
Melihat canda tawa dari Reino yang bermain bersama anak-anak demi human dengan kalung tanda pelayan yang mengingatkannya pada kegemaran dari Reino yang di dunia sebelumnya selalu memberikan sedikit upah dari kerja sebagai seorang petinggi dalam perusahaan jasa untuk panti asuhan di pinggiran kota sesekali membuatnya membayangkan bahwa anak-anak itu adalah anak mereka.
" [ Hehe, jika hal itu benar-benar terjadi. Aku mungkin adalah satu-satunya orang paling bahagia dalam dunia ini. ] " pikirnya sesaat sembari menahan keinginan itu dengan senyumnya sebelum menyapa Reino yang masih asik bercanda ria dengan anak-anak itu.
Menyambut hangat kedatangan mereka dengan pujian atas busana yang dikenakan Aya dan Spia yang masing-masing memakai busana petualang pilihan dari Tan dan regunya yang setia menemani Aya dan Spia seperti yang dirinya minta.
" Sungguh, Aya. Apapun baju yang kamu kenakan, kecantikan yang melekat dalam dirimu itu tidak akan memudar seperti cahaya mentari pagi yang selalu memberikan semangat untuk menaklukkan hari. " tegasnya sembari membelai rambut coklat kehitaman dari Aya yang memakai pakaian petualang khas seorang ranger yang senada dengan warna rambutnya.
Tidak lupa mengucapkan sanjungannya terhadap Spia yang memakai busana seorang penyembuh yang menyerupai pakaian serupa gadis kuil dengan warna dasar yang sama seperti pakaian yang digunakan Aya, sebuah baju penyihir lengkap dengan jubah yang dikenakan oleh Aya maupun Spia sebelumnya mulai dikembalikan pada dirinya bersama raut wajah senang yang mengiringinya.
" [ He,em. Aku tidak akan berkomentar banyak mengenai hal ini. ] " pikirnya sesaat setelah menyadari persamaan warna dasar dari pakaian yang dikenakan dirinya tanpa terkecuali pada jubah khas buatan dari ras elf sebelumnya.
Menampakkan sosok Reino dengan busana lengkapnya yang membuat Ten maupun anggotanya terdiam dalam kesan tabjuk atas sosok Druid dihadapan mereka, rasa syukur yang kembali terucap dalam diri mereka yang memilih untuk menghindari segala masalah yang bersinggungan dengan Reino benar-benar membuat mereka menghargai keputusannya.
" Baiklah, aku ucapkan terima kasih kembali kepada kalian atas kebaikan yang telah kalian berikan pada kami. " ucapnya sebelum pergi meninggalkan desa persinggahan itu untuk kembali ke dalam hutan.
Mengucap canda tawa mengenai sosok Reino yang terasa begitu beruntung dalam perjalanan panjang yang ditemani dengan dua perempuan yang kemolekannya begitu menggoda, beberapa penduduk desa yang hanya kesehariannya hanya mencari masalah maupun bermabuk ria di setiap malamnya mulai mencari jejak keberadaan dari Reino yang katanya tinggal sementara di dekat air terjun yang letaknya jauh ke utara dari desa mereka.
* Sjlbs * suara lirih yang tercipta dari pisau kecil yang menembus bagian dada dari seorang bandit gunung yang mengganggunya nampak tidak terlalu dihiraukan oleh Aya maupun Spia yang sibuk membuat perkemahan sederhana dengan bekerja sama.
" [ Hehe, Syukurlah bahwa mereka bisa lebih akrab dari sebelumnya.] " ucapnya dalam hati sebelum menarik salah satu tubuh bandit yang dirasa masih bisa diselamatkan untuk menguji kemampuan dari Spia mengenai kemampuannya sebagai seorang penyembuh.
Memperlihatkan keteguhan hatinya dalam memenuhi permintaan dari Reino yang sengaja memberikan pengampunan pada bandit gunung dihadapannya, beberapa peralatan yang biasa digunakan untuk meracik ramu-ramuan maupun bahan dasar yang digunakan pun mulai dikeluarkan dengan hati-hati dari tas perlengkapan sebelum senyuman senang kembali nampak setelah tekanan besar dari harapan yang dibebankan pada dirinya membuahkan hasil nyata pada kesembuhan seorang bandit gunung yang diberikan oleh Reino kepadanya.
Memberikan usapan lembut pada kepala Spia sebagai hadiah keberhasilan atas apa yang telah dilakukan, Aya yang sebelumnya masih berusaha menciptakan makanan yang setara nikmatnya dengan buatan Reino seperti sebelumnya mulai menyajikan hasil usaha penuh yang dikerahkan dengan harapan bahwa pujian yang sama dapat diberikan oleh Reino padanya.
" He,em. Aku suka ini, Aya. Makanan ini sungguh nikmat, jika kamu yang memasaknya. [ Meski sebenarnya akan lebih baik lagi, jika dirinya tidak terlalu banyak membuang bahan makanan yang dibeli di desa sebelumnya. ] " ucapnya memuji masakan Aya yang terasa sedikit gosong dengan sajian pada tampilan yang nampak berantakan lagi porsi yang terlalu berlebih untuk disantap oleh dirinya sendiri di waktu Spia nampak kenyang dalam porsi pertamanya.
Menarik paksa tubuh Aya untuk jatuh dalam pelukan dirinya sebelum mencubit gemas pipi Aya sembari mengatakan keterbukaannya terhadap porsi yang harus kembali diperhatikan di kesempatan selanjutnya, perasaan asing yang kembali timbul dalam hati di waktu melihat kebersamaan dari Reino dan Aya membuatnya mengira-ngira bahwa perasaan itu tidaklah baik untuk mereka yang telah bersedia menolong dirinya.
" Hey, nak. Maaf harus melakukan hal ini kepadamu. [ Meski aku sendiripun enggan untuk melakukannya, tapi aku harus benar-benar melakukan hal ini untuk menemukan cara terbaik untuk melindungi mereka. ] " ucapnya pada bandit yang nampak begitu ketakutan dihadapan dirinya.
Duduk dihadapan bandit itu sembari memegang buku sihir milik penyihir dari regu pasukan yang telah dirinya binasakan setelah memastikan bahwa tiada seorang pun yang mengganggunya maupun Aya dan Spia yang telah lelap dalam tidurnya, berbagai jenis mantra tingkat rendah yang nampak begitu sepele hingga mantra tingkat sedang yang tidak terlalu menimbulkan kebisingan mulai dirapalkan oleh dirinya dengan sesekali mengubah aktifasi dari gelang emas pemberian dewa-dewi dunia untuk menyembuhkan tubuh bandit itu yang menjadi subjek ujicoba kemampuan sihir miliknya.
" Tolong. Aku mohon. Bunuh saja aku. " ucap bandit gunung itu setelah kain yang mengikat mulutnya terlepas akibat salah satu sihir tingkat menengah yang mengenai dirinya.
Melihat gumpalan daging yang menampakkan diri setelah potongan besi terlepas dari busana yang melekat dalam tubuh bandit itu, gelak tawa yang lepas begitu saja di waktu menyadari bahwa bandit itu adalah wanita membuatnya merasa enggan untuk kembali melanjutkan uji coba itu dan memilih untuk melepaskannya dengan segera sebelum Aya maupun Spia mengetahui bahwa dirinya telah melakukan hal buruk pada seorang wanita.
" Anggap saja, bahwa pertemuan kalih ini adalah pertemuan terakhir ku denganmu. " sambunya pada bandit itu di waktu kebingungan nampak begitu jelas di wajah itu setelah mengucap beberapa pernyataan bodoh yang dilakukan olehnya.
Mencengangkan erat salah satu bagian tubuh dari bandit itu sebelum benar-benar meremukannya sembari berkata bahwa dirinya sudah mencapai batas kesabaran yang dimiliki, langkah kilat seribu jejak mulai dilakukan oleh bandit itu begitu dirinya menyembuhkan luka fatal yang menciderai salah satu bagian tubuh itu.
" [ Jika aku adalah aku yang dahulu, aku mungkin akan melakukan sesuatu yang lebih buruk dari apa yang aku lakukan sebelumnya. ] " ucapnya dalam diam sebelum melepas tawa mengerikan kembali di waktu mengingat kebusukan dirinya yang sesekali memainkan tubuh dari beberapa wanita penggoda yang berniat mencabut nyawanya layaknya sebuah hiburan semata sendiri sebelum pertemuannya dengan Aya yang mengubah segalanya.