Contract With You

Contract With You
Bab 8



"Dia akan mengajakku kemana memang?" gumam Aiko.


Aiko melihat Mika yang sedang mengeluarkan mobil dari garasi. Jendela mobil diturunkan dan pintu mobil terbuka Mika keluar untuk menjemput Aiko yang sedang duduk di teras rumah.


"Kamu tidak kedinginan duduk di luar?" tanya Mika seraya memakaikan syal dileher Aiko.


"Tidak terlalu dingin di luar," jawab Aiko.


Mika memandangi Aiko sebentar.


"Benarkah? Wajahmu merah seperti tomat loh,"


"Jangan bercanda lagi. Ngomong-ngomong kamu mau mengajakku kemana?" tanya Aiko penasaran.


"Kamu akan tahu setelah sampai di sana,"


Mika dan Aiko pun masuk ke dalam mobil. Di tengah hujan yang mulai deras, mobil melaju menuju sebuah gedung besar yang tidak lain adalah kantor besar Grup Aiha milik Mika. Di tengah perjalanan Aiko mengintip keluar. Hujan deras masih mengguyur kota.


•••


Sesampainya di kantor


Mobil berhenti di depan pintu masuk gedung, Mika melambaikan tangannya keluar jendela. Dalam sekejap para pengawal berbaju hitam berbaris dengan deretan payung yang mereka bawa.


"Mereka berlatih berapa lama sampai bisa sesigap ini?" gumam Aiko.


Mika mengandeng tangan Aiko dan masuk ke dalam gedung. Menaiki lift menuju lantai paling atas. Selang beberapa menit, lift berhenti dan pintu terbuka. Mereka berdua disambut oleh Leo yang sedari tadi menunggu Mika.


"Tuan, para dewan sudah menunggu anda," ucapnya seraya membungkuk hormat pada Mika. Mika hanya mengangguk dan berjalan memasuki kantornya dengan Aiko.


Aiko celingak-celinguk melihat sekeliling kantor Mika. Sebuah ruangan dengan jendela besar sebagai pembatas antara ruang dalam dan luar. Kita bahkan bisa melihat pemandangan kota dari ketinggian lebih dari 20 lantai. Ada dua lemari buku di sisi kanan dan kiri jendela tersebut. Di tengah ruangan tersebut ada sebuah meja dan kursi berwarna hitam pekat yang merupakan tempat kerja Mika. Tidak ada yang istimewa dari kantor Mika. Tapi ada sesuatu yang membuat Aiko terpana. Sebuah lukisan yang sangat besar di samping lemari sebelah kiri. Lukisan bunga lili putih di saat hujan. Aiko tidak bisa mengalihkan pandangannya dari lukisan tersebut.


"Apa yang kamu lihat?" Mika melambaikan tangan di depan mata Aiko yang sedari tadi melamun.


"Ah, maaf. Lukisan ini sangat indah,"


"Benarkah. Leo, berikan aku kunci pintu ini," suruh Mika.


"Ini tuan," Leo memberikan kunci kecil kepada Mika.


Mika sedikit meraba permukaan lukisan tersebut dan menemukan lubang kunci.


Ceklek..ceklek...


Perlahan Mika menggeser lukisan tersebut dan alangkah terkejutnya Aiko melihat bahwa di balik lukisan tersebut ada sebuah ruangan yang hanya diisi oleh kasur yang sangat empuk. Di dinding ruangan tersebut ada selimut hangat dan beberapa boneka berbentuk donat.


"Wahh, ruangan yang keren. Pasti hangat di dalam sana," ucap Aiko kagum.


"Duduklah di dalam sana. Kamu bisa membaca buku sambil mengusir bosan ketika aku menghadiri rapat nanti," Mika mengelus kepala Aiko dengan lembut.


"Jadi kamu mengajakku kemari hanya untuk menunggumu selesai rapat?"


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu berjalan-jalan di gedung ini. Tapi para kakek cebol (maksudnya para dewan) itu masih suka mengaturku. Jadi kita lakukan lain kali saja, ya," jelas Mika.


"Apa yang harus aku lakukan disini?"


"Leo akan menemanimu. Kamu bisa melakukan apapun disini, tapi jangan mencoret-coret dokumen di atas meja,"


"Memangnya aku anak kecil," kesal Aiko.


"Baik tuan,"


°°


Awalnya Aiko bingung apa yang harus dia lakukan, tapi dia akhirnya memutuskan untuk membaca buku dan duduk dalam ruangan belakang lukisan. Leo juga memberikan beberapa camilan dan minuman hangat karena hujan semakin deras dengan dingin yang mulai menusuk tulang.


Ctar...ctar...


Petir mulai bergemuruh di luar. Kilat menyambar dengan saat kuat sampai-sampai membuat tubuh Aiko gemetaran.


Leo yang sedang menemani Aiko menarik tirai untuk menutupi jendela kaca agar kilat tidak terlalu terlihat.


"Kilat yang mengerikan," gumam Aiko dalam hati.


Dia menyelimuti dirinya dengan selimut. Membuka lembaran halaman buku dan melanjutkan membaca. Leo pun kembali berdiri di samping Aiko duduk. Sebenarnya Aiko tidak enak melihat dia berdiri terus sejak tadi.


"Anu, nama anda tuan Leo kan. Jika anda lelah anda bisa duduk saja, saya merasa tidak enak melihat anda berdiri sedangkan saya duduk di ruang hangat ini,"


"Nyonya, saya dengan senang hati menuruti nyonya. Tetapi, anda tidak perlu bicara formal dengan saya, tuan memberi perintah dan saya hanya mematuhinya. Anda bisa memanggil saya Leo," jelasnya dengan sangat ramah.


"Saya tidak enak melihat anda yang begitu lelah berdiri,"


"Saya akan mengambil kursi dan menemani nyonya, karena sepertinya nyonya takut petir," Leo pun mengambil kursi lipat dan menaruhnya di sebelah Aiko yang duduk di dalam ruangan balik lukisan, "Saya akan menemani anda disini,"


"Mungkin saya sedikit penasaran dengan Mika. Anda kan sudah bersama dengannya sangat lama. Apa bisa anda menceritakan sedikit tentang dia?" pinta Aiko sambil mengunyah beberapa biskuit. Leo menengok ke arah Aiko dan melihat wajahnya yang begitu cantik. Sekilas Leo begitu terpesona dan tidak bisa melepas pandangannya dari Aiko.


"Permisi, biasakan anda menjawab saya," ujar Aiko canggung.


Leo pun tersadar dari lamunan, "Maafkan saya nyonya. Jadi apa yang ingin nyonya ketahui,"


"Sebenarnya aku yang aku lakukan? Walaupun dia gadis biasa tapi dia istri dari Mika. Bagaimana jika aku juga menyukainya? Ahhh, entahlah,"


"Bagaimana Mika saat masih kecil?" seru Aiko membuyarkan lamunan Leo.


"Jadi anda penasaran tentang itu ya. Dulu, tuan itu seperti sebuah permata yang sangat indah dan selalu menarik perhatian. Bahkan saat bersekolah, tuan sering dikejar-kejar banyak gadis sampai-sampai dia melompat pagar untuk kabur,"


"Apa anda juga bersekolah disana?" ucap Aiko seraya menyeruput segelas teh.


"Tentu saja. Tuan, saya, dan Yuhi, anda seharusnya sudah mengenalnya. Kami bertiga selalu bersama sejak dulu. Yuhi dulu sangat pendek dan tidak pandai berlari dia selalu menjadi umpan kami untuk kabur dari kejaran para gadis," Leo menceritakan semua itu dengan wajah penuh kegembiraan. Aiko pun ikut tersenyum.


"Sepertinya masa kecil kalian sangat menyenangkan,"


"Anu, nyonya. Biasakan saya bertanya? Mungkin ini sedikit menyakitkan untuk nyonya, namun saya ingin tahu. Sebenarnya, bagaimana hubungan nyonya dan keluarga nyonya? Saya mendengar semua dari tuan," tanya Leo dengan wajah penuh kekhawatiran.


Mendengar hal tersebut Aiko langsung meletakan tehnya ke atas meja di depan dia duduk.


"Saya tidak keberatan menceritakannya. Sejak saya kecil, ayah meninggalkan saya dan ibu saya. Akhirnya saya yang harus menanggung biaya hidup dan ibu saya yang sakit-sakitan. Saya mendengar bahwa ayah menikah lagi dan mempunyai anak perempuan lagi. Ibunya meninggal dan ayah memberikan anak itu pada ibu. Ibu sangat menyayanginya, bahkan rasa sayangnya melebihi rasa sayangnya padaku. Rasa cemburu mulai merasuki saya, namun saya menyembunyikannya selama ini. Saya bekerja keras mencari uang. Walaupun saat itu ibu masih diberi uang oleh ayah, saya tetap bekerja untuk biaya sekolah. Beranjak dewasa, adik saya pergi untuk tinggal mewah bersama ayah. Saat itu saya tahu, saya selalu disia-siakan. Tetapi, saat saya sangat terpuruk dan lelah, Mika datang menyelamatkan saya,"


Cerita Aiko membuat hati Leo teriris. Dia hendak memeluk Aiko, namun dia teringat Mika dan menarik kembali tangannya.


"Sepertinya, tuan menjadi malaikat penolong anda,"


Nyonya, anda adalah orang yang paling tegar. Anda bahkan menceritakan cerita memilukan seperti itu dengan senyuman manis anda. Saya harap anda mendapat kebahagiaan.


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil