Contract With You

Contract With You
Bab 11



Aiko terkejut melihat orang yang menggebrak meja tadi. Siapa lagi kalo bukan ayah Aiko yang meninggalkan nya dulu.


"Heh, siapa kamu?! Datang-datang langsung menggebrak meja saja," sewot Mia yang tidak tahan melihat kelakuan orang tersebut.


"Ada masalah apa?" tanya Aiko to the point pada sosok yang di depannya.


"Anak sia*an. Apa yang kamu lakukan pada Yuki hah? Dia bilang kamu membawa seorang lelaki. Seharusnya dia memberi mahar dengan harga yang mahal untuk keluarga kita," ucap Ayah Aiko dengan nada menuntut.


"Keluarga? Ayah dan ibu bilang aku sudah bukan anak kalian lagi. Untuk apa Mika memberi mahar? Lagian sekarang aku sendirian dan tidak punya keluar-,"


Plak...


Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi mulus Aiko sehingga meninggalkan bekas merah.


"Brengsek! Kamu benar-benar tidak tahu diri!"


"Heh, kakek tua! Anda itu sudah tua, sadar diri bahwa umur anda tidak banyak lagi kenapa?!" cemooh Mia seraya menunjuk nunjuk mata Ayah Aiko dengan jarinya.


"Sudahlah Mia. Aku tidak mau bertengkar dengan siapapun," ucap Aiko. Dia menarik Mia untuk pergi dari cafe tersebut. Namun setelah melewati ayah Aiko mereka dihalangi oleh Yuki. Adik tiri Aiko.


"Kakak mau pergi kemana?" tanyanya dengan senyum licik memenuhi wajahnya.


"Bawa dia," suruh Ayah Aiko pada Yuki. Yuki dan ayahnya pun menarik Aiko untuk ikut dengan mereka.


"Kalian berdua mau membawaku kemana?" ucap Aiko seraya meronta untuk melepaskan diri.


"Sebaiknya kakak diam dulu sebentar," Yuki pun menutup mulut Aiko dengan kain dan memaksa Aiko menghirupnya. Seketika Aiko tidak sadarkan diri dan dibawa oleh Ayahnya.


Melihat hal tersebut Mia tidak tinggal diam.


"Woy, kalian ini main bawa aja. Dikira barang apa, ini istri orang, loh," gerutu Mia seraya menarik tangan Aiko yang sudah terkulai lemas.


"Minggir *****!" namun Yuki menendang Mia dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Akhirnya dia membiarkan Aiko dibawa oleh dua orang itu karena dia sendiri terluka.


"Anda tidak apa-apa nona?" tanya seorang pelayan yang menghampiri Mia dengan cemas mengenai keadaannya.


"Tidak ada apa-apa matamu itu dua. Bukannya tolongin aku tadi malah diam aja. Gimana sih?" omel Mia pada pelayan itu seraya meringis kesakitan.


"Maaf nona," jawab pelayan seraya menunduk.


Mia berdiri. Dia mencoba mencari cara untuk menolong Aiko dan melihat tas Aiko yang masih ada di meja. Mia mengobrak-abrik tas Aiko.


Dia mengambil kartu kredit yang ada didalamnya. Bukan untuk mencurinya loh.


"Wih, kartu kredit titanium! Eh, buset salah woy, bukan itu yang dicari," Mia meletakan lagi kartu itu dan mengambil ponsel Aiko. Dia menelpon Mika untuk mencari bantuan.


"Ada apa? Apa uang yang kuberi kurang?" ucap Mika dari seberang telepon.


"Kurang palalu itu satu," ucap Mia dalam hati.


"Ah, ini Mia bukan Aiko,"


"Ha?? Kenapa ponsel Aiko ada padamu?" tanya Mika dengan nada menyelidik.


"Itu Aiko dibawa oleh ayah dan adiknya entah kemana. Cepat tolong dia. Pasti dia dalam masalah," jawab Mia.


Tut...tut....Tut...


Mika menutup telepon sepihak. Mungkin saking paniknya.


"Ya elah. Aku dicuekin," ucap Mia seraya tertawa kecil. Sepertinya dia melupakan rasa sakitnya.


Mia keluar dari mall dan berniat untuk mengembalikan tas Aiko. Namun niatnya tidak jadi karena mobil mewah Mika duluan mencegatnya.


"Ha? Apaan lagi?"


Mika membuka jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya.


"Tunjukan aku rumah orang tua Aiko. Masuklah ke dalam mobil sekarang," suruh Mika dengan nada dingin dan membuat Mia gemetaran takut. Dia pun menuruti Mika dan masuk ke dalam mobil.


"Anu, tuan Mika. Ini tas Aiko tertinggal," Mia menyodorkan tas Aiko ke arah Mika yang sedang menyetir, "Sepertinya lebih baik aku berikan pada anda," lanjut Mia dengan keringat dingin tidak henti hentinya mengalir.


"Taruh saja di laci bawah," jawab Mika tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Nada dingin dan datar tidak hilang dari Mika. Sepertinya emosinya sempat tersulut. Mia pun menurutinya.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Aiko.


Mika dan Mia keluar dari mobil. Rumah yang besar berkesan mewah namun seperti tidak pernah digunakan. Mika berdiri di depan gerbang rumah tersebut dan mengambil ponselnya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" suara seorang pria dari seberang dengan sangat sopan siapa lagi kalo bukan Leo.


"Datang kemari dengan para pengawal dalam 5 menit atau aku potong kepalamu," ucap Mika dan mematikan ponselnya sebelum Leo menjawab.


5 menit kemudian Leo datang dengan empat mobil hitam mengikuti mobilnya. Lima mobil itu berhenti tepat di depan Mika. Mereka semua keluar dari mobil dan mengikuti Mika masuk ke dalam rumah tersebut.


"Antar gadis ini ke rumahnya," suruh Mika pada salah satu pengawalnya untuk mengantar Mia.


"Baik tuan," jawab salah satu pengawal dan berjalan menuju Mia yang sedang melongo melihat pemandangan di depannya.


"Biar saya antar anda nona,"


Seorang pengawal membuyarkan lamunan Mia, "Ah, tentu,"


Mia langsung masuk ke dalam salah satu mobil para pengawal dan diantar menuju rumahnya.


°°°


Braaakkkk......


Pintu rumah orang tua Aiko di tendang paksa oleh Mika.


"Kakak ipar," sambut Yuki dengan ramah. Namun tidak dihiraukan oleh Mika.


"Dimana Ai-"


"Wah wah, ternyata ada menantu ke rumah," ucap Ayah Yuki memotong perkataan Mika. Mika langsung menatap orang itu dengan mata elangnya dan membuat nya berkeringat dingin.


Ayah Yuki melihat pintu rumahnya yang lepas, "Apa ini? Apa ini termasuk keramahan dengan mertua?" lanjutnya dengan menekan kata mertua membuat Mika muak mendengar nya.


Mika mengangkat satu tangannya. Memberi kode pada semua pengawalnya. Mereka pun menodongkan pistol pada Yuki dan ayahnya. Seketika nyali mereka untuk membuat Mika tunduk lenyap seketika.


"Aku malas mengulang perkataan. Jadi cepat katakan. Dimana Aiko sekarang?" tanya Mika.


Dia maju beberapa langkah ke arah Ayah Aiko. Angin berhembus dan membuat jas hitam panjang Mika berkibar. Matanya merah menyala dengan tatapan dingin dan datar. Membuat siapa saja pasti merinding melihatnya.


"Ahahaha, ternyata kamu mencari dia," ayah Yuki tertawa keras menghilangkan rasa takutnya.


Klek....klekk...


"Jangan membuat kami menunggu," Leo maju dan mengarahkan pistolnya ke kepala ayah Yuki.


"Sekarang pasti sudah terlambat. 10 menit lalu dia di bawa ke rumah sakit untuk mendonorkan satu ginjal pada ibu nya,"


Pupil Mika gemetar dan langsung mengambil alih pistol yang dibawa oleh Leo.


Dorr...


Satu peluru mendarat tepat di kaki kiri Ayah Yuki. Dia pun mengerang kesakitan.


"Sia*an," Mika membanting pistol yang dia pegang dan berjalan keluar. Yuki yang melihat tersebut mengambil pistol tersebut dan menembak punggung Mika.


"Matilah! Dasar bedebah,"


Dorrrr....


Satu peluru terbang menuju punggung Mika.


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil