
* Gbragh * mendengar benturan cukup keras tidak jauh dari tempat tuannya meminta waktu privasi dengan Fladis, Aya yang merasa penasaran atas apa yang terjadi mulai mencoba mengintip dari sisi pintu bagian belakang yang sedikit terbuka.
" Baiklah,baik. Aku akan ikuti peraturan yang telah ada itu untuk sekarang. Namun, ingatlah Fladis. Di suatu hari nanti, kamu akan menyesalinya. [ Karena aku pasti akan membentuk sebuah kelompok maha dahsyat yang mampu membuat gentar seluruh alam dunia ini.] " ucapnya menerima nasehat Fladis mengenai hukum norma sosial terkait para pelayan yang sama sekali tidak dihargai di mata mereka.
Mengingat ucapan Fladis mengenai asal usul dari norma sosial itu sendiri tidak terlepas dari keserakahan para ras yang masing-masing dari mereka menginginkan wilayah makmur untuk ditinggali meski harus mengorbankan api peperangan yang pada akhirnya membumihanguskan kesetaraan hak atas ras, kesetaraan gender maupun usia.
" Maaf ya, Aya. Untuk sekarang kamu harus berpenampilan seperti itu di mata mereka. " ucapnya dengan rasa bersalah sembari menutupi tubuh Aya yang hanya terbalut kain lusuh itu dengan jubah penyihir yang dibeli sebelumnya.
Mengucapkan keinginannya untuk menciptakan sebuah negara minoritas yang terbangun dari seluruh ras yang tertindas sebagai salah satu bentuk kepedulian diri untuk memberikan sebuah tempat perlindungan sekaligus pembebasan untuk mereka, nada ucapan dari tuannya yang terdengar serius itu menimbulkan rasa resah dalam dirinya tak kala membayangkan banyak wanita yang akan mengelilingi tuannya seperti saat dirinya melihat begitu banyak wanita dalam ruangan bawah tanah di waktu perpisahan terakhir tuannya sebagai seorang ketua organisasi gelap sebelumnya.
" Nah, nah. Sekarang kenakan pakaian ini untuk menutupi kemolekan tubuhmu. " ucap Reino yang membuat Aya terkejut begitu mendapati beberapa busana harian dari penduduk elf begitu sampai dalam rumah singgah mereka.
" Mereka memang berkata demikian untuk membedakan antara status tuan dan pelayan, namun mereka tidak bilang bahwa aku tidak boleh memperlakukanmu sebagai pelayan dalam rumahku sendiri. [ meski rumah singgah inipun hanya menjadi rumah sementara kami. " lanjutnya menenangkan Aya yang masih enggan untuk melakukan apa yang dirinya minta.
Memandang gemas wajah Aya yang semakin tembam dalam riasan wajah serupa penyihir gelap pengguna sihir kebangkitan dengan tetap menampakkan kemolekan tubuhnya secara samar diantara warna hitam legam yang bercampur dengan warna ungu kehitaman, memberikan jawaban atas busana yang begitu indah membalut tubuh Aya dengan mengucapkan keterbukaannya yang memberikan beberapa koin emas untuk menutup mulut dari pemilik toko busa sebelumnya maupun beberapa busana serupa yang tersembunyi diantara busana harian yang dibawanya.
" Hehe. [ku harap jalan hidup yang kamu lalui akan lebih baik dari akhir perjalanan hidupku saat ini.] " ucapnya dalam diam sembari menahan rasa sakit yang teramat dalam tak kala ruangan yang menjadi tempatnya berada mulai diselimuti asap tebal dari bola api membara yang menghancurkan salah satu dinding penyangganya.
Tawa lepas yang keluar di waktu menara tinggi tempatnya berada mulai menampakkan tanda keruntuhannya, sebuah lingkaran sihir tingkat tinggi yang melukiskan diri di angkasa mulai menatuhkan ribuan bola api yang seketika itu meluluhlantakkan seluruh area tempatnya berada di saat yang sama dengan kaburnya pengelihatan mata maupun kesunyian yang mulai menyelimuti dirinya.
Merasa sedikit kesal atas perlakuan para elf disekitar yang menganggap rendah Aya sebagai pelayanannya meski ada juga perasaan senang tak kala mendengar bahwasanya ada beberapa dari mereka yang sesekali membelanya, ucapan keras dari seorang petualang dari rank yang cukup tinggi mulai mengatakan bahwa mereka harus menjaga sikap pada Reino maupun Aya terkait keberadaan mereka yang cukup membantu dalam investasi penting mengenai anomali dari energi sihir alam yang sempat menggoncang dataran tinggi tempat mereka berada.
" Kembali ke pembahasan utama kita mengenai syarat dasar dari pemberian ijin petualang pada kalian. Sebagai petualang pemula, hal dasar yang harus kalian ketahui selain dari perlengkapan yang memadai baik itu bergantung pada kelas pekerjaaan yang dimiliki atau perlengkapan menunjang lain sama halnya ramuan penyembuhan, stamina, penawar racun dan sejenisnya. Kalian diwajibkan untuk mengetahui dasar dari wilayah yang berdasarkan pada batas wilayah saat ini, zona pembeda wilayah yang terbagi menjadi beberapa bagian dan hal dasar lain mengenai cara pembelaan diri terhadap berbagai ras yang mencoba menyerang maupun beradu paham terkait negosiasi dalam berbagai aspek kehidupan, politik maupun perdagangan. " jelasnya menarik inti keberadaan mereka yang merasa baru pada adanya hal merepotkan semacam ini.
Membenarkan anggapan mereka sebelum mengatakan adanya beberapa permasalahan baru terkait para petualang dari ras mereka uang beradu paham dengan para petualang dari ras yang berbeda pada masa transisi menuju perdamaian atas usulan para pahlawan di waktu sebelumnya, pandangan baru terhadap dunia tempatnya berada merupakan dunia yang tengah berada dalam masa genting setelah kematian sosok petaka yang disebut sebagai raja iblis membuatnya merasa bahwa keinginannya untuk menciptakan sebuah wilayah dari kaum minoritas mungkin dapat lebih mudah terkait dengan masa transisi yang telah dijelaskan meski pada kenyataannya dirinya hanya bisa berangan bahwa hal itu bisa lebih sederhana daripada mencari jerami diantara tumpukan jarum.
" * Nah * M~, baiklah. Perkenalkan namaku Reino Ranca. Seorang pelayan biasa yang memperoleh kemerdekaan dari tuannya yang tidak lain merupakan penyihir agung dari ras yang sama di waktu akhir sebelum perang besar meniadakan dirinya maupun ras yang sama denganku dan menjadikan diriku satu-satunya sosok yang bertahan hidup selama beberapa dekade ini dalam hutan belantara sebelum bertemu dengan Aya dan setelahnya bertemu dengan kepala penjaga yang dikenal sebagai Fladis. " ucapnya memperkenalkan diri sebagai seorang mantan pelayan dari seorang penyihir yang didasarkan pada rangkaian kejadian nyata di waktu sebelumnya.
Menunjukkan buku sihir milik penyihir dari ras manusia yang dipimpin oleh Afe sebagai tanda bukti kebenarannya maupun klarifikasi terkait masa lalu yang ikut hilang di telan waktu, ucapan kecil yang berkaitan dengan ketidak mampuan dirinya mengendalikan sihir membuat beberapa dari mereka mulai mengejeknya.
* Zrbsss!! Gbrubuuunggssss!!!! * Kilat cahaya yang tiba-tiba menyambar tepat di bagian tangannya yang masih mengenakan pakaian penyihir sakral dengan gelang emas pemberian para dewa sebelumnya, gemuruh suara yang perlahan menghilang membuat gemetar para elf dihadapannya tak kala ucap nada lirih berisi ancaman mulai terdengar setelahnya.
" Sekali lagi, mohon kerjasamanya." lanjutnya membungkuk hormat sebelum kembali ke dalam barisan para elf yang nampak memberikan langkah pelebaran pada barisan rapat sebelumnya.
" [ Dengan begini, aku harap tidak ada elf bodoh yang melakukan kesalahan yang sama seperti Fladis. ] " pikirnya dengan memberikan senyuman balasan pada elf yang memperkenalkan diri setelah perkenalan dirinya selesai.