
" Torehan kata yang tercipta oleh pena diatas kertas putih layaknya noda, dunia fana yang di hitung berdasar waktu hidup seorang manusia menjadi dasar keterbatasan untuk menguak misteri dunia. Kisah diluar nalar yang dikenal sebagai legenda mulai dianggap tabu bagaikan mite belaka sebelum para leluhur tiada yang membuat kisah hebat itu tertelan waktu yang terus berjalan melupakannya. " ucap pria besar pemilik tempat terselubung itu dalam ruang remang-remang sembari membaca sebuah syair lama dalam kertas lusuh penuh noda.
Melanjutkan setiap bait yang tertoreh hingga akhir dari kalimat yang ada, kilau cahaya kuning keemasan mulai nampak terang diantara ruang tempatnya berada sebelum kata yang telah terucap menampakkan menghapus setiap corak tato yang menghiasi tubuhnya.
" Untukmu, dewiku. Seperti yang pernah engkau perintahkan kepadaku. Beliau yang melawan hukum dunia telah menemukan arti keberadaannya dan karena itu pula saya bisa mengatakan bahwa saya telah memenuhi tanggung jawab saya sebagai seorang penjaga. " lanjutnya sembari memandang ke arah luar jendela tempatnya berada sebelum gemuruh badai besar bersama gelombang laut tinggi menjulang perlahan berjalan mendekati dirinya sebelum setitik senyum dalam pantulan cermin dalam ruangan menjadi kesan terakhir di waktu terlelap dalam kegelapan.
" [Reino Renca, sebuah nama dan marga yang membentuk keharmonisan alam semesta berdasar wujud yang diambil pada mahluk besar bercula serta sosok pemuda yang berkeinginan menjadi pelindung dunia kejam yang telah membuatnya tiada. Dengan kesempatan kedua yang telah diberikan olehnya, saya haturkan seluruh jiwa dan raga untuk kesetiaan penuh terhadap anda. ] " Ancora's Navena. " " ucap Aya sembari menempelkan kertas lusuh yang menjadi bukti kepemilikan diri pada punggung Reino yang terbaring nyenyak dalam tidurnya tak kala melihat kilau cahaya yang perlahan mendatangi dirinya di tengah badai mengerikan yang menerjang sebagian belahan dunia.
Memandang langit biru yang begitu cerah tanpa awan di atas alas rerumputan yang masih menampakkan kesegaran, sosok perempuan berbalut busana abad pertengahan yang nampak buram mulai mengusap perlahan wajah dirinya tanpa keraguan sebelum suara lembut yang begitu familiar membangunkan diri dari dunia mimpi.
" Selamat pagi, juga Aya. Senang sekali rasanya bisa melihatmu kembali di awal pagi ini. " balas sapa Reino pada Aya yang berdiri di dekat dirinya yang masih berselimut diri sebagai busana.
Berjalan ke arah lemari pakaian untuk membenahi diri tak laka setelah Aya pergi, pantulan cermin diri yang menampakkan rambut hitam yang mulai didominasi uban mengukir sebuah tawa dalam kesunyian tak kala menyadari diri bahwa batas akhir dari kehidupannya mulai menampakan diri.
" Selamat pagi, lagi Aya. Makanan seperti apa lagi yang kamu coba buat untuk sarapan pagi ini? " ucapnya dengan ramah pada Aya di setiap paginya untuk menyapa sembari bertanya menu sarapan yang beberapa bulan terakhir mulai dibuat oleh Aya.
Membalas sapaan itu dengan senyuman senang setelah usapan kepala kembali terasa pada kepalanya, ucapan pujian dari Reino kembali terdengar tak kala sajian makanan berupa steak daging sapi yang nampak begitu sempurna pada warna merah kecoklatan serta setitik lelehan keju maupun hiasan dari beberapa sayuran tertata rapi di atas meja makan yang tidak jauh dari dapur tempat mereka berada sebelumnya.
" Em, hem~. Kamu sudah lebih baik dari sebelumnya, Aya. [Meski masih terasa sedikit terbakar di beberapa bagian, aku rasa pujian itu sudah cukup baginya. ] " lanjutnya memuji makan Aya sembari melihat ruang utama yang nampak sederhana dengan standar catalog hotel bintang lima tak kala merasakan sensasi masam ataupun gurih terbakar pada makanan yang disantap olehnya.
Menundukkan kepala setelah menyadari kebiasaan tuannya yang nampak enggan mengakui kekurangan dalam makanan yang di sajikan, sederet jadwal padat yang akan kembali di jalani oleh tuannya kembali terdengar seperti pagi sebelumnya yang mana itu berarti bahwa tuannya akan kembali larut malam setelah libur panjang akibat badai tahunan yang menerjang.
Meninggalkan rumah itu dengan senyuman ceria di waktu pagi yang nampak cerah sepanjang harinya, tatapan geram yang menghapus senyuman mulai menampakan diri tak kala melihat beberapa mobil hitam yang nampak familiar mulai mengikuti dirinya pada jalanan khusus tanpa hambatan semenjak masuk area perbatasan antara pinggiran kota dengan pusat kota.
" Argh, ya ampun. Seharusnya aku meminta Beff dan Kin untuk berjaga di sekitar gerbang itu di waktu lalu. * kpyarss * " ucapnya dengan kesal setelah beberapa timah panas berhasil menembus kaca depan dari belakang mobilnya.
Memfokuskan pandangan mata maupun lengan kanan yang memegang kemudi untuk tetap menjauhi kejaran para pengejar dengan tangan kiri yang sibuk mengatur data pengamanan, sebuah benturan keras yang cukup menggoyahkan ketenangan dalam diri membuatnya terpaksa melepas kendali sopir demi melindungi diri tak kala hujan timah kembali datang dari sisi kedua sisi.
" Matilah kalian!! Keparat sialan!! " teriaknya dengan keras sembari menancapkan gas kendaraan dalam sebuah tikungan tajam sembari melepaskan serangan balasan menggunakan pistol kecil revolver yang ditujukan pada salah satu roda mobil dari para pengejar.
* Dsriiiiiingssss!!! Gbraks!!! Sdar!! Sdrar!! Sdar!! * Bersama roda yang mulai melepaskan gesekan berapi di jalanan yang dilalui, beberapa serang balasan yang terus dilesatkan setelah mengaktifkan auto pilot pada mode mobil yang digunakan berhasil membuat bercak merah diantara sisi sopir para pengejar yang pada akhirnya dua mobil pengejar yang saling bertabrakan meledak akibat satu tembakan tepat yang diarahkan pada tangki bahan bakar tak kala beberapa pengejar mencoba menyelamatkan diri dari dalam kendaraan.
" Huh, astagah. Jika bukan karena mereka, aku tidak akan membuang banyak Zak demi menggantikan pria tua ini. " ucapnya dengan kesal sembari memandang mobil yang penuh dengan lubang bekas tembakan dari sisi luar bengkel mobil yang menjaminkan pengganti sementara dari mobil yang digunakan dengan wujud maupun sistem keamanan yang tidak jauh berbeda.
Menempelkan QR Code pada bagian pembayaran dari bengkel tempatnya berada bersama dua orang remaja berpakaian formal lengkap dengan pin bertanda kepala badak pada sisi kanan dada mereka, ucap permintaan untuk penyederhanaan sistem keamanan mulai terdengar tidak lama setelah noda darah pada dua lengan remaja mengalir bersama diusapnya sebuah kepalan tangan besar oleh kain kecil beraroma mawar dari Aya sebelumnya.
" Bersyukurlah bahwa Zak yang aku berikan termasuk dalam biaya asuransi kesehatan yang kalian daftarkan. " lanjutnya tidak lama setelah kedua remaja itu bangkit dari duduknya.
Menambahkan ucapan penyidikan untuk melacak jejak orang-orang bodoh yang berani menentang diri dalam wilayah kekuasaan, beberapa timah panas kembali dilesatkan pada wajah salah satu dari mereka tak kala mendengar bahwa sebelumnya ada beberapa anggota baru yang mulai bekerja di bawah pengawasan mereka tanpa laporan sebelumnya.
" Hey, Boby. Aku sudah mempercayakan bisnis itu kepadamu dengan harapan bahwa jejak kelam yang aku tinggalkan tidak kembali mengusik kehidupanku yang tenang. Namun beberapa waktu lalu, aku tiba-tiba diserang oleh beberapa orang dalam yang sepertinya mengetahui siapa identitasku sebelumnya. Periksalah beberapa dokumen baru dalam beberapa bulan terakhir sebelum timah panas kembali bersarang dalam salah satu bagian tubuh gempal itu. " ucapnya dengan nada mengancam sebelum mengubah nada bicaranya tak kala seorang sekertaris mendatangi diri.