
Taksi yang Mia tumpangi berhenti di depan gedung besar. Rasanya tidak asing dengan gedung tersebut.
Mia turun dari mobil dan dia langsung masuk ke dalam gedung tersebut.
"Yang benar saja. Tidak mungkin kan aku bertemu dengan orang yang bahkan tidak aku kenal," gumam Mia kesal.
Mia menghentikan langkah kakinya. Dia menolah noleh ke sana kemari melihat orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri.
"Aku benar-benar tidak bisa,"
Mia berjalan pergi meninggalkan gedung tersebut. Entah kenapa perasaan tidak enak selalu menyelimuti nya.
Mia mengotak-atik ponselnya sebentar. Tanpa ia sadari ada seseorang dari belakangnya.
Hup..
Orang yang sedari tadi mengikuti Mia itu menyekapnya dan membuat Mia pingsan seketika. Sebuah mobil hitam menghampiri orang tadi dan memasukan Mia ke dalam mobil tersebut. Entah kemana tujuannya.
•••
"Aku tidak percaya akan seperti ini jadinya. Ego benar-benar membimbing ku ke arah yang sangat sangat benar haha. Andai saja aku bisa mati saat ini, aku tidak akan menanggung semuanya. Aku benar-benar bodoh..."
Semakin lama berpikir rasanya kepala Yuhi hendak meledak. Kesalahan nya sangat fatal sampai menjadi seperti ini.
Dia melihat ke arah luar lewat jendela ruangan rawat Aiko. Malam yang dingin datang lagi membawa kedamaian serta kesialan bagi setiap orang.
Di bawah lampu jalan yang menerangi seluruh tempat ada seorang anak kecil yang berjalan dengan digandeng oleh kakaknya.
Mata Yuhi yang semula redup kembali bersinar melihat kakak beradik itu bercanda di bawah langit malam dengan kabut dingin yang menyelimuti seluruh kota.
Senyuman dari mereka mengingatkan Yuhi akan masa lalu. Membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri.
Perlahan dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Dia terlihat seperti menelpon seseorang.
"Selamat malam..." ucap seorang wanita dari seberang telepon.
"Dalam waktu dekat aku akan menitipkan seseorang padamu. Ku mohon jangan berpikir macam-macam," ucap Yuhi melembutkan nada bicaranya.
"Ah, tidak apa. Aku akan meminta penjelasan langsung dari orang yang kamu titipkan. Tetapi dia bukan barang jangan katakan dia itu titipan,"
"Maaf merepotkan. Tetapi masih agak lama. Karena....," Yuhi menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah kembali menimpanya.
"Karen???? Jangan-jangan kamu kena masalah lagi,"
"Sudahlah jangan dipikirkan. Aku harus menyelesaikan beberapa masalah dahulu. Jika semuanya sudah selesai, akan aku hubungi lagi kamu,"
"Tentu saja. Senang kamu masih mengingatku,"
Sambungan telepon diputus sepihak. Yuhi menurunkan tangannya. Kepala pening memikirkan apa yang harus dia lakukan.
•••
Keesokan harinya Leo datang ke kantor Yuhi. Ah, Yuhi kemarin malam pulang karena tidak diperbolehkan menginap. Hal tersebut disebabkan karena Yuhi bukan kerabat dekat Aiko. Jadi lebih baik dia pulang saja karena pihak rumah sakit tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu di luar kendali mereka.
Leo langsung masuk ke dalam kantor Yuhi yang berantakan layaknya kapal pecah. Kertas-kertas yang berserakan di mana-mana serta obat-obatan yang diletakan tidak di tempatnya.
Pandangan Leo menyapu seluruh ruangan. Kemudian dia melihat Yuhi yang terkapar di lantai dengan jas putihnya yang masih menempel cantik di tubuhnya.
"Bocah ini benar-benar tidak peduli sekitar ketika sudah tidur," omel Leo seraya melangkah masuk ke dalam ruangan Yuhi dan membangunkan nya.
"Hoammm....," Yuhi bangun dan langsung duduk di kursi nya seraya menguap.
"Jadi kenapa kamu datang kemari pagi-pagi buta begini?" tanya Yuhi dengan mata yang berair karena menguap.
"Cuci mukamu dulu sebelum kita bicara," suruh Leo dengan pandangan dingin ke arah Yuhi.
"Sudahlah. Aku harus pulang setelah mendengar omong kosong mu kali ini," ucap Yuhi enteng.
Leo hanya menghela napas mendengar apa jawaban yang diberikan Yuhi.
"Jadi?" tanya Yuhi kembali memastikan.
"Kamu ingat gadis yang bernama Mia kemarin?" tanya Leo dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Yuhi.
"Sejak kemarin malam dia tidak bisa dihubungi. Tadi pagi juga aku tidak menemukan jejaknya," ujar Leo dengan nada berat.
"Mungkin saja Stella menyekapnya, mengancamnya dengan sesuatu miliknya yang berharga, dan akhirnya dia akan berakhir seperti ku," jawab Yuhi kembali menguap dengan lebar dan membuat Leo heran mendengar apa yang dikatakan nya.
Yuhi memang tidak peduli dengan semua yang terjadi disekitarnya. Bahkan sejak dulu Yuhi tidak terlalu mementingkan pendidikan nya sendiri serta penampilan. Prinsipnya hanya satu, 'kenapa aku harus memperdulikan pendapat orang lain jika aku sudah nyaman seperti'. Tetapi, semua hal yang muncul di kepalanya sangat tidak disangka.
.
.
.
"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Leo lagi.
"Aku tidak peduli dengan gadis itu. Tetapi lebih baik kamu cari saja dia," jawab Yuhi seraya membenarkan kacamata yang miring karena dia bawa tidur.
"Akan aku cari sekarang," Leo langsung pergi dari tempat Yuhi dan segera mencari keberadaan Mia.
Yuhi kembali menguap. Dia melepaskan jas putihnya dan kembali merebahkan diri di atas lantai.
"Aku masih mengantuk,"
•••
Dokumen yang menumpuk di atas meja serta laptop yang masih menyala menghiasi meja kerja Mika saat ini. Dia memijat pelan pelipis nya.
"Aku merasa melupakan sesuatu. Tetapi apa?" gumam Mika yang duduk sendirian di dalam ruangannya.
Mika mendalami lagi isi kepalanya. Rasanya ada yang kosong.
Rangkaian memorinya terputus entah apa sebabnya. Beberapa hari ini juga rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.
"Haruskan aku cari gadis bernama Aiko itu?" tanya Mika dalam hati karena mengingat apa yang Leo ucapkan kemarin.
Nyutttt....
Rasa sakit di kepala Mika datang lagi. Dia memegangi kepalanya. Kemudian sebuah gambaran buram muncul begitu saja.
Helaian rambut pirang diterpa angin. Gadis yang dilihat Mika sangat cantik walaupun hanya terlihat dari belakang. Gadis tersebut menoleh ke arah Mika.
Mata birunya yang bagai berlian itu menatap tepat ke arah Mika. Dia tersenyum dengan bibir mungilnya yang terlihat seperti buah peach.
"Mika...,"
Mika membuka matanya dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Ia memegangi kepalanya yang semakin lama semakin sakit.
"Hah...hah...hah...," napasnya terengah-engah, tanpa ia sadari air mata mengalir butir demi butir.
"Siapa yang sedang aku cari?"
°°°
Tap....tap...tap...tap...
Yuhi berlarian di koridor rumah sakit dengan jas putihnya. Dia sangat tergesa-gesa menuju ke salah satu ruangan pasien.
Brakk....!!!
Yuhi membanting pintu dengan kasar dan melihat beberapa perawat serta dokter yang dengan lalu lalang dengan panik mengurus satu pasien ini.
"Tu Tuan Yuhi bagaimana anda bisa sampai kemari??" tanya salah satu perawat.
"Pergilah kalian!" suruh Yuhi dengan mata merah yang menyala membuat nyali dokter serta perawat di sana menciut. Dokter serta perawat yang tadi memenuhi ruangan langsung pergi. Yuhi masuk ke dalam ruangan dengan dua orang perawat yang mengikutinya.
"Ambil alat pacu jantung sekarang juga dan pastikan detak jantungnya kembali lagi!" suruh Yuhi cepat.
Dia melihat detak jantung Aiko yang turun secara drastis. Keadaan Aiko kritis dan Yuhi langsung datang ke sana.
"Tidak mungkin. Kumohon... Jangan sekarang. Kumohon.."
Keringat membanjiri Yuhi yang tengah berusaha mengembalikan detak jantung Aiko. Namun, rasanya sia-sia karena detak jantung Aiko rasanya akan berhenti.
.
.
.
.
Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil