Contract With You

Contract With You
Bab 7



"Maaf, anda siapa ya?"


Mika yang terkejut langsung berbalik dan menatap seorang perempuan di belakangnya. Seorang perempuan dengan rambut cokelat berdiri di depannya. Bibir semerah darah baju minim yang dia pakai serta bau menyengat dari parfum yang membuat Mika menutup hidungnya.


"Aku sedang mengantar seseorang," jawab Mika cepat.


"Oh. Kenapa tidak masuk saja?"


Gadis tersebut tiba-tiba tersenyum licik. Dia merangkul Mika dan mengajaknya masuk.


Pintu terbuka. Mika melihat Aiko yang sedang mengobrol dengan ibunya.


"Ibu, aku membawa seseorang,"


Aiko yang terkejut langsung mengalihkan perhatian kepada Mika yang berada di rangkulan adik berbeda ibu dengannya itu.


"Presdir Mika! Apa yang anda lakukan di sini?" tanya ibu Aiko yang terkejut.


"Mika?"


Aiko langsung berdiri dan menghampiri Mika.


"Maaf, dia menarik ku kemari," jelas Mika seraya mengibaskan tangan yang merangkulnya.


Ibu Aiko tertegun. Dia mengambil napas.


"Yuki, siapa yang kamu bawa itu?" tanyanya dengan nada berat.


"Ah, itu ya, Bu. Aku bertemu dia di depan. Dan sepertinya dia dekat dengan Aiko," ucap Yuki. Dia mendekat ke arah Ibunya dan sedikit berbisik di telinganya. Entah apa yang dia bisikan, namun itu membuat Ibu Aiko terkejut dan raut wajahnya berubah.


"Dia siapa?"


Tanya Mika tiba-tiba dan membuat Aiko terkejut.


"Apa?! Oh, dia, namanya Yuki. Bisa dibilang dia adikku,"


"Bisa dibilang?"


"Iya, karena kami satu ayah namun berbeda ibu. Ibuku menganggapnya seperti anak sendiri setelah Ibu Yuki meninggal karena kecelakaan mobil saat Yuki berumur 4 tahun," jelas Aiko. Mata Aiko menyiratkan kesedihan yang mendalam.


"Mau pulang sekarang? Ibunda menunggumu untuk mencoba gaun yang baru dia buat,"


ajak Mika yang tidak tahan melihat wajah sedih Aiko.


Aiko hanya membalas dengan senyum.


"Ibu, aku harus pulang. Besok aku ke..."


"Kamu tidak perlu kemari lagi!"


Sebelum selesai berbicara Ibu membentak Aiko dengan wajah penuh kebencian.


"Apa maksud Ibu?" air mata yang sejak tadi ditahan oleh Aiko perlahan mengalir di pipinya.


"******* sepertimu tidak pantas menjadi anakku," ucap Ibu. Yuki menyeringai melihat Aiko yang terkejut bukan main.


"Apa maksud perkataan ibu? Apa yang kamu lakukan sampai membuat Ibu seperti ini?" tanya Aiko kepada Yuki.


"Jangan membawa-bawa Yuki! Buktinya aja di depan mata, kamu menggoda Presdir Mika agar mau membiayai kebutuhan mu kan?!"


"Hah?! Maaf menyela, aku melakukan ini bukan karena digoda oleh Aiko. Tapi ini memang pilihanku," jawab Mika. Dia memeluk erat Aiko yang berlinang air mata.


"Tuan Presdir Mika, ini masalah keluarga kami. Sepertinya anda tidak pantas untuk ikut campur," ucap Yuki.


Yuki mendekat ke arah Aiko dan hendak menyentuh rambutnya.


"Plak!!"


"Sebaiknya anda juga jangan macam-macam kepada istri saya, Nona Yuki,"


Dengan cepat Mika menampar tangan Yuki yang hendak menyentuh Aiko.


"Istri apa maksud anda?" tanya Ibu Aiko terkejut.


"Seperti nya aku belum membahasnya. Biar aku beri tahu, Bibi. Aku dan..." Mika menghentikan ucapannya karena Aiko menggeleng.


"Kenapa?"


"Biar aku saja," Aiko membalikkan badannya, "Ibu, aku sudah jadi milik orang lain. Tidak usah khawatir tentang pembayaran rumah sakit Ibu, Mika sudah membayarnya. Dan Yuki sebagai adikku, jaga Ibu untukku," Aiko melangkah pelan-pelan keluar dari ruang Ibunya dengan air mata membanjiri wajahnya.


"Saya permisi. Maaf sudah mengambil putri anda yang tidak dianggap itu. Tapi tidak perlu khawatir, karena saya tidak akan menganggu keluarga anda lagi. Ah, dan juga. Jika anda masih punya rasa kemanusiaan, saya ingin memberitahu bahwa orang yang selama ini membiayai anda adalah Aiko,"


Ucap Mika seraya melangkah keluar mengikuti Aiko.


"Sebenarnya, dunia ini masih menerima diriku atau tidak? Pertama ayah meninggalkan kami, ibu sakit-sakitan, dan membuatku harus meninggalkan semua yang kusukai. Aku berhenti menikmati masa mudaku dan mulai mencari uang untuk menghidupi ibu. Namun, nyatanya sekarang. Aku bahkan tidak dianggap anaknya lagi hanya karena membawa seorang lelaki dihadapan nya. Adik ku Yuki, apa yang dia bisikan pada ibu sampai-sampai ibu menyebutku *******? Hatiku perih,"


"Hampir saja kamu mencium lantai,"


ucap Mika.


"Kepalaku sakit, Mika. Ayo, pulang...," gumam Aiko.


"Baiklah, jangan memikirkan apapun lagi," Mika mengangkat tubuh Aiko yang sudah terkulai lemah. Dia berjalan menuju mobil dan melihat keluar yang ternyata matahari sudah tenggelam.


Mika membaringkan Aiko di kursi belakang mobilnya. Perlahan mobil melaju menuju rumah baru Mika.


°°


Cuit.... cuit.... cuit....


"Emmm.."


Aiko membuka matanya perlahan. Pagi tiba begitu cepat, Aiko duduk di atas kasur dan memandang jendela besar di sampingnya. Angin meniup tirai dan harum hujan mulai terasa. Rambut yang masih berantakan tertiup angin hujan yang begitu dingin.


"Dingin. Masih musim gugur ternyata,"


Klek...


Pintu kamar terbuka.


"Ternyata sudah bangun. Apa yang mau kamu makan pagi ini?" Mika masuk ke dalam kamar. Sepertinya dia baru selesai mandi karena rambutnya masih basah dan hanya memakai celana pendek.


"Tolong kondisikan sixpack mu di depan seorang gadis," ucap Aiko yang kembali berbaring dan menarik selimutnya. Mika menghela napas dan duduk di samping Aiko yang masih terbaring.


"Mau sampai kapan kamu menangis?" Mika mengelus pelan kepala Aiko.


"Ini di mana? Ini bukan kamar yang dulu kita pakai," tanya Aiko.


"Aku baru membeli rumah ini. Aku harap ini sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Karena Ibunda terlalu cerewet jika kita tetap tinggal di sana,"


Aiko melirik ke arah Mika yang duduk di sampingnya.


"Dia membeli rumah sebagus ini hanya untuk berdua? Apa yang dia pikirkan selama ini? Tetapi, rambutnya yang masih basah ini sangat... Argh, apa yang aku pikirkan? Jauhkan pikiran kotor seperti itu. Tapi tetap saja,"


Mika menatap Aiko yang sedang memandanginya dan membuat Aiko terkejut.


"Apa yang sedang kamu lihat?"


"Hah, bukan apa-apa. Hanya saja, kamu ter-terlihat tampan," gumam Aiko.


"Ahahaha,"


"Jangan tertawa!" ucap Aiko dengan malu. Dia duduk dan menyibak selimutnya.


Mika melempar handuknya ke arah Aiko.


"Hanya bercanda. Tolong keringkan rambutku," pintanya.


Aiko pun mengeringkan rambut Mika dengan handuk.


•••••


Dua jam kemudian


Di meja makan


Di meja makan, hanya ada dua bangku yang sudah didudukin oleh Aiko dan Mika. Makanan sudah tertata rapi oleh pelayan. Seraya meminum segelas kopi, Mika melirik Aiko yang hanya memandangi makanan di meja tanpa kata-kata.


"Matanya bengkak seperti ikan mas. Dia sepertinya menangis sepanjang tidurnya,"


"Jangan diam saja. Isi perutmu dengan sedikit makanan," ucap Mika seraya menyodorkan sendok berisi sup.


"Aku bisa makan sendiri," ucap Aiko seraya mengambil sendok yang dipegang Mika. Aiko pun akhirnya memakan sup tersebut.


•••


Setelah selesai makan


"Hahhhhhhhhhh,"


Aiko menghela napas panjang. Dia duduk di bangku depan karena Mika menyuruhnya untuk keluar.


"Keluar dulu cari udara segar. Aku mau mengajakmu pergi setelah ini," itu yang Mika katakan tadi selesai sarapan.


"Rintik hujan semakin deras. Dinginnya juga semakin terasa menusuk tulang. Jika dipikir lagi, dulu aku tidak suka hujan karena selalu menganggu aku bekerja. Tapi sekarang aku sepertinya menyukai hujan. Baunya harum, dan ada Mika sekarang," gumam Aiko dalam hati.


"Dia akan mengajakku kemana memang?" gumam Aiko.


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil