
" Maaf, Aya. Aku tidak bermaksud melakukannya. " ucapnya dalam keheningan di waktu Aya memandangnya dengan wajah memerah tanpa satu kalimat yang terucap setelahnya.
Memetakan kembali lajur jejak petualangan mereka dari awal bertemu mata air yang menuntunnya hingga sampai pada desa persinggahan maupun tempat persembunyian ini, ucap penjelasan dari Aya yang berkaitan dengan Hutan Nelma yang berada pada satu Lembah Sansui membuatnya merasa ada hal aneh yang memisahkan penjelasan itu dengan penjelasan Spia mengenai kemampuannya dalam meramu ramuan.
" [ Dia bilang bahwa desanya berada di sekitar Tebing Gragrang, Kota Tanah Eyule. Tapi dalam penjelasan tadi, Aya bilang bahwa Spia sempat kagum dengan keberadaan seekor kera yang berada dalam Hutan Nelma, Lembah Sansui. ] " pikirnya kembali dengan mengingat hal kecil yang mungkin dilewatkan sebelum Aya mengucapkan bahwa Mili pernah menyinggung satu tempat yang deskripsinya hampir serupa dengan Lembah Sansui yang dimaksudkan Spia.
Memeriksa keadaan Mili dan Rara untuk mendengar kabar baik dari Spia yang nampak sibuk dengan beberapa ramuannya, sapaan lembut yang disertai ucapan gembira dari Spia membuatnya memilih untuk kembali mengakrabkan diri dengan Spia setelah melihat kondisi kedua elf itu nampak membaik.
" Tidak, tidak. Bukan begitu Kak Rei. Beginilah cara membuatnya. " ucap Spia dengan menunjukkan cara meramu sebuah ramuan energi yang dengan tanpa sadarnya menempatkan diri pada pangkuan Reino kembali.
Menghirup aroma bunga yang begitu semerbak diantara tubuh Spia yang dibalut busana ganti dengan model serupa seperti busana petualang tipe penyembuhan, gerakan tubuh dari Spia yang menuntun kedua tangan besar darinya untuk meramu sebuah ramuan membuat sebuah hasrat dalam dirinya mulai bangkit sebelum menciptakan satu ramuan sempurna yang setelahnya meninggalkan Spia dengan alasan bahwa bau badannya yang tidak sedap akan membuat Spia terganggu dalam proses meramu.
" [ Tidak, tidak, tidak. Alasanku masih cukup masuk akal jika kembali difikirkan. ] " ucapnya dalam diam sebelum memejamkan matanya di dekat mata air yang mengalir tidak jauh dari goa tempatnya berada sebelumnya sembari membenarkan bahwa keberadaannya yang kotor dapat mempengaruhi tingkat kemanjuran ramuan yang Spia buat.
Menenggelamkan kepalanya untuk lebih menjernihkan pikiran dari hasrat alami sebagi seorang pria, ucapan lantang yang membawa keinginan dalam dirinya untuk menikmati setiap tubuh dari mereka yang berada disekitarnya membawa perasaan lega dalam hatinya sendiri di waktu melihat kedua telapak tangannya yang besar itu diremaskan sembari membayangkan kenikmatan dari hasrat yang selalu dirinya sembunyikan.
" [ Apakah aku tidak salah mendengarnya ? Tuan Rin benar-benar menginginkan tubuhku! ] " ucapnya dalam diam sembari menutupi tubuhnya dengan kain tipis bekas pakaian pelayan yang diberikan Fladis ketika terkejut dengan kedatangan seorang yang tiba-tiba datang membasuh diri dan membuatnya harus bersembunyi dibalik batuan besar yang ada diantaranya.
Menjatuhkan diri di atas permukaan air sungai itu setelah menghancurkan beberapa batuan besar yang dirasa menghalangi untuk merelaksasi diri sembari mencoba membayangkan Hutan Nelma yang digambarkan sebagai hutan binatang magis tempat kelahiran para ras demi human, suara gesekan angin yang menerpa dedauan maupun kicau burung yang kembali terdengar ditengah gemericik air yang memecah bebatuan dalam area sekitar membawanya pada pertemuan tidak terduga dengan sang Dewi kesuburan yang dikenal sebagai Dewi Adel'in.
Terdiam tanpa kata untuk merangkai sebuah kata balasan pada sosok Dewi yang begitu diagungkan agar tidak membuatnya berada dalam masalah pada dirinya ataupun mereka yang berada disekitarnya, ucapan jujur yang mulai terlontar dengan begitu terbuka terkait hal yang dibahas bersama sang Dewi mengenai awal pertemuannya dengan Aya maupun mimpinya di setiap malam mengenai seorang Dewi yang selalu memangku dirinya diatas tanah perbukitan yang dihiasi langit aurora.
" [ Aku sendiri bingung terhadap dirinya. Dia sama seperti anak itu, tapi dia juga nampak jelas berbeda darinya. ] " pikirnya dalam diam setelah mengangkat tubuh Reino diatas tangannya untuk melihat lebih seksama tubuh Druid yang nampak kecil baginya.
Merasakan sesuatu yang begitu mendamaikan hati dalam setiap sentuhan jari sang Dewi yang terasa berbeda dengan hal yang dirasakannya diwaktu melihat para dewa-dewi lain di waktu pertama dirinya membuka mata dalam dunia asal dari Aya, sebuah cahaya berwarna biru menyala yang berasal dari jari-jemari sang Dewi mulai membentuk sebuah Marka diantara lengan besarnya yang dibelenggu oleh gelang emasnya.
" [ Benar-benar tidak bisa dipercaya. Ini adalah tanda yang aku berikan kepadanya. Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi. Dia yang tiada seharusnya sudah berada pada alam yang berbeda. Tapi kenapa ini terjadi ? Apakah harapannya yang belum terwujud itu masih membelenggu jasad ini ?] " pikirnya sesaat setelah melihat Marka biru menyala itu menampakkan simbol berkat darinya yang serupa dua garis bergelombang di bawah tetesan kecil air serta lentagon sempurna yang menjadi dasar simbol sebelumnya.
" [ Tapi, tunggu sebentar. Apa ini ? ] " lanjutnya membentangkan sayap putih milik Reino dengan begitu kasarnya untuk melihat simbol lain yang berada pada tengkuk lehernya.
* blecings * kilat cahaya hitam kemerahan tiba-tiba menyengat jari sang Dewi dan membuat Reino yang berada cukup tinggi dari posisi sebelumnya mulai jatuh menghantam permukaan keras dari ruang itu yang nampak serupa dengan bagian terdalam dari lautan lepas dengan terumbu karang maupun makhluk laut yang sering kali berlalu-lalang diantara sang Dewi maupun dirinya.
" Grah~ah. Ha~akgh, Astaga. Aku pikir aku akan kehilangan nyawaku tadi. " ucapnya dengan tubuh mencoba mengontrol kembali nafasnya yang tidak beraturan setelah berhasil selamat dari hal tidak terduga yang membuatnya mengingat rasa sakit teramat sangat di waktu cahaya terang menyelimuti dirinya.
Berjalan menyusuri hutan kembali untuk sampai pada goa persembunyian yang menjadi tempatnya berdinggah sementara waktu kembali tanpa memperhatikan mata air yang telah dipenuhi dengan darah maupun beberapa bagian jasad dari seorang ras manusia maupun pepohonan besar yang hangus terbakar diantara jalanan yang dilewatinya, pandangan mata yang tertuju pada sekelompok orang berpakaian khas kerajaan maupun para prajurit yang memakai zirah besi secara lengkap membuatnya menduga bahwa hal buruk telah terjadi di waktu dirinya berbincang dengan sosok Dewi yang diagungkan sebelumnya.
" [ Aya! Spia! Mili! Rara!! ] " ucapnya seketika sembari menahan rasa cemasnya yang mengingat para wanita yang menemani dirinya.