Contract With You

Contract With You
Bab 15



"Ketika menutup mata. Aku selalu melihat bayangan yang sama. Aku berdiri sendirian di kegelapan, di tengah hujan, dan kesepian. Pertanyaan demi pertanyaan sering aku lontarkan. Akankah hujan ini berhenti mengguyur ku? Akankah cahaya akan membuat tempat ini menjadi terang? Di mana jalan keluarnya?


Dulu, aku punya keluarga yang harmonis. Ibu yang sangat penyayang dan ayah yang sangat hangat. Namun, semua nya hilang seperti bingkai foto yang jatuh dan pecah. Ibu tahu bahwa ayah menikah lagi. Hal itu membuat penyakitnya kambuh lagi dan membuat keadaannya semakin lama semakin parah.


Semua kebahagiaan itu hilang dalam semalam. Ayah ku pergi meninggalkan aku dan ibu. Dia pergi dengan istri barunya dan mempunyai anak perempuan.


Tidak lama berselang. Istri barunya meninggal karena kecelakaan. Ayah tidak mau merawat anaknya, jadi dia memberikannya pada ibu. Awalnya aku berpikir ibu akan memperlakukan dengan kejam karena telah mengusik keluarga kami. Namun, ibu malah menyayanginya. Rasa sayang yang bahkan lebih dari apa yang diberikan padaku.


Sakit, sangat sakit. Rasanya seperti tertusuk ribuan anak panah. Tetapi tidak ada yang bisa aku lakukan saat itu.


Aku hanya bisa menghidupi ibu dan adik ku. Ketika adik beranjak remaja, ayah menyuruhnya kembali lagi ke rumah. Ibu pun bertengkar dengan ayah sampai membuat penyakitnya semakin parah.


Entah kenapa semuanya seperti mimpi saja. Rasanya aku ingin segera bangun dari mimpi ini. Kenyataan itu pahit ternyata. Banyak pertanyaan yang mengisi kepalaku.


Sebenarnya apa yang aku cari selama ini? Apa arti dari semua perjalanan ini? Apa yang ada di ujung jalan yang sedang aku ikuti ini?"


•••


Aiko terbangun dari tidurnya. Dia bangun terduduk dan di atas kasur seraya memegangi kepalanya.


"Kepalaku rasanya berputar-putar," gumam Aiko.


"Ini di mana?" lanjutnya seraya melihat sekeliling.


Tidak lama setelah Aiko mengucapkan kata tersebut, pintu kamar terbuka dan memunculkan seorang gadis yang sedang memegang sendok sayur.


"Sudah bangun ternyata," ucapnya seraya berjalan ke arah Aiko, "Bagaimana tubuhmu?"


"Entahlah. Rasanya sangat tidak enak. Ngomong-ngomong, sudah berapa lama aku ada di sini?" tanya balik Aiko dengan mata sayu nya.


*Andai saja aku menolaknya saat itu, mungkin aku tidak akan pernah terjebak dalam ketidak pastian ini. Aku ingin waktu diputar kembali agar bisa memperbaiki masa lalu. Haha, bukankah aku tamak jika seperti itu.


Akankah cahaya dapat menerangi aku lagi*?


"Kamu tertidur selama dua hari. Itulah mengapa ada infus di tanganmu," jawab Mia dan sedikit mengejutkan Aiko.


"Dua hari?! Jadi apa yang terjadi dengan Mika?! Apa dia kemari?" tanya Aiko beruntun dan membuat Mia merubah raut wajahnya.


"Si Bodoh itu mencoba menjemputmu. Tetapi aku memarahinya,"


Mia mulai bercerita


"Buka pintunya atau aku-...," ucapan Mika terpotong. Dia hendak memaki Mia karena tidak diperbolehkan masuk untuk menjemput Aiko.


"Atau apa? Kamu pikir aku mau menyerahkannya begitu saja. Bukankah dirimu naif jika ingin memiliki nya begitu saja?" ucap Mia di depan pintu seraya menghalangi Mika yang ingin menerobos masuk.


"Aiko itu milikku, apa kamu berhak untuk menyembunyikannya seperti ini?" jawab Mika dengan dingin dan membuat Mia sedikit merinding. Tetapi dirinya tetap tidak mau menyerahkan Aiko begitu saja.


"Aiko itu manusia. Dia punya perasaan dan keinginannya sendiri. Bukan boneka yang bisa kamu bawa kemana-mana dan digerakkan sesuai perintah mu. Dia itu tidak pernah mencintaimu," kalimat terakhir Mia membuat Mika tersentak.


"Dia tidak mencintaiku?"


"Apa dia pernah mengatakan cinta dengan tulus padamu? Aiko hanya terjebak dalam ketidak pastian. Jadi sekarang pergilah," ucap Mia seraya menutup pintu.


Apa yang aku lakukan selama ini salah? Apa yang aku lakukan padanya itu salah? Ku pikir hanya dengan janji pernikahan dia dapat menjadi milikku.


Haha, dia tidak mencintaiku ternyata. Naif sekali diriku.


•••


"Jadi seperti itu, kupikir dia akan menyerah setelah aku mengatakan hal tersebut. Tetapi," Mia berdiri dan menyibak tirai. Terlihat dari jendela mobil Mika masih terparkir di halaman rumah Mia.


"Jadi, Mika tetap di sana," pupil Aiko gemetaran.


"Iya, bahkan dia sepertinya-," sebelum Mia hendak menyelesaikan kalimatnya, Aiko sudah berlari turun dan meninggalkan Mia sendirian.


•••


"Bagaimana bisa dia bertahan selama dua hari di sana?"


Aiko berlari dengan terburu-buru menuju mobil Mika.


Sesampainya di sana, tanpa basa basi Aiko langsung membuka pintu mobil yang tidak terkunci.


Dia melihat Mika yang tengah tertidur seraya melipat tangannya.


"Yang salah itu aku, ya? Terlalu tamak dan egois,"


Aiko mengelus pelan pipi Mika dan membuatnya terbangun.


"Kenapa kamu selalu datang ke mimpiku? Bisakah sekali-kali datang dalam dunia nyata?"


"Kamu pikir aku tidak nyata, ya? Baiklah sekarang kembalilah tidur," ujar Aiko seraya memaksakan dirinya tersenyum.


Mika tersadar bahwa Aiko yang sekarang ada di hadapannya bukan mimpi. Sontak dia langsung memeluk Aiko dan tidak ingin dia pergi lagi.


Dari atas, di balik jendela. Mia melihat mereka berdua seraya tersenyum.


"Apa seharusnya aku minta maaf saja, ya?" ucap nya seraya melipat tangan di depan dada.


"Padahal aku kira dia tidak akan percaya. Tetapi baguslah, mereka bisa bersama lagi. Apa aku harus mencari pacar juga, ya?" gumam Mia dalam hati seraya tertawa kecil.


°°°


"Singkat cerita, aku pulang bersama Mika lagi. Jika dipikir lagi memang aku yang salah. Aku akan minta maaf pada Mika nanti.


Mia juga sahabat yang baik. Terima kasih semuanya. Ada kalian di dalam hidupku saja sudah cukup,"


°°°


Beberapa Hari Kemudian


"Jadi, Mika tidak pulang lagi?" tanya Aiko saat hendak melahap sup yang sudah berada di sendok nya.


"Tuan masih sangat sibuk karena waktu itu dia meninggalkan pekerjaannya begitu saja," jawab Bibi Liya yang menemani Aiko saat ini.


Bibi Liya adalah pengasuh Mika saat kecil. Sampai sekarang ia masih melayani Mika walaupun umurnya sudah tidak muda lagi.


"Padahal dia sedang tidak terlalu sehat. Rumah jadi sepi kalau tidak ada dia," gumam Aiko.


"Hmm, bagaimana jika Nyonya segera dapat momongan?" ucap Bibi Liya seraya tersenyum dan membuat Aiko malu.


"Bibi, aku masih muda. Lagian juga Mika pasti tidak suka anak kecil," jawab Aiko dengan pipi yang memerah.


"Tuan pasti akan menyukainya,"


"Ukhhh, aku tidak yakin. Lagian aku masih belum bisa melakukan itu dengan- brak!!! brak!!!


Ucapan Aiko terpotong karena terdengar suara keras dari pintu utama.


"Keluar sekarang, Aiko!!!!" disusul dengan teriakan dan membuat Aiko bingung.


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil


(Halo, semua. Aku di sini gantiin Author yang lagi sekarat. Gak gak canda. Nanti aku kena sendal terbang kalo dia tau


Okok lah, jangan lupa like tau kan pungsi nya tanda jempol. Favorit juga jangan lupa tanda hati nya di pencet ya, tapi bukan hati orang yang anda pencet. Yang terakhir jangan lupa rate, bintang tu banyak pungsinya, loh)