CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Custom



" Maaf, Fladis. Dengan segala hormatku padamu. Aku tidak berencana untuk ambil bagian dalam permasalahan diantara kalian dan tetap memilih untuk hidup dalam kedamaian bersama Aya di manapun tempatnya berada. " lanjutnya melempar keputusan secara sepihak pada Aya mengenai hal-hal yang berkenaan dengan semua jaminan menggiurkan dari harta dan tahta yang akan diberikan dengan syarat bahwasanya mereka harus tinggal menetap dalam wilayah yang dilindungi oleh para tetua elf.


Mengingat salah satu isi buku catatan dari Reino yang berisi pemikiran mengenai pemaksaan kehendak terhadap dirinya terkait kebebasan yang dimiliki sebelum mengetahui niatan jelas dari para elf yang sebenarnya maupun para manusia yang mungkin menuntut balas jikalau pemimpin regu pasukan sebelumnya mengatakan bahwa dirinya merupakan penyebab masalah yang sebenarnya, keheningan dalam ruangan yang terjadi tepat setelah Reino menghancurkan meja kayu yang menjadi pemisah kursi negosiasi.


" Sa-saya sangat senang atas kebaikan yang Tuan Fladis yang memberikan banyak bantuan kepada kami dan karenanya, saya yang tidak memiliki apapun untuk membalaskan kebaikan yang Tuan berikan pada kami memutuskan untuk memberikan kemudahan bagi Tuan Fladis pada pertemuan di masa mendatang." ucap pelan dari Aya dengan memikirkan kata yang sesuai untuk mencegah terjadinya masalah diantara mereka setelahnya.


Menghela nafas panjang untuk menerima putusan itu sebelum mengacungkan pedangnya yang bersama dengan hal itu Reino menghadangkan tubuhnya untuk melindungi Aya mulai mengucap sebuah kata yang menjadi kunci pengaktifan kemampuan khususnya.


* Gbrubuuunggssss!!! * Lidah api yang menjulang begitu tinggi pada pohon besar yang menjadi tempat negosiasi sekaligus bagian penting dari benteng penjagaan dari perbatasan wilayah kekuasaan menarik perhatian para elf disekitar area pohon yang terbakar itu dan membuat para kesatria elf yang tengah bertugas mulai memberikan larangan kepada mereka yang berniat mendekati pusat area yang terbakar itu.


" * Swusuuunggssshssshsss * Anggap saja bahwa ini adalah peringatan pertama dan terakhir kalinya untuk kalian agar tidak kembali memaksakan kehendak kalian kepada kami berdua. " ucapnya sembari mengepakkan sayapnya untuk meniup habis api yang berkobar dalam area pepohonan yang terbakar.


" Dan mengenai peristiwa kalih ini, aku rasa kalian bisa menganggapnya sebagai sabotase pihak manusia yang sebelumnya berniat menghancurkan menara perbatasan dan atau mungkin kalian bisa menganggapnya sebagai kesalahan pola ajar kalian terhadap sihir pada diriku dan dengan alasan itupun aku memiliki alasan untuk tinggal lebih lama di tempat kalian untuk sekedar membantu kalian meredakan kekhawatiran untuk mereka yang mengandalkan kalian. " lanjutnya berjalan pada sisa area yang terbakar tepat setelah melihat ramai kekhawatiran dari para elf lain yang berkumpul di dekat tempatnya berada.


Menyepakati hal yang telah diajukan demi mempertahankan reputasi yang dimiliki tanpa mengaitkan diri pada masalah eksternal mengenai ras manusia yang menjadi musuh mereka di tengah upaya perdamaian yang masih berjalan, Reino yang sebelumnya telah berjanji untuk memulihkan kondisi dari para penjaga elf yang terluka mulai memenuhi tanggung jawabnya sebagai bentuk penyamaran diri atas ketidaksengajaan darinya yang kembali menewaskan banyak orang disekitar dirinya.


" Apa yang kamu maksudkan itu, Afi ? Titisan dewa ? Sungguh ? Apakah kepalamu tidak terbentur sesuatu sebelum kamu mengatakan hal itu kepadaku ?" ucap seorang dari sebuah batu kristal dalam ruang guild petualang yang tempatnya tidak jauh dari tempat Reino meninggalkannya tepat di dekat sarang besar dari para orc.


" Sedikit saran untukmu,teman baikku. Akibat dari kehilangan sosok mu yang disegani banyak kalangan maupun Magus Dgnefla, Bresaker Alakne dan beberapa prajurit kuat lainnya yang ikut dalam ekspedisi terakhirmu itu berimbas pada perpecahan diantara para penguasa yang berniat mengkudeta raja atas keputusan untuk mengirimkan kalian. " ucapnya sebelum menyarankan untuk meminta Afi agar mengubah identitas diri dan menjauhi segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya agar para pihak yang berniat buruk pada raja tidak melampiaskannya pada teman baiknya.


Duduk meringkuk di sudut ruangan sembari memikirkan kembali ucap Reino yang kembali timbul dalam ingatan tidak lama berlalu setelah kebenaran dari dirinya telah dianggap tiada oleh beberapa penguasa meski raja masih meyakini keberadaan dirinya, salam sapa dari seorang guild master pria yang menjadi penanggung jawab para petualang dari tempat Afi berada membuatnya segera menyodorkan sedikit uang yang dimiliki demi menghapus jejak diri sesuai saran dari teman baiknya.


" Baik, Reino. Dengan begini pendaftaran diri sebagai seorang petualang telah selesai di konfirmasi. " ucap Fladis yang mengabulkan janjinya pada Aya dan Reino setelah keduanya membantu dirinya meredakan kekhawatiran para penduduk desa perbatasan.


Menepuk pelan bahu dari Reino yang masih memakai pakaian bernoda hitam arang serta aroma pengap yang cukup menusuk penciuman, Reino yang memberikan sedikit uang yang didapat dari beberapa jasad yang tergeletak di antara ruangan yang terbakar sebelumnya pada Fladis dengan membisikkan permintaan bahwa Fladis dapat memberikan sedikit bantuan pada busana yang nampak elok pada dirinya maupun Aya.


" He,em. Seleramu cukup bagus, Fladis. Aku suka." ucap Reino memuji busana barunya yang hampir sama dengan busana penyihir yang didapat dari jasad penyihir yang telah kehilangan nyawa namun dengan corak kepala burung hantu dan bulan sabit yang jauh berbeda pada corak kesatria wanita dengan sayap sebelumnya.


Mengalihkan pandangannya begitu Aya memanggil dirinya, pandang mata yang tidak beralih dari belahan dada yang cukup terbuka dalam balutan busana lusuh nan kumal layaknya pelayan rendahan sedikit membuat Reino kesal dalam hatinya meski dalam cara pandang yang berbeda, gejolak nafsu mulai timbul tak kala tonjolan pada bagian dada dari Aya mulai nampak dalam posenya yang nampak enggan mengenakan busananya.


" Apa yang perlu anda khawatirkan, tuan. Sama seperti ras manusia yang memandang rendah mereka yang diperjualbelikan, busana yang dikenakan untuk pelayan rendahan seperti dirinya dapat memberikan sedikit perbedaan status antara dirinya dengan anda. " balas Fladis dengan sedikit menekankan kebenciannya pada Aya yang sebelumnya mengambil keputusan yang bertentangan dengan harapannya tak kala Reino mengajak dirinya untuk berbicara empat mata atas maksud tujuan dari Fladis mengenai busana yang Aya kenakan.


Memberikan sedikit gambaran mengenai kejamnya dunia terhadap mereka yang terlahir berbeda maupun mereka yang tidak dianggap sebagai sosok dengan status yang setara, sedikit tawa atas dunia yang menjadi tempatnya berada yang hampir sama dengan dunia asalnya membuatnya menyadari bahwa perencanaan hidup yang sempurna sebelumnya tidak akan berjalan sempurna selama sistem yang mengatur perdagangan dari ras berbeda masih menjadi kebiasaan dari mereka yang hidup dalam dunia asal Aya berada.