Contract With You

Contract With You
Bab 5



"Apa aku tidak sebanding dengan Aiko?"


Rose menurunkan tangannya dan melempar ponsel yang dia pegang ke atas meja kerjanya. Selembar kertas jatuh dari atas meja. Rose hanya meliriknya sekilas kemudian dia duduk di bangku kerjanya dan menyalakan komputer yang berada di depannya. Tiba-tiba dia menyeringai dengan liciknya dan menghubungi seorang gadis dengan komputernya bernama "Glory".


°°


"Tuan, rapat akan di mulai 2 jam lagi dengan dewan direktur. Sepertinya mereka akan membahas beberapa hal tentang negoisasi kemarin," ucap seorang lelaki yang memakai pakaian rapi. Dia memegang beberapa lembar kertas sambil menghadap Mika yang berada di dalam kantor Presdir. Namanya Leo, dia adalah asisten Mika yang menempati posisi di atas Rose sebagai seorang asisten Presdir.


"Aku tahu. Bagaimana keadaan Aiko di kampus barunya?" tanya Mika tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen yang sedang dia kerjakan.


"Saya sudah mengirim seseorang yang menyamar di sana. Sepertinya nona Aiko baik-baik saja. Tapi, tadi saya melihat nona Rose sedang berbincang dengan seorang anak direktur keuangan dan membahas nona Aiko," jawab Leo dengan wajah serius. Tangan Mika berhenti menulis dan mengangkat wajahnya ke arah Leo.


"Aku juga menyuruh dia untuk mengirim seseorang, tapi dia membenci semua wanita yang mencoba mendekatiku," ucap Mika sambil tersenyum dan melanjutkan mengerjakan dokumen.


"Tuan tersenyum? Berarti akan ada masalah dengan Rose," ucap Leo dalam hati.


"Tolong urus beberapa dokumen ini," Mika memberikan tumpukan dokumen pada Leo, "Aku tidak begitu tertarik dengan negoisasi kakek tua itu. Pergilah ke kantormu dan kerjakan ini sendiri. Jika ada yang berani menyentuh dokumen ini selain dirimu, tancapkan garpu di dahinya," jelas Mika.


"Baik. Saya akan segera mengerjakan semua dokumen ini," Leo meninggalkan kantor Mika.


°°


Di Dalam Kelas Kuliah


Keputusan Mika untuk memindahkan Aiko ke Kampus Diary adalah pilihan terbaik menurut ibundanya untuk mempersingkat masa kuliah Aiko.


Setelah melewati waktu pelajaran berjam-jam, para siswa di izinkan untuk pulang. Begitu pun dengan Aiko. Dia terlihat sudah terbiasa dengan kampus barunya. Aiko tidak begitu suka bersosialisasi dan cenderung suka menyendiri. Selama di kampus dia hanya mencatat dan menyendiri di perpustakaan. Memang sejak dulu Aiko tidak terlihat sering bersama dengan temannya karena dia jarang memiliki teman.


Bel berbunyi dan guru keluar dari kelas diikuti oleh para murid yang keluar untuk pulang atau ingin mengikuti pelajaran tambahan. Aiko membereskan buku-bukunya ke dalam tas dan keluar kelas.


"Kelas ini jauh lebih sulit daripada kelas yang dulu. Bahkan banyak bab yang belum muncul di sini sudah dipelajari. Apa Mika berniat membunuhku di sini?" gumam Aiko dalam hati.


Dia berjalan melewati banyak murid-murid di koridor. Tiba-tiba seorang gadis menghalangi jalan. Aiko berhenti dan menatap seorang gadis di depannya. Seorang gadis dengan rambut hitam pendek dan baju minim berdiri dengan sombongnya di depan Aiko.


Aiko menghela napas panjang.


"Kamu menghalangi jalan. Menyingkirlah," Aiko tidak meladeni gadis itu. Dia melangkah melewati gadis tersebut.


"Cih, jangan sombong dasar anak baru!" di tengah kerumunan murid gadis asing itu menarik rambut Aiko dan membuat Aiko jatuh terduduk di lantai. Hal tersebut menarik perhatian murid lain dan menjadi tontonan.


"Ah! Lepaskan a-aku," ucap Aiko seraya menarik kembali rambutnya. Bukannya melepaskan rambut Aiko, gadis itu malah makin menariknya dan banyak helaian rambut rontok. Gadis itu juga menampar dan menendang wajah Aiko. Murid lain bukannya menolong malah menertawakan dan banyak yang ikut mencemooh Aiko. Kampus Diary memang salah satu kampus ternama di kota. Namun, tidak banyak yang tahu kampus tersebut diisi oleh anak orang kaya yang semena-mena dan tidak tahu aturan. Menghadapi hal tersebut Aiko hanya diam dan membiarkan dirinya ditindas bahkan sampai dilukai.


"Woy, gadis desa! Kamu itu tidak pantas di kampus ini. Hahaha, kamu tahu siapa aku? Aku adalah anak dari direktur ternama di Grup Aiha. Dan kamu tidak bisa di bandingkan dengan diriku. Oh ya, ingat namaku baik-baik di kepalamu, namaku Glory," ucapnya dengan angkuh dan melempar Aiko yang sudah tidak berdaya ke lantai sekali lagi.


"Beri jalan,"


Di saat para murid sedang menertawakan Aiko seruan seseorang dari belakang kerumunan terdengar sangat jelas di telinga Aiko. Semuanya sangat terkejut melihat siapa yang berdiri di belakang mereka. Seorang lelaki dengan mata tajam seperti seekor elang menatap mereka dengan penuh dendam. Pakaian serba hitam dengan jas panjang dan seorang asisten yang ada di sebelahnya. Ia menatap semua murid terutama gadis yang tengah terluka di tengah kerumunan. Matanya tiba-tiba beralih ke arah gadis yang bernama Glory. Seakan seperti seekor elang yang akan memangsa mangsanya. Dia mendekat ke arah kerumunan murid yang tengah menggigil melihat dirinya. Semua murid yang tidak tahu bahwa itu adalah Mika. Mika berjalan ke arah Aiko yang sedang berlinang air mata dan luka di sekujur tubuhnya.


"Bisa-bisanya istri seorang Presdir dilukai sampai separah ini," ucapnya seraya menggendong Aiko yang sudah tidak sadarkan diri. Semua yang ada di sana tercengang. Mereka tidak begitu mengenal wajah Presdir dari Grup Aiha yaitu Aiha Mika. Karena memang, Mika tidak pernah menunjukan dirinya dihadapan banyak orang.


"Tuan, apa yang harus kita lakukan pada mereka," Leo ternyata menunjukan sifat aslinya. Dia mengeluarkan kacamata dari dalam sakunya dan memakainya.


"Jual saham kampus ini dan beri pelajaran pada gadis yang bernama Glory itu," ucap Mika seraya melangkah pergi dengan menggendong Aiko di pelukannya.


"Baik, tuanku," Leo membungkukan badannya dan kemudian dia menghadap ke arah Glory.


"Baiklah nona, skakkmat untukmu,"


Semua siswa tercengang dan hanya bisa diam. Glory yang merupakan bawahan dari Rose menyerah dan dibawa oleh Leo.


Mika yang sudah berada di dalam mobil bersama dengan Aiko tidak terima dengan semua yang terjadi.


"Tuan, kemana kita akan pergi?" tanya supir pada Mika.


"Bawa aku ketempat orang itu sekarang," jawab Mika cepat.


Seorang lelaki sedang menyusun beberapa kertas di mejanya. Rambut hitam pekat serta mata merahnya yang seperti manik itu berkilauan.


"Hari-hari membosankan sepertinya akan terus menimpaku,"


°°


Menaklukkan Hati Si Gadis Kecil


*Halo semua, stay at home ya~


Jaga kesehatan kalian, serta jangan lupa menggunakan masker jika keluar rumah


Jaga jaraknya jangan kendor juga ya*~