kecil. Dia melihat ke arah keluar dan mengintip burung yang sedang berkicau di atas pohon. Sorot mata merah yang sama seperti Mika dan rambut hitam yang berantakan serta baju putihnya yang bersih tanpa noda. Yuhi, seorang lelaki pendek dan terlihat seperti anak kecil walaupun umurnya sama dengan Mika dia masih seperti bocah yang tidak tahu pedihnya dunia.
°°
Di perjalanan menuju rumah sakit tempat Ibu Aiko berada
Aiko melirik ke arah Mika yang sedari tadi diam dan memasang wajah masamnya. Aiko mencoba mencari topik obrolan.
"Mika, kenapa kamu tidak mengatakan padaku bahwa kamu memiliki marga? Apa kamu mencoba menyembunyikannya padaku?"
Mika melirik ke arah Aiko yang terlihat menunggu jawaban darinya.
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya padamu. Hanya saja, aku tidak sering memakai marga itu. Jika kamu mau, bagaimana jika kamu menjadi nyonya Aiha seperti yang dikatakan Yuhi tadi," Mika tersenyum kecil dan kembali fokus menyetir. Walaupun jawaban itu tidak terlalu membuat Aiko puas, tapi dia sudah senang melihat Mika tersenyum lagi padanya.
"Tapi, Yuhi masih kecil kenapa dia menjadi seorang dokter?" tanya Aiko.
"Jangan tertipu dengan tampilan manisnya itu, dia seumuran denganku," jawab Mika.
"Benarkah?! Tapi itu tidak mengherankan, dia sangat pintar,"
°°
Di rumah sakit tempat Ibu Aiko berada
Mobil berhenti. Mika dan Aiko keluar dan langsung menuju kamar Ibu Aiko.
Di sebuah kamar khusus yang disiapkan oleh pihak rumah sakit untuk menangani penyakit Ibu Aiko. Aiko yang sudah sampai di sana mengintip lewat jendela dan melihat ibunya sudah sadar dan ditemani oleh perawat.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Mika.
Namun tidak ada jawaban. Aiko mengepalkan tangannya seraya melihat ibunya yang ada di dalam.
"Mika, bisakah kamu tunggu di luar saja?"
Aiko berbalik ke arah Mika dan mencoba memohon padanya.
"Terserah padamu. Tapi, kenapa aku tidak boleh masuk?"
"Ibu pasti akan tidak suka jika aku membawa seorang laki-laki padanya," jawab Aiko terpaksa.
Mika menghembuskan napas sejenak.
"Kumohon Mika, akan aku coba jelaskan pada ibu,"
"Masuklah, akan aku tunggu di sini,"
Mika tersenyum.
"Terima kasih," Aiko sangat senang dan langsung masuk ke dalam ruangan dan menemui ibunya.
Mika mengintip ke dalam melewati celah pintu yang terbuka dan melihat Aiko sedang mengobrol dengan Ibunya.
"Maaf, anda siapa ya?"
Tiba-tiba di belakang Mika berdiri seorang gadis.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil