
" [ Aku harap aku tidak benar-benar melakukan hal buruk kepada Spia, di waktu Dewi Nara kembali menarik alam bawah sadar ku ke dimensi itu.] " pikirnya sembari enggan untuk membuka kedua matanya di waktu kelembutan yang terasa bagaikan kue mochi nan kenyal mulai memenuhi telapak tangannya.
Membuka perlahan kelopak matanya sembari mengarahkan pandangannya yang dirasa aman untuk melihat ke arah langit yang nampak berwarna jingga, suara dengkuran yang cukup jelas ditelinga membuatnya yakin bahwa Spia yang kehilangan banyak stamina telah tidur dalam dekapannya.
" Kak Rei ? Apakah Kak Rei sudah merasa baikan ? " ucap Spia di waktu Reino mencoba memandang sosok yang ada dalam dekapannya.
Terkejut dengan keberadaan Spia yang ada dihadapannya sementara Aya nampak pulas dalam tidurnya sembari memeluk erat lengan kanannya, sedikit penjelasan mengenai hal yang terlewat dari Reino ketika kehilangan kesadarannya membawa senyuman senang tak kala mendengar bahwa Aya ikut ambil bagian besar dalam sebuah sihir tingkat menengah yang mampu menyembuhkan luka fatal dalam tubuhnya.
" He, em. Begitu, ya ? Memang selain dari rasa lelah yang cepat sekali dirasakan selama melakukan beberapa hal dasar seperti biasa, Aya memang sering kali mengatakan bahwa aku tidak perlu memaksakan diri pada penggunaan sihir yang selalu di luar kendali [ dan sesekali membuat beberapa elf terluka tanpa aku sadari.] " ucapnya menyambung penjelasan Spia mengenai luka fatal yang mengoyak bagian inti saluran dari energi sihir dalam diri yang secara normalnya terpusat pada bagian tengah dada.
Melemparkan potongan kayu ke dalam api unggun yang masih menyala sembari menikmati suasana malam yang jauh berbeda dari sebelumnya, gejolak nafsu yang mulai timbul di waktu melihat Spia yang tertidur pulas dengan pakaian yang nampak ketat bagiannya hingga menampakkan jelas kemolekan tubuhnya.
" [ Tidak, aku sudah berjanji pada mereka bahwa Aya adalah satu-satunya sosok yang akan menemaniku sampai akhir hayat tiba. ] " ucapnya dalam hati sembari mengusap bagian matanya yang terpejam untuk membuang jauh pemikiran hina terhadap apa yang dilihat sebelumya.
Merasakan sesuatu yang dirasa bergerak diantara bagian bawah dari tubuhnya sebelum mengusap kedua matanya untuk memperjelas pandangan mata, sebuah usapan pelan dari lengan besar tuannya yang tiba-tiba menahan tubuhnya mulai membuatnya senang dengan berprasangka bahwa tuannya sudah mulai bersedia untuk berhubungan intim dengan dirinya.
" Tu--tuan, Rin ? Be--benarkah itu ? " balasnya dengan bibir yang gemetar tidak percaya atas ucapan Reino yang menginginkan banyak anak dari dirinya.
Memejamkan matanya kembali dengan paksa sembari bersiap mendengar kesungguhan jawaban dari Reino yang secara perlahan mulai memainkan jarinya diantara bagian dada darinya, suara dengkuran yang dikenal olehnya kembali membuatnya kecewa bahwasanya menyadari bahwa Reino tengah melindur dalam tidurnya.
" * Hwaaaahhhmmsss * [ Aku harap hari ini adalah hari yang damai kembali.] " pikirnya sembari merenggangkan tubuhnya diatas alas rerumputan yang ditutupi kain lusuh sebelumnya.
Memandang langit cerah berawan sebelum bangkit dari tidurnya bersama dipindahkannya tubuh Aya yang ada dalam dekapannya, perasaan dari tubuh yang semakin terasa ringan maupun sensasi lain dari sebuah pandangan alam yang nampak bersinar membawa harapan baru untuk melewati hari dengan penuh rasa bahagia bersama Aya yang menemani dirinya.
" Selamat pagi, Kak Rei. " ucap sapa Spia yang membuat Rei nampak terkejut melihatnya.
" Apakah mungkin kamu melupakan hal yang harus kamu lakukan di waktu sebelum desamu di hancurkan? " ucap Reino dengan segera setelah menelan makan yang ada dalam mulutnya tepat di waktu Spia nampak bingung untuk memberikan jawaban yang Aya minta.
Melihat telinga yang nampak layu bersama wajah muram yang disembunyikan dengan menundukkan kepalanya, Reino yang memilih untuk enggan menciptakan konflik diantara Aya dan Spia mulai menarik tangan dari keduanya secara paksa untuk didudukkan di kedua sisinya.
" Spia, percayalah padaku karena Dewi Nara benar-benar ingin kamu menyelesaikan tugas yang diberikan olehnya. " ucapnya pada Spia sembari mengudap pelan bagian kepalanya
" Aya, aku tahu bahwa kamu khawatir atas ancaman yang akan datang pada kita di waktu bersinggungan dengan masalah yang Spia punya dan aku sungguh menghargai kekhawatira mu itu. " lanjutnya memberikan perlakuan yang sama pada Aya sebelum menambahkan bahwa sikap yang Aya tunjukkan terkesan berlebihan.
Sama-sama memandang makanan yang telah tumpah terbuang akibat kesalahan mereka yang dirasa membuat Reino marah terhadap mereka, usapan pelan yang masih diterima oleh keduanya mulai membuat Aya menyesali tindakannya di sertai alasan terbuka bahwa dirinya sangat kesal karena Reino lebih memperhatikan Spia dari pada dirinya.
" Ma--maaf. Aku tidak bermaksud merebut Kak Rei dari Kak Aya seperti yang kakak katakan tadi. A-aku hanya merasa senang karena untuk pertama kalinya aku melihat ada sosok yang serupa dengan diriku. " ucap Spia tidak lama setelah Aya menenggelamkan diri dalam pelukan Reino.
Menanyakan maksud dari ucapan Spia sebelum mendengar masa lalu yang dirasa sama dengan masa lalu dari Aya, sebuah tawa yang mengejutkan diri Spia yang hendak meneteskan air mata terdengar keluar dari mulut Reino sebelum Reino mengatakan bahwa dirinya maupun Aya pun memiliki latar belakang yang sama sembari mengucapkan nasehat untuk menenangkan Spia.
" He,em. Tidak peduli dengan apa dan bagaimana masa lalu itu telah membuatmu menjadi pribadi yang seperti ini. Namun jika kamu memang berniat menyelesaikan tugas dari Dewi Nara yang percaya pada kemampuanmu, maka kamu akan mengetahui maksud lain dari ucapan ku yang sebelumnya. " lanjutnya menegaskan bahwa kehancuran yang menimpa tempat kelahirannya waktu itu merupakan hukuman dari sang Dewi demi menyelamatkan nyawa Spia sendiri.
" Dengan kata lain, kita akan mengingat masa lalu itu sebagai sumber kekuatan untuk menghadapi masa yang akan datang dan begitupun pada kesalahan yang membuat kita harus lebih bijak dalam menghadapi masalah maupun kerendahan hati di saat keberhasilan kita tengah di puji. " tambahnya menanggapi rasa sakit yang masih berkesan dalam dirinya atas tindakan kejam para warga desa yang sering kali melukai dirinya.
Memberikan kembali contoh permasalahan yang pernah dihadapi oleh dirinya maupun Aya hingga pertemuan mereka saat ini, keinginan kecil yang menyatakan bahwa dirinya ingin menciptakan negri minoritas tanpa adanya pembeda suku dan ras kembali terucap tanpa sadar.
" Dan apapun hal yang akan terjadi. Aku akan selalu berada di sisi tuanku sebagai seorang teman, rekan seperjuangan, maupun istrinya di masa mendatang. " sambung Aya yang menunjukkan kesungguhan hatinya untuk tetap bersama dengan Reino apapun yang akan terjadi kepada mereka.