
"Maksudmu, Aiko sedang hamil??" tanya Mia kembali memastikan apa yang Yuhi katakan.
Yuhi menoleh pelan ke arah Mia, "Itu hanya tebakan saja. Aku akan memastikannya lagi beberapa bulan ke depan," ucapnya pelan.
"Yuhi, sekarang kita pergi ke Perusahaan Mika dan meminta penjelasan langsung darinya," ucap Leo mantap namun di balas dengan gelengan kepala oleh Yuhi.
"Tidak mungkin kamu bisa mendapatkan jawaban sekarang. Jika memang benar ingatan Mika hilang, dia pasti hanya akan mengusir mu," ucap Mia seraya memegangi tangan mungil Aiko. Tatapan sedihnya tidak bisa hilang.
"Yang Nona ini katakan benar. Kau pikir hanya dengan bertemu dengannya semua ini akan berakhir?" ucap Yuhi kembali menghela napas berat.
Ketiganya kembali berpikir keras. Tetapi sepertinya Leo tetap ingin memastikan langsung ke sana.
Leo berdiri tiba-tiba, "Aku tetap ingin memastikannya. Yuhi kamu tetap di sini saja menemani Nona Mia. Semoga saja keajaiban bisa membuat Nyonya sadar kembali. Aku permisi," Leo berlari keluar dari ruangan.
Mia masih berpikir apa yang bisa ia lakukan agar saat Aiko bangun semuanya masih seperti biasanya.
Yuhi duduk di kursi yang tadi digunakan oleh Leo, "Mau kamu berpikir sampai kepalamu pecah, kamu tidak akan bisa mengubah semua yang sudah terjadi," ucap Yuhi dengan mata sayu nya. Manik merahnya sama sekali tidak menunjukkan orang yang sedang hidup.
Mia berdiri dengan tiba-tiba dan menghampiri Yuhi, 'Plakkk....' satu tamparan mendarat tepat di pipi kiri Yuhi.
"Apa maksudmu ini?" tanya Yuhi memegangi pipi kirinya yang memerah.
"Aku tidak paham dengan yang kamu katakan. Jelas-jelas ini masalah yang kamu timbulkan! Bisa-bisanya kamu masih sempat menceramahi ku! Jika bukan karena kesalahanmu, Aiko tidak akan mengalami semua ini!!"
Ucapan Mia sontak membuat petir menyambar kesadaran Yuhi. Dia sudah egois dan hanya mementingkan keselamatan sendiri.
"Maaf. Aku sangat minta maaf. Stella mengancam ku. Dia bilang akan membunuh istri serta putraku jika tidak mau menurutinya," jelas Yuhi dengan nada pelan dan membuat Mia sedikit bersalah telah menamparnya.
"Memang. Mereka ada di mana?" tanya Mia.
"Aku berpikir sudah menyembunyikan mereka di tempat yang sangat jauh dan tidak akan ada orang yang berani melukai mereka. Namun aku salah. Stella dengan muda menemukan mereka. Jika Stella memberikan putra ku pada Ayah, maka dia akan mengalami penderitaan yang sama denganku," jelas Yuhi dengan senyum terpaksa nya.
Hatinya sangat berat. Rasanya dia ingin menangis dengan sangat keras.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Yuhi, Mia kembali ke tempat duduk nya.
"Oh ya, apa pihak kepolisian tidak menyelidiki siapa pelaku dari semua ini?" tanya Mia dan membuat Yuhi kembali berpikir.
"Kamu seharusnya tahu, pihak kepolisian tidak akan mau ikut campur dalam masalah ini. Bedebah seperti mereka yang hanya mengandalkan gelar tidak akan mau mencampuri urusan keluarga konglomerat seperti ini," jelas Yuhi.
"Tunggu sebentar. Aku pernah mendengar bahwa ibu Mika sangat menyayangi Aiko. Namamu Mia kan? Bisakah kamu datang ke tempat ini?" Yuhi menyodorkan secarik kertas ke arah Mia. Tanpa basa-basi Mia menerima kertas yang berisi alamat.
"Aku bisa saja ke sana jika kamu membayar ongkos taksinya. Tetapi apa yang akan aku lakukan di sana?" tanya Mia.
"Temui seorang desainer dengan nama depan Aiha. Dia ibu Mika. Tolong kamu jelaskan tentang Aiko. Untuk taksi bawa saja ini," jelas Yuhi dengan sedikit serius seraya melempar kartu kredit nya. Mia hanya mengangguk-angguk paham dan menerima kartu tersebut.
"Tolong jaga Aiko. Jika kamu berani melakukan sesuatu padanya. Aku jamin kamu pulang hanya tersisa nama," ancam Mia kemudian dia keluar dari ruangan tersebut.
Yuhi menghela napas ketika dia ditinggal sendiri di ruangan tersebut.
"Pada akhirnya aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Maafkan aku,"
•••
Leo mengendarai mobil nya dengan sangat kencang dan akhirnya dia sampai di depan Perusahaan Mika.
Kerumunan reporter dan entah kenapa banyak sekali orang di sana. Mungkin karena pengumuman berita tadi mengundang banyak pertanyaan.
"Mika...," Leo menerobos masuk menembus kerumunan tadi dan masuk ke dalam.
....
"Mika, lihat! Gaun ini sangat cocok denganku bukan?" ucap Stella yang sedang mencoba gaun putihnya di depan Mika yang tengah mengerjakan beberapa dokumennya.
"Ahhh iya. Itu cantik," jawab Mika seraya mencium mesra dahi Stella.
"Karena ingatannya hilang, dia tidak akan mengingat Aiko. Keberuntungan selalu memihak ku, haha,"
"Tentu saja. Apapun untukmu, istriku,"
Keduanya kembali saling bertukar cium dan membuat suasana menjadi sangat mesra.
Brakk...
Pintu kantor terbanting dengan kerasnya dan membuat Mika terkejut.
Dari balik pintu tersebut muncul seorang lelaki dengan napas terengah-engah. Mata merahnya memancarkan kemarahan.
"Siapa kau?" tanya Mika dengan nada kesal ke arah Leo.
"Cih, kenapa ada orang ini kemari?" gumam Stella kesal.
"Tuan, anda benar-benar tidak mengenalku?" tanya Leo berjalan mendekat ke arah Mika.
Pandangan mereka berdua saling terkunci.
'Nyuutttt...'
Rasa sakit di kepala Mika menyerang dan membuatnya memegangi kepalanya.
"Mika kamu baik-baik saja?" tanya Stella mengkhawatirkan kondisi Mika.
"Kalau tidak salah kamu Leo," ucap Mika pada Leo. Dan membuat Leo serasa tersambar petir. Tidak mungkin kan ingatannya bisa kembali secepat ini. Atau mungkin ini hanya keajaiban??
"I iya, Tuan. Ini saya. Syukurlah anda selamat dari kecelakaan tersebut," ucap Leo seidkir bahagia.
Namun Mika menatap Leo dengan tidak percaya.
"Kamu yang telah mengkhianati ku tidak pantas ada di sini," ujar Mika dengan nada marah.
Leo melihat Stella yang tersenyum licik di belakang Mika.
"Apa yang sebenarnya dilakukan Stella?? Tidak mungkin kan dia mengacaukan ingatan Mika. Ini berbahaya. Benar-benar berbahaya,"
Keringat dingin mengalir dengan deras dari tubuh Leo. Dia seperti hendak dilahap dengan tatapan mata dingin mengerikan dari Mika.
Padahal selama ini Mika tidak pernah menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Mika sadarlah!! Kamu memiliki seseorang yang sangat berharga untukmu!!" Leo berusaha menyadarkan Mika dari kebohongan Stella. Namun tidak semudah itu. Mika sudah sepenuhnya dalam kendali Stella.
"Seret dia keluar dari sini!!" suruh Mika pada pengawal yang berada di balik pintu. Meraka pun menyeret Leo keluar.
"Mika!! Ku mohon ingatlah kembali, ingat Nona Aiko!!"
.
.
.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil
*Pengumuman dari Author. Mohon di baca!!
Bab bab sebelumnya habis di Remake oleh Author agak memenuhi syarat kontrak
Jadi untuk kalian yang ingin* membaca kelanjutan cerita Minggu kemarin, harap membaca bab 20. Bab 21 dan 22 adalah bab baru
Mohon dipahami ya~~ Terima kasih~
Salam sayang dari Author