CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Journal New World



" Untuk sekedar memperjelas keadaan, aku akan mengatakan bahwa kebodohanmu yang mementingkan amarah waktu itu membuat regu pasukan yang kamu pimpin telah binasa sepenuhnya dan kamu pun tidak luput dari kematian yang pada akhirnya membuatku memilih satu keputusan untuk membuat jiwamu untuk menyatu kembali dalam raga itu agar penyesalan itu bisa terus kamu sesalkan selama sisa hidupmu yang sekarang." ucap Reino pada pemimpin regu pasukan dari ras manusia di atas langit gelap bertabur bintang tak kala menguji kemampuan diri pada sayap yang hanya dianggap sebagai pelengkap diri.


Mendarat pada satu tempat antah berantah setelah melihat kilau cahaya yang serupa kota yang begitu ramai dimatanya, Reino yang sebelumnya menambahkan bahwa anggapan berlebihan dari seorang penyihir yang menyebutnya sebagai demi God adalah hal tabu yang berdasarkan pada kesimpulan dari perwakilan pasukan dari elf sebelumnya yang menyatakan bahwa dirinya merupakan sosok yang sama dengan Aya yang merupakan Half Elf.


" Dryad? Tidak, aku rasa Druid adalah ras ku yang sebenarnya. " balasnya menyanggah tanggapan pemimpin regu pasukan itu sebelum mengatakan perpisahan diantara mereka sembari menegaskan bahwa jikalau di suatu saat di masa depan nanti mereka kembali bertemu, dirinya tidak akan segan untuk membinasakan kembali pemimpin regu pasukan itu.


Terlelap dalam malam yang begitu sunyi senyap dalam rumah singgah yang diciptakan dari pohon besar yang masih bisa terus tumbuh tinggi menjulang, Reino yang sebelumnya sempat melihat kondisi Aya untuk yang terakhir kalinya di kamar lantai dua mulai ikut memejamkan matanya sebelum suara kicau burung yang dirasa mengganggu membatalkan niatnya untuk rehat sementara waktu.


" Selamat pagi, tuanku. Apakah anda kembali terjaga semalaman untuk mempelajari buku dari penyihir manusia itu ? " ucap sapa Aya yang begitu melihat wajah lelah dari tuannya yang terdiam tanpa kata di waktu para burung yang berkicau merdu itu telah hinggap diantara tanduknya.


Bangkit dari tempat tidurnya dengan malas sembari mengabaikan keberadaan para burung yang ada, ucap permintaan pada Aya yang mengharapkan sajian nikmat dari secangkir susu hangat dari dunia sebelumnya membuat Aya kembali terdiam tanpa kata selama sesaat sebelum canda tawa dari tuannya yang mengakui bahwa hal semacam itu tidak lagi dapat dirasakan sempat memberikan kesan bersalah pada diri Aya yang kala itu mengusap bagian dadanya sendiri di waktu menyiapkan makanan khas dari dunianya yang dirasa cocok untuk dirasakan oleh lidah tuannya.


" Emh, ya. Selain dari memikirkan rencana untuk kehidupan kita kedepannya, tadi malam Afi yang tiba-tiba membuat keributan untuk kabur dari dalam sel tahanan sebelum akhirnya berhasil membuatku kehilangan jejak tidak lama setelah masuk ke dalam hutan. " balasnya menanggapi pertanyaan dari Aya yang kalih ini memulai pembicaraan pada dirinya yang biasanya didahului olehnya pada dunia sebelumnya.


" Dan yah, hehe. Jika Fladis tidak datang kembali dengan ribuan pertanyaan untukku hari ini, aku berencana tidur sepanjang hari ini. " Lanjutnya setelah meminum air seduhan tanaman herbal yang menenangkan diri sebelum rasa rasa kantuk yang begitu tidak tertahankan membuatnya terlelap dalam ruangan utama itu yang bahkan sarapan pagi yang dibuat oleh Aya belum habis sepenuhnya.


Memandang gemas wajah milik Reino yang begitu pulas dalam tidurnya setelah membereskan perlengkapan makan maupun membersihkan seisi rumah singgah itu sembari beristirahat, sebuah buku catatan yang dirasa berisi semua hal mengenai kenangan dalam dunia sebelumnya menarik perhatian dirinya hingga tanpa sadar membaca setiap isi dari halaman muka yang begitu mengeringkan pandangan mata.


" Hari ketiga setelah datang ke dunia asal dari Aya. " ucapnya membaca paragraf ke empat dari halaman muka yang dibaca yang berisikan keseharian dari Reino yang dihabiskan untuk duduk sembari menjawab pertanyaan dari perwakilan prajurit elf mengenai beberapa hal yang masih mengganjal.


" Namun, sama seperti saat pertama kali aku menemukan dirinya. Aya adalah satu-satunya sosok yang ingin aku miliki, berbagai pengalaman hidup bersama sebagai keluarga yang sesungguhnya maupun berbagai pengalaman pertama untuk hal intim yang belum pernah aku rasakan sebelumnya." lanjutnya yang begitu terkejut dengan fakta bahwa Reino masihlah seorang perjaka meski memiliki paras rupawan lagi tubuh perkasa hingga lapuk di makan senja usia.


Memutuskan untuk menghentikan rasa keingintahuannya terhadap Reino yang tengah tertidur lelap di meja utama sebelumnya, sebuah tanda yang tertera pada lembaran tengah buku itu kembali menimbulkan rasa penasaran yang pada akhirnya menemukan hal lain mengenai cara pandang Reino terhadap dunianya saat ini.


" Baiklah, cukup sampai disitu. Aya. " ucapnya sembari mengambil paksa buku yang dibaca oleh Aya yang membuat Aya hanya terdiam tanpa kata untuk menemukan alasan yang tepat dikatakan pada dirinya.


Memasukkan buku sebelumnya kedalam kantong tersembunyi di balik jubah penyihir yang ikut tiada dalam pertarungannya yang tidak terduga itu, usapan lembut yang diberikan pada Aya setelah menariknya jatuh pada dekapannya mulai membuat Aya yang nampak bingung atas apa yang ingin dikatakan mulai meminta maaf kepada Reino atas hal lancang yang dirinya lakukan.


" Seperti yang telah kamu ketahui dalam buku catatan ini. Kemampuan pemberian para dewa-dewi alam duniamu saat ini hanya mampu digunakan untuk mereka yang berakal maupun kesediaan untuk mengambil satu kesepakatan, yang berarti untuk mereka yang tidak memiliki dua hal itu, kemampuan yang mereka berikan tidak dapat di aktifkan dan berakhir pada kemampuan dasar ku sebelumnya [ yang berarti mengacu pada kemampuan berdarah sebagai pembunuh bayaran, sabotase, spionase, peretasan, dan beberapa kemampuan yang membuatku berada pada puncak kepemimpinan.] " ucapnya membenarkan sedikit hal yang dirasa cukup penting untuk dibicarakan pada Aya mengenai kekuatannya yang sesungguhnya.


Melanjutkan rasa keingintahuannya terhadap dunia tempatnya berada terutama pada bidang sihir dari pada bidang seni beladiri yang sudah dirasa cukup dikuasai, rasa percaya diri atas kemampuan yang dimiliki sebagai seorang mantan penyihir pendukung pada regu petualang sebelumnya membuatnya yakin untuk mengajari Reino mengenai dasar penguasaan sihir yang tidak dimiliki pada dunia asalnya.


" A-ano, jika tuan berkenan. Sa-saya, " ucap Aya yang mencoba menjadi guru sihir dari Reino sebelum ketukan pintu utama mengalihkan perhatian Reino darinya.


Menyapa seorang dari balik pintu yang ternyata adalah Fladis dengan beberapa pengawalnya, rasa tidak enak hati untuk kembali meninggalkan Aya seorang diri membuatnya memutuskan untuk ketersediaan dari mereka yang juga harus mengikut sertakan Aya dalam pembahasan panjang yang dirasa terus berulang tanpa tujuan jelas meski dalam benaknya sendiri terdapat satu pemikiran bahwa mereka hanya berniat mengulur waktu untuk menahan dirinya sampai seorang yang dirasa penting dalam sistem pemerintahan mereka datang menemui dirinya.