
" Raenska Bow, adalah busur sakral yang mampu menciptakan anak panah ajaib yang dapat meniadakan unsur penghalang diantara langit dan bumi untuk mengenai satu sosok yang menjadi targetnya. Sementara Destrucion Arrow sendiri merupakan anak panah legendaris yang mampu menghancurkan sistem tatanan langit dan bumi sebagaimana yang pernah terjadi pada masa peperangan dewa-dewi dan membuat para dewa-dewi yang selamat harus mengatur ulang sistem tatanan dunia baru untuk memompang kehidupan lama sebelumnya. " gumamnya pada seorang Dewi sembari menyentuh bola seukuran telapak tangannya yang berjalan kearahnya.
Berteriak sangat keras akibat sebuah tubuh kadal raksasa dengan enam kaki dan gading besar bergerigi yang tiba-tiba jatuh dari langit didekat tempatnya berdiri sontak membuat Aya maupun Spia yang melihatnya kembali menjelaskan bahwa area kosong yang ada di didekat goa bukan diperuntukkan untuk bersantai manja melainkan tempat pendaratan dari hewan buruan yang diburu oleh Reino sebagai bentuk latihan akurasi dari ketepatannya melemparkan setiap hasil buruan sebelumnya.
" Ayo Kak Aya! Kita lakukan hal itu agar nanti diwaktu Kak Rei kembali, kita bisa dipuji kembali!! " ucap Spia dengan begitu semangatnya mengajak Aya untuk menjagal hewan hasil buruan itu dengan segera menggunakan pedang para bandit sebelumnya maupun peralatan lain yang dirasa berguna.
Memahami maksud dari perkataan Aya mengenai kelompok mereka yang tidak biasa terutama pada keteguhan hati maupun mental dalam diri yang tidak akan segan melakukan hal diluar akal untuk memenuhi harapan dari Reino yang telah menyelamatkan mereka, ucapan ramah dari Reino yang datang dengan tas perlengkapan yang kembali penuh dengan bahan ramu ramuan maupun material untuk dijual memberikan kesan luar biasa bagi Mili dan Rara yang untuk pertama kalinya bisa ikut membedah tubuh dari seekor makhluk hidup dengan penuh keterpaksaan.
" Bagaimana pendapat kalian mengenai masakan ku ? " lanjutnya mencoba mendengar pendapat dari Mili dan Rara yang nampak menahan diri untuk tidak mempermalukan nama baiknya sendiri di waktu melihat Aya dan Spia nampak meminta tambahan porsi untuk kesekian kalinya.
Tersenyum senang sembari mengusap kedua kepala mereka sebelum memberikan porsi ekstra untuk mereka yang dengan begitu jujurnya mengucapkan keinginan dalam diri mereka meski jawaban itu berasal dari perut mereka sendiri.
" Kak Rei! Kak Rei! Bisakah aku meminta bantuan kakak untuk meramu ramuan seperti kemarin lagi ? hihihi. " ucap Spia dengan semangat setelah merasa bahwa perasaan hangat dan nyaman dari Reino telah membekas dalam hatinya dan ingin kembali merasakan itu kembali.
Menolak permintaan itu dengan senyuman sembari beralasan bahwa dirinya dan Aya hendak menjual beberapa bahan material maupun ramuan buatan dari Spia sendiri kepada desa yang pernah mereka singgahi yang dirasa menghabiskan cukup banyak waktu sebelum kembali, Spia yang enggan untuk merelakan hal itu justru memilih untuk ikut dalam perjalanan itu sembari menambahkan keinginannya untuk membelikan beberapa baju ganti pada Mili dan Rara.
" [ Walah, benar. Ini pertama kalinya tuanku melihat hal semacam ini di duniaku.] " ucap Aya dalam hati sembari melihat wajah tuannya yang nampak bingung mencari jalan yang dapat dilalui untuk mencari desa sebelumnya.
Memotong ucapan tuannya yang nampak enggan untuk membahas tentang apa yang ada dihadapan mata dengan menjelaskan bahwa selama beberapa dekade terakhir tuannya hanya hidup dalam satu tempat yang sama tanpa memperdulikan perubahan tata letak dari tanah yang bergerak, Reino yang sadar bahwa Aya yang mengucapkan kebohongan bertujuan melindungi dirinya mengenai identitas yang sesungguhnya mulai membuatnya mengucap pembenaran itu.
" Ulpetrs Overlay, adalah fenomena alam yang sering kali terjadi pada beberapa tempat tertentu yang memiliki eksistensi lebih terhadap energi sihir disekitarnya. " Jelas Mili yang sembari melihat bagian ujung sisi dari tempat mereka berdiri untuk memastikan sejauh mana pulau melayang itu membawa mereka dari asal semula.
" Dan karena satu hal tabu yang melekat didalam anak panah itu, tatanan dunia baru yang berubah dalam satu waktu akan dianggap sebagai fenomena alam semata untuk mereka yang hidup didalamnya. " lanjut sang Dewi setelah beberapa dewa-dewi muda yang bermain bola sebelumnya pergi meninggalkan altar tempatnya berada di waktu altar lain yang lebih luas menyatukan diri layaknya puzzle.
Menarik nafas panjang untuk memberikan jeda diantara penjelasan Mili dan Nara yang semakin banyak menimbulkan tanya daripada pemahaman yang memakai logika, pemberian contoh lain dari penjelasan para mahluk hidup dalam dunia itu yang memanfaatkan akalnya sering kali menciptakan benda sihir serupa tali cambuk yang digunakan Reino untuk mengikat beberapa pulau melayang untuk dijadikan pemukiman, ladang pertanian ataupun wilayah perburuan dan pengumpulan bahan.
" * hyuuuuusssshhhh* Baiklah. Secara garis besar aku sudah memahaminya, lalu bagaimana dengan apa yang kamu lakukan itu ? apakah ada petunjuk mengenai desa persinggahan sebelumnya ? " ucapnya pada Mili setelah berjalan diantara sisi ujung pulau melayang itu dengan mencari sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk mengenai keberadaan mereka.
Menganggukkan kepalanya setelah menemukan apa yang dicari sebelum meminta Reino untuk
melepaskan tas perlengkapan itu untuk membawanya ke bagian dasar dari pulau melayang itu untuk meyakinkan diri, Reino yang mungkin bisa mempelajari kemampuan itu segera melepaskan tas perlengkapan itu dan terbang jatuh ke satu arah yang ditunjukkan oleh Mili.
" Matsemora! " teriak Mili sembari menunjuk ke arah batuan kecil yang nampak melayang diantara kekosongan langit dan bumi.
* Sclisings* kilau cahaya yang mulai memadatkan diri membentuk benang sihir berlapis layaknya surai dengan warna pelangi perlahan membentuk sebuah tali temali yang menunjukkan satu arah yang diucapkan Mili sebagai tempat dari keberadaan desa persinggahan yang sempat rombongannya datangi.
" Tenanglah, tuanku. Kami berdua dapat terbang menggunakan kemampuan sihir yang dipinjam dari ruh angin dan karenanya jangan terlalu khawatir terhadap keberadaan kami berdua. " balas Mili menyembunyikan rasa takutnya atas jarak yang terlampau jauh untuk di tempuh dengan hanya menggunakan kemampuannya.
Menanyakan kesanggupan Mili kembali untuk kesekian kali sebelum benar-benar terbang mengikuti kilau cahaya pelangi diantara lautan awan yang sering kali mengganggu pandangan, rasa khawatir atas keberadaan Mili dan Rara yang nampak memaksakan diri membuatnya mengikatkan diri diantara tubuhnya mereka berdua demi meredakan kekhawatirannya.