
Yuhi yang masih meringkuk memejamkan matanya. Sekelebat bayangan masa lalu membuat bulir bening nya mengalir lagi. Di tengah tangisan tersebut, dia terlelap dan melupakan segalanya. Namun, apa daya. Mimpi buruk malah menyerangnya.
Yuhi..
"Sejak lahir, masa depanku sudah ditentukan. Mau jadi apa aku nanti. Pelajaran apa yang akan aku terima. Perempuan mana yang akan jadi pendampingku.
Semuanya sudah disusun rapi dan membuatku tidak bisa pergi dari kekang keluarga. Aku pewaris satu-satu dari perusahan terbesar di Inggris. Masa kecil ku juga tidak terlalu meninggalkan bekas menyenangkan. Sebagian besar malah membosankan,"
"Tetapi, setelah beranjak dewasa. Ada yang aneh dengan tubuhku. Badanku sama sekali tidak sesuai dengan umur ku. Seakan waktu berhenti dan membuat tubuh ku tidak mau membesar. Cemoohan serta ejekan selalu mengisi telingaku ketika di rumah bahkan di perusahaan.
Dan semuanya berakhir ketika aku bertemu dengannya. Dia Alice. Gadis yang menjadi ibu dari anakku saat ini.
Menikah dengannya sama saja mengundang perang antara aku dan ayah. Akhirnya aku memutuskan untuk beralih menjadi dokter daripada meneruskan perusahaan ayah.
Tetapi hal yang tidak terduga malah jadi seperti ini. Stella keparat itu. Seharusnya dia tidak akan nekat seperti ini. Jika yang ada di foto itu benar. Maka aku akan hancur,"
•••
"Nyonya, apa anda benar-benar tidak mau bangun?" bibi Liya berdiri di sebelah Aiko yang masih merebahkan diri di atas kasur. Ia menyelimuti dirinya dengan selimut dari kepala sampai kaki.
"Aku tidak mau bangun," jawab Aiko pelan.
"Baiklah. Jika anda ingin sarapan, anda bisa turun ke bawah," ucap Bibi Liya seraya menutup pintu kamar dan meninggalkan Aiko di dalam.
Setelah Bibi Liya keluar, Aiko menyibak selimutnya. Dia turun dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Aiko turun ke ruang makan dengan langkah pelan. Badannya sangat sakit dan berat dibawa berjalan. Rasanya dia mau tiduran saja seharian penuh.
Aiko masuk ke dalam ruang makan dan hanya melihat Mika yang tengah membaca koran dengan secangkir kopi di tangannya.
Melihat wajah Mika Aiko jadi mengingat mozaik mozaik yang tidak bisa dideskripsikan di pikirannya. Rasanya dia ingin masuk ke dalam lubang dan mulai hidup di sana mulai sekarang.
"Kenapa tidak duduk? Kemarilah,"
Mendengar apa yang dikatakan Mika, Aiko langsung berjalan ke arahnya. Mika tersenyum tipis dan memangku Aiko di pahanya.
"Hentikan. Ini memalukan," ucap Aiko mencoba turun dari pangkuan Mika. Namun Mika malah memeluknya dan Aiko sama sekali tidak bisa bergerak.
"Bibi Liya bilang badanmu sakit?" tanya Mika seraya menyuapi Aiko sarapan.
"Iya. Bukankah ini semua gara-gara kamu," kesal Aiko dan membuat Mika tertawa hambar.
"Habisnya kamu sangat enak," ujar Mika dengan nada nakal dan membuat Aiko semakin marah.
"Sudah makan saja yang banyak dan jangan banyak bicara," Aiko menyumpal mulut Mika dengan roti agak mulutnya diam.
Aiko duduk di kursinya dan memakan sarapan yang sudah disediakan di atas meja.
Selesai sarapan~
Aiko duduk di sofa dekat jendela besar seraya terkantuk-kantuk. Sesekali dia menguap dan membuat matanya jadi memerah.
"Aiko, aku harus pergi ke Inggris untuk urusan bisnis," pamit Mika yang tengah memasang syalnya.
Aiko terkejut karena dia hampir tertidur tadi, "Haruskan mendadak seperti ini?" Aiko bangkit dari duduknya dan menghampiri Mika.
"Maaf, kamu pasti sedih. Aku akan pulang setelah dua Minggu di sana," ucap Mika seraya mengecup pipi Aiko.
"Hati-hati di sana," Aiko tersenyum ketika Mika pergi keluar rumah.
Untung cuaca hari ini sudah stabil. Jadi penerbangan tidak terganggu. Pikiran Aiko penuh dengan sisi positif agak tidak membebaninya.
Aiko mengucapkan salam perpisahan dan kemudian mobil Mika melaju menuju bandara. Sedih, sepi, dan perasaan campur aduk mengisi hati Aiko.
"Tuan, sepertinya Stella benar-benar nekat kali ini," ujar Leo yang tengah menyetir mobil Mika.
"Hahh, kamu benar. Kali ini dia menggunakan Yuhi untuk rencananya," Mika menoleh ke arah luar. Hawa dingin yang menusuk tulang masih terbang terbawa angin.
"Perasaanku tidak enak," Leo mengernyitkan keningnya.
"Lindungi aku Tuhan," Yuhi yang tengah mengerjakan dokumennya ikut merasakan sesuatu yang mengganjal dan langsung berdoa agar sesuatu yang buruk tidak terjadi.
Pranggg...
Gelas berisi teh yang sedang di bawa Aiko jatuh dan pecahannya berserakan di mana-mana.
"Aduhh, aku ceroboh sekali," gumam Aiko seraya mengambil satu persatu pecahan gelas di lantai. Namun tiba-tiba salah satu pecahan tersebut mengiris jari Aiko dan membuatnya berdarah.
"Nyonya, anda harusnya berhati-hati," Bibi Liya yang melihat hal tersebut langsung mengobati jari Aiko yang terluka.
"Perasaan ku agak buruk. Semoga tidak terjadi apa-apa," gumam Aiko dalam hati seraya menatap kosong ke arah jarinya.
°°°
Dua Minggu berlalu begitu saja. Bagi kita rasanya sangat cepat, namun lain hal nya Aiko yang menunggu kepulangan seseorang. Harapan yang ditunggu hancur begitu saja ketika tahu Mika tidak bisa pulang sekarang.
Dia harus berada di sana entah sampai kapan karena cuaca buruk.
"Hahhh," Aiko menghela napas panjang.
"Ini sudah kesebelas kalinya kamu menghela napas. Sebenarnya apa sih yang sedang kamu pikirkan?" tanya Mia yang sedari tadi duduk bersama Aiko di ruang tamu.
"Entah kenapa aku jadi mudah bosan," jawab Aiko dengan mata sayu.
"Ha? Jangan bilang suamimu belum pulang," tebakan Mia tepat sasaran dan membuat mata berlian biru Aiko membulat.
Melihat Aiko diam saja Mia jadi tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya satu ini. Di tengah keheningan mereka berdua, tiba-tiba ponsel Aiko berdering. Aiko pun langsung mengangkat telepon entah dari siapa itu.
"Halo,"
"Nyonya, Tuan mendapat masalah besar!" ucap dari seberang telepon adalah Leo. Dia sangat panik.
"Apa? Apa ma-maksudmu?" tangan Aiko gemetaran mendengar apa yang dikatakan Leo.
"Saat di bandara tadi, ada sebuah mobil yang mengikuti kami. Saat itu Tuan yang menyetir, ketika kami mencoba menghindari mobil tersebut di jembatan, mobil itu malahan menabrak mobil kami. Tuan mendorong saya agak keluar dari mobil. Saya sangat minta maaf nyonya," jelas Leo dengan napas terengah-engah dan membuat Aiko tidak bisa mencerna keadaan.
"Jadi, apa yang terjadi dengan Mika?!" tanya Aiko meninggikan nada bicaranya saking kagetnya.
"Maaf Nyonya, mobil Tuan jatuh dari jembatan. Dia mendorong saya keluar sebelum mobil tersebut jatuh. Sekarang Tuan masih dalam tahap pencarian. Jika nyonya hendak kemari, akan saya kirim alamatnya,"
Leo menutup teleponnya. Tangan Aiko gemetaran sampai-sampai dia menjatuhkan ponselnya. Napas nya mulai tidak beraturan.
Kepala Aiko pening sampai berdengung.
"Uhuk...," darah keluar dari mulut Aiko.
"Aiko!! Apa yang terjadi?!" tanya Mia dengan panik.
Aiko mengelap darah yang berantakan di mulut nya, "Antar aku ke sana sekarang," perintah Aiko seraya menunjukan sebuah map yang dikirim Leo ke arah Mia.
"Cepatlah. Tidak ada waktu lagi!!"
Mia yang panik hanya mengangguk dan langsung mengantar Aiko dengan mobilnya.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil
......................
Happy reading minna~
Di sini Author gak jadi sekarat ya haha
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yang indah itu~ Berupa like, rate, favorit, and komen...