
Di pinggiran kota terdapat sebuah bangunan yang sepertinya sudah tidak terpakai. Halaman yang kotor dengan dedaunan yang berserakan membuat suasana jadi menyeramkan jika malam hari. Apalagi hanya satu lampu yang menyala di depan bangunan tersebut.
Jika kita masuk ke dalam bangunan tersebut, terdapat pecahan kaca yang berserakan memenuhi lantai ruang utama. Cat yang mulai terkelupas serta jendela yang hanya ditutupi kayu menghiasi dinding membuat kita merasakan seperti di rumah hantu saja.
Terdapat satu ruangan yang disinari cahaya lampu. Walaupun lampu tersebut agak redup, tetapi kita bisa melihat seorang gadis yang diikat di kursi.
Matanya tertutup dengan kain hitam serta kaki dan tangannya diikat dengan tali.
"Uhuk...uhuk..uhuk,"
"Aha, sudah bangun ternyata," suara melengking dari seorang wanita mengejutkannya. Penutup matanya dibuka dan memperlihatkan mata emerald yang masih bersinar walaupun wajahnya terlihat babak belur.
"Sialan kau! Lepaskan aku sekarang!" ucapnya dengan darah yang mengalir dari mulutnya. Wajahnya penuh luka dengan beberapa bekas cambukan di lengan serta kakinya.
"Tidak boleh dong. Karena kamu berguna untukku," ucapnya seraya mengangkat dagu Mia dengan tangannya.
"Cuih. Bedebah seperti mu tidak bisa memanfaatkan ku. Pikirkanlah selagi mengoceh semalaman ini," ucap Mia seraya membuang ludahnya di depan Stella.
Plak!!...
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Mia. Mia hanya tertawa hambar seraya menatap kosong ke arah depan.
"Jal*ng seperti mu dan Aiko harus nya mati saja!" gertak Stella. Dia mengambil cambuknya dan kembali mencambuk tubuh Mia yang mulai melemas.
Buk..buk..buak...plak...!!!...
"Masa jadi nya gini. Aku tidak mungkin mati seperti ini kan? Kenapa? Kenapa aku sejak dulu... sejak dulu ditinggal sendirian? Apa kali ini aku tidak akan selamat lagi?"
Brak....
Pintu ruangan yang digunakan oleh Stella untuk menyekap Mia didobrak dengan keras.
"Hah...hah...hah... Sialan! Apa yang kamu lakukan!!" teriak Leo yang muncul dari balik pintu. Napas nya terengah-engah dengan keringat yang membanjiri tubuhnya.
"Haha, kamu terlambat..., 'brukk'
Mia jatuh ke atas lantai dan terkulai lemas.
Stella langsung gelagapan mau melakukan apa. Leo berlari mendekati Mia dan mengangkat tubuhnya yang penuh luka.
"K kau! Lepaskan dia!" suruh Stella seraya menunjuk nunjuk wajah Leo.
Leo menatap Stella dengan tajam dan membuat Stella bergidik ngeri.
"Kau pikir setelah semua ini terjadi, semua yang kamu lakukan akan mulus begitu saja?!" ucap Leo berjalan pergi meninggalkan Stella.
"Cihh," Stella merasa sudah tidak ada yang bisa lakukan lagi jika sudah ada Leo yang turun tangan. Tetapi tiba-tiba dia menyeringai di belakang Leo yang melangkah pergi.
"Tetapi kalian tidak bisa mengembalikan ingatan Mika kan," gumam Stella. Sayang sekali Leo tidak mendengarnya.
•••
Leo meletakan Mia di kursi belakang. Dia melihat sekujur tubuh Mia yang penuh luka dengan sedih.
Leo berjongkok di depan pintu mobil. Bulir beningnya keluar dengan deras karena sempat ia tahan sejak kemarin.
"Kenapa jadi berantakan seperti ini. Mika bodoh! Kenapa saat itu kamu mendorongku?! Andai saja kamu tidak melakukannya pasti semua ini tidak terjadi,"
•••
Biiiipppppp....biiiipppp...biiiippp..
"Hah...hah...hah...hah. Masih tidak kembali juga...," ucap Yuhi dengan keringat yang membanjirinya. Napas nya terengah-engah dengan baju yang berantakan.
"Do dokter! Jika seperti ini maka pasien akan meninggal!" ucap salah satu perawat yang membantu Yuhi.
"Diam lah! Teruslah berusaha. Jangan sampai kita kehilangannya dia!" suruh Yuhi kemudian dia mengambil posisi nya kembali.
"Dasar kau bodoh Yuhi! Jika kamu tidak jadi seorang pengecut maka semua ini tidak terjadi,"
•••
Satu Minggu pun berlalu begitu saja. Jika bertanya bagaimana keadaan Aiko, dia berhasil melewati masa-masa kritisnya berkat usaha Yuhi.
Namun, sampai saat ini Aiko belum membuka matanya.
.
.
.
"Hahhh....," Mika menghembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya.
"Sial! Apa yang aku lupakan?!" geram Mika seraya memukul keras meja kerjanya.
"Hah...hah...hah.. Apa aku harus mencari perempuan bernama Aiko itu?" gumam Mika pada dirinya sendiri. Dia memasang jas nya dan berjalan keluar.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang lelaki yang berdiri di depan pintu kantor Mika.
"Tidak ada. Aku akan membawa mobil sendiri," jawab Mika cepat kemudian dia berlari menuju lantai bawah.
Entah kenapa dia memang sedang mencari sesuatu yang hilang. Mika bergegas mengendarai mobilnya.
"Tetapi aku harus mencarinya kemana?" tanya Mika kepada diri sendiri. Kebingungan sempat melandanya. Namun, sebuah pesan muncul dari ponselnya.
"Siapa?" ucap Mika seraya mengangkat ponselnya.
*Aku berharap kamu tidak melupakan ku juga. Jika kepala mu sudah terbentur lagi, cari Aiko di rumah sakit xx. Aku juga minta maaf untuk semua yang telah aku lakukan.
Yuhi*...
"Yuhi?? Si cebol itu kan?" ucap Mika seraya memegangi kepala yang pening.
"Lebih baik aku cari dia saja,"
Mobil Mika pun melaju menuju rumah sakit xx. Khawatir serta satu persatu pertanyaan membuatnya bingung. Kenapa dia mengkhawatirkan seseorang yang bahkan tidak ia ingat? Kenapa dia ingin bertemu dengan orang yang jelas merusak hubungan nya? Ah, Stella mempengaruhi Mika agar Aiko jelek di matanya.
•••
Sedangkan di sisi Aiko yang masih di ambang kematian. Tuhan masih melindunginya. Tetapi Aiko masih belum membuka matanya. Tetapi, jika dia bangun dan melihat keadaan ini, apakah dia akan baik-baik saja? Dia yang selama ini selalu kuat dan melewati cobaan dengan tegar, apakah akan hancur jika mengetahui semua ini?
"Hoaammmm.... Aku mengantuk," ucap Mia yang tengah membaca buku di samping Aiko seraya menguap.
Mia memandangi Aiko yang masih terbaring tidak bergerak sedikit pun, "Entah sejak kapan, peralatan medis nya bertambah lagi," gumam Mia kembali meletakan bukunya di atas meja kecil yang berada di pojok ruangan.
Cklek...
Pintu ruang Aiko terbuka dan seseorang masuk ke dalam. Jas putih bersihnya hampir menyentuh lantai karena tubuhnya yang pendek. Siapa lagi kalau bukan Yuhi.
"Kamu lama. Aku sampai mengantuk menunggumu," omel Mia yang melihat Yuhi dengan santainya masuk tanpa permisi.
"Ha? Memangnya kenapa aku harus menuruti perintah mu. Aku bukan bawahan mu," jawab Yuhi dan membuat Mia kesal. Tapi ia tahan dengan segenap tenaganya.
"Aku akan kembali ke hotel sebelah rumah sakit ini. Apa tidak apa meninggalkan Aiko sendirian?" ujar Mia seraya mengemasi barang-barangnya.
"Ya, sudah sana pulang! Perawat akan menjaganya," jawab Yuhi ketus dengan ekspresi datar dan membuat Mia tambah marah. Untung saja dia bisa tahan agar tidak memaki seorang Yuhi yang kurang ngajar ini.
"Baiklah aku pulang. Kamu juga jangan sampai begadang lagi," ucap Mia berjalan pergi meninggalkan ruangan, "Jaga dirimu. Jangan sampai terlarut dalam rasa bersalah," lanjut Mia sebelum melewati pintu keluar.
"Dasar berisik," gumam Yuhi. Dia mengacak-acak rambutnya dan berjalan pergi meninggalkan Aiko.
Sepi. Lorong rumah sakit menjadi sepi karena sudah malam. Ruangan Aiko dijaga oleh dua perawat serta satu pengawal yang dikirim Leo.
Drap...drap...drap...
"Hah...hah...hah...," Mika berlari masuk ke dalam rumah sakit. Dia bertanya pada seorang perawat yang lalu lalang di sana. Akhirnya Mika tahu di mana Aiko berada. Mika berlari menuju ruang Aiko. (Gak boleh lho ya, lari-lari di rumah sakit)
Akhirnya Mika sampai di sana. Dari balik kaca yang membatasi dirinya dan Aiko yang terbaring lemah terdapat sesuatu yang mengganjal.
"Dia itu...Aiko...?.."
.
.
.
.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil
Maaf ya gess. Telat update nih. Kena penyakit M. Magerrr....