CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Rei In New World



* Dratatatataks!!! Gbrubuuunggssss!!! Gbrubuuunggssss!!! Gbrubuuunggssss!!! * Dentuman keras mulai terdengar tidak lama setelah dirinya yang membawa Spia dan Aya untuk terbang menggunakan sayap besarnya maupun Mili yang membawa Nara menggunakan kain lusuh yang biasa digunakan untuk alas tidur untuk terbang menuju desa persinggahan harus terdiam sementara waktu disaat melihat pulau yang sempat dijadikan rumah untuk sementara tengah menampakkan keruntuhannya.


" [ Mili berkata bahwa ketiadaan dari energi sihir dapat mempengaruhi kondisi dari pulau melayang itu dan itu berarti salah satu dari kami adalah sosok yang memiliki energi sihir besar itu. ] " pikirnya sembari enggan mengakui bahwa kekuatan dalam dirinya adalah sebab dari apa yang menimpa mereka saat ini.


Melihat kilau cahaya pelangi dari tali energi sihir yang mulai memudar membuatnya sesegera mungkin untuk sampai pada satu pulau melayang lain yang berada paling dekat diantara lautan awan tempat mereka berada dengan menempatkan Aya dan Spia untuk bergabung bersama Mili dan Nara beserta tas perlengkapan penuhnya, Reino yang memposisikan diri untuk berada di bagian bawah kain lusuh yang telah berikan beberapa simbol-simbol sihir untuk meminjam kekuatan ruh angin dan membuatnya nampak memanggul ke empat wanita yang berharga baginya kembali merapalkan sebuah mantra seraya mencoba apa yang telah dipelajari sebelumnya.


" Namea! " Teriaknya dengan yakin seraya memasang bariarel perlindungan diantara dirinya maupun mereka yang berada diatasnya demi menghindari hal yang dapat membuat mereka terpental jatuh akibat hentakkan energi sihir seperti sebelumnya.


* Grraaaaaaaaghh!! * Raungan seekor singa cahaya yang mendekati mereka sempat membuat panik mereka semua meski dalam pandangannya sendiri, singa cahaya itu adalah bentuk lain dari energi sihir yang memadatkan diri.


* Sdrumsss!!! * Alih-alih meyakinkan apa yang ada dalam benaknya ketika singa itu semakin mendekati diri bersama kengerian yang membuatnya gentar, dengan kekuatan penuh dalam dirinya yang timbul dalam kondisi tertekan Reino langsung mengambil langkah kilat seribu jejak untuk menjauhi keberadaan dari Sinha cahaya itu.


" A!!!! " teriak Spia, Aya, Mili dan Nara sewaktu kecepatan yang diluar akal sehat mereka tidak membuat singa cahaya yang mengejar sebelumnya menyerah begitu saja dan tetap memburu keberadaan dari mereka meski beberapa pulau melayang yang sengaja dilewati oleh mereka dihancurkan dengan mudah oleh singa cahaya itu.


Memperlambat kepakan sayapnya setelah stamina yang dimiliki benar-benar tidak bersisa untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka diantara ketiadaan petunjuk mengenai tempat mereka berada, kilau cahaya dari sebuah pulau melayang dengan beberapa bangunan layaknya sebuah perkampungan terlantar membuat mereka memutuskan untuk mendaratkan diri di sana setelah Reino berkata bahwa dirinya tidak lagi mampu menahan rasa penatnya terhadap apa yang baru saja terjadi pada mereka.


" *Argh! * Tolong beri aku waktu lima menit untuk mengisi tenaga. " ucapnya pada Aya setelah membaringkan tubuhnya di atas kain lusuh sebelumnya.


Meminta pada Spia untuk membuat beberapa ramuan pemulihan untuk Reino maupun pada Mili yang telah berusaha keras atas apa yang terjadi, Aya yang setia menemani keberadaan dari Reino yang dibiarkan untuk tertidur dalam pangkuannya seraya membicarakan hal menegangkan sebelumnya membuatnya begitu bahagia karena Reino masihlah sosok yang sama meski perbedaan besar dari aura yang ada sangat jauh berbeda dari sebelumnya.


" Aya. Apakah kamu akan percaya pada ucapan ku mengenai adanya kemungkinan bahwa aku adalah penyebab ini semua ? " ucapnya dengan rasa bersalah pada mereka yang ada bersamanya sembari menunjukkan gelang emas yang ada pada pergelangan tangannya.


Membalas ucapan itu dengan mengatakan bahwa tiada hal yang tidak dirinya percayai pada Reino yang selalu peduli terhadap dirinya maupun keterbukaannya terhadap masalah yang silih berganti menimpanya, usapan pelan dari Aya yang menyentuh bagian dari gelang emas itu untuk memperlihatkan simbol misterius yang hanya dapat dimunculkan oleh dirinya maupun dewa-dewi dunia yang energi sihir lebih kuat daripada dirinya.


Mengucapkan rasa kebenciannya atas rasa sakit yang disebabkan oleh sebuah sihir cahaya yang dilakukan oleh seorang Dewi yang menampakkan diri layaknya Aya maupun serangan beruntun dari Mili dan Rara membuat Aya yang ingin mengucap kebenarannya yang sesungguhnya harus menahan diri di waktu kedatangan Spia, Mili dan Rara ke tempatnya menikmati kebersamaan bersama Reino sebagai tuannya.


" Kak Rei sudah merasa baikan? " ucapan Spia dengan khawatir atas luka besar yang nampak diantara tubuh Reino sewaktu menghindari kejaran singa cahaya sebelumnya.


Menjawab pertanyaan itu dengan lembut setelah meminum ramuan yang semakin terasa berbeda dari rasa memuakkan sebelumnya, usapan kepala atas kebaikan dari Spia membuat Aya sempat merasa iri sebelum dirinya melanjutkan usapan itu pada Aya seraya memberikan pelukannya sesaat.


" Tentu aku tidak melupakan kalian berdua, hehe. Terimakasih karena telah menghambat pergerakan dari monster sebelumnya menggunakan kemampuan hebat yang kalian miliki. " lanjutnya memberikan perlakuan yang sama pada Mili dan Rara yang sesekali menyerang singa cahaya sebelumnya menggunakan bantuan dari ruh tanah dan angin untuk memperlebar jarak diantara mereka.


Mengemasi perlengkapan yang telah dikeluarkan sebelumnya untuk mulai melanjutkan perjalanan, ucap kekhawatiran dari mereka pada Reino yang masih dirasa butuh waktu pemulihan meski dalam diri masing-masing dari timbul keinginan untuk mengakrabkan diri secara lebih pada sosok Reino yang dikagumi.


" He,em. Baiklah jika memang begitu. Aku akan menemani kalian untuk menjelajahi tempat ini sembari memulihkan tenaga ku kembali. " sambungnya menerima ucapan dari Spia, Mili dan Nara yang memintanya untuk menemani masing-masing dari mereka melakukan hal yang berbeda.


Menemani Spia terlebih dahulu untuk menilai hasil kemampuan meramu ramuan sebelum dirinya merasa lebih akrab dengan Spia yang tidak jarang menampakkan keinginannya untuk kembali dipuji olehnya.


" He,em. Cukup sudah, Spia. Kamu tidak boleh menghabiskan semua herbal itu karena diantara bahan yang kamu jadikan ramuan ada beberapa bahan lain yang biasa aku jadikan rempah untuk memasak makanan itu. " lanjutnya menahan keinginan Spia yang berniat mempertahankan kebersamaan itu dengan tetap meramu banyak ramuan dari yang seharusnya.


Menampakkan langkah kaki mengikuti arahan dari Nara yang sebelumnya berkata bahwa dirinya menemukan mata air yang dapat digunakan untuk membasuh beberapa perlengkapan, ucapan dari Nara yang ingin diajarkan mengenai sihir penguat diri maupun seni bela diri tangan kosong tanpa mengandalkan kemampuan ruh bumi maupun ruh membuatnya selalu bergantung kepada mereka membuatnya merasa sangat senang tak kala kontak fisik dengan Reino lebih banyak dirasakan di waktu pengajaran itu dilakukan ketimbang mengadu kemampuannya dengan tinju penghancur milik Reino.


" Telapak tangan ini saja sudah memberitahukan kepadaku bahwa kamu sudah cukup keras berlatih seni bela diri semacam ini dan lagi, dilihat dari luka yang ada diantaranya. Aku rasa akan lebih baik jika kamu tidak terlalu keras pada dirimu sendiri. " ucapnya sembari mengusap telapak tangan dari Rara yang memerah akibat satu pukulan keras yang ditujukan untuk menghancurkan satu batuan besar dalam satu pukulan.