
Menampakkan diri kembali diantara Aya, Spia, Mili dan Rara yang masih berkumpul di dekat danau yang menjadi satu-satunya sumber mata air dari pulau melayang itu dengan menggenggam sepasang senapan api jenis Magnum dengan corak timbul yang terbentuk dari simbol serupa lingkaran sebagai wakil dari rapalan mantra combinasi, tingkat sihir bercabang menyerupai ketapel yang mewakili rapalan mantra demi meminjam kemampuan pendukung dan sebuah belati yang lebih timbul diantara simbol ketapel sebelumnya sebagai simbol dari rapalan mantra untuk menggunakan kemampuan seorang ranger.
* Sdudums!! Sdudum!! Sdudumss!! Splash!! Gbrubuuunggssss!!! * Melihat buih udara yang begitu mencurigakan tengah mendekati keberadaan dari mereka yang berharga baginya yang masih menatap dirinya dalam kondisi diam tanpa kata, letupan keras yang disertai timah panas yang menerjang area mencurigakan dari buih udara sebelumnya perlahan menampakkan beberapa tubuh mahluk hijau yang mulai mencemari area danau.
Dalam waktu yang begitu singkat itu, ledakkan besar yang berasal dari dalam danau itu memunculkan puluhan bahkan ratusan mahluk hijau yang serupa seperti mahluk hijau yang mengigit lehernya.
" Pergi dari sini! Sekarang!! " teriaknya sembari menahan serbuan mahluk hijau itu diwaktu melihat para wanita itu begitu panik dalam kebingungannya tak kala Mili yang berada dalam kondisi tertekan tidak sengaja merusak bagian simbol yang menjadi dasar kontrak untuk meminjam kekuatan dari ruh angin.
Menghantamkan kedua senapan api bertipe Magnum generasi 7 untuk mengubah bentuk senja itu melalui kekuatan imagi seperti yang diucapkan oleh sang Dewi dalam kesendiriannya di ruang hampa, sebuah senapan mesin dengan delapan lubang slongsongan mulai menampakkan diri sebelum hujan timah panas benar-benar membuatnya mengingat satu peperangan hebat diantara organisasi gelap yang menjadi saingannya.
" [ Jika saja Bobi disini. Aku pasti akan memintanya melemparkan banyak molotov cocktail untuk memeriahkan suasana ini. ] " pikirnya sembari tertawa puas di saat suara senapan yang begitu memekakan itu terus membuat beberapa tubuh mahluk hijau itu nampak begitu mengerikan.
Gelak tawa yang belum pernah ditunjukkan oleh Reino pada dunia sebelumnya membawa rasa takut sekaligus tabjuk atas kegigihan dari tuannya yang nampak begitu bersenang-senang di waktu mencabut nyawanya dari merek yang mengancam keberadaan diri..
* Swapts! Gbrubuuunggssss!!! * Dengan membuka lebar-lebar sayapnya untuk menghempaskan para mahluk hijau yang mulai semakin dekat dengannya sembari tetap menghujani mereka dengan timah panas yang dapat dengan mudah membinasakan belasan mahluk itu dengan dampak serangan yang cukup segnifikan,
" Kraa-aks! * Sduuummmss!!! * " Mengira bahwa tiada satu sosok mahluk hijau yang selamat dari peristiwa serupa dengan pembantaian itu, suara yang kembali terdengar diantara tubuh tanpa jiwa yang berserakan didekat mata air itu membuatnya kembali siaga sebelum melesatkan satu hantaman keras pada sosok mahluk hijau itu meski tubuh mahluk hijau itu nampak lebih kecil diantara mahluk hijau lainnya.
" [ * Hgrmgh * Selesai sudah tugasku untuk melindungi mereka. ] " ucapnya sesaat sembari menahan rasa sakit dari batuk berdarah yang nampak di telapak tangannya sebelum mengembalikan bentuk senapan mesin itu ke bentuk semula sebagai gelang emas yang membelenggu pergelangan tangannya.
Melihat aliran darah yang disertai serbuk cahaya mulai keluar diantara tubuh Reino yang berjalan ke arah mereka sembari mengucap rasa syukurnya atas keselamatan mereka, teriak panik dari mereka yang belum sempat mengucap terima kasih untuk pertolongan itu mulai terdengar begitu keras di waktu tubuh Reino tiba-tiba ambruk menimpa tubu mereka.
Berprasangka buruk dalam hati setelah melihat cross bow aneh yang digunakan Reino berubah menjadi gelang emasnya kembali sebelum menyangga tubuh yang kehilangan banyak energi sebagai ganti pinjaman kekuatan pada para dewa-dewi dunia, perasaan sakit dalam hati kembali menampakkan diri di saat tubuh Reino benar-benar ambruk tak kala dirinya masih bersiap diri untuk merapalkan mantra regenerasi.
" Kak Aya. " ucap Spia sembari menangis dalam pelukan Aya di waktu Reino belum juga menampakkan kesadaran dirinya meski beberapa ramuan penyembuhan maupun pemulihan energi sihir dan stamina telah diminumkan secara paksa pada tubuh Reino melalui kesediaan Aya yang memasukkan ramuan itu melalui mulutnya.
Mengunci rapat mulutnya dengan segera begitu merasakan sensasi lembut nan hangat diantara mulutnya meski sesuatu yang terasa dingin menyegarkan terus mengalir menuju organ dalam tubuhnya, wangi semerbak dari sebuah bunga yang menjadi ciri khas dari Aya yang selalu berada disisinya membuatnya menikmati setiap perlakuan lembut yang diberikan oleh Aya sebelum suara tangis yang menandakan bahwa sudah saatnya dirinya menunjukkan kepulihan diri kembali membuat Aya menerjang cepat tubuhnya seperti waktu sebelumnya sebelum meminta maaf atas hal buruk sebelumnya.
" Saya pun juga menyesali apa yang telah terjadi. " Sambung Rara sembari bersembunyi dibalik tubuh Mili di waktu mengakui kesalahan diri setelah pengakuan Mili.
Mengusap pelan masing-masing kelompok mata sayu dari mereka yang menangisi dirinya yang hanya mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan meski dalam hatinya sendiri merasa geli atas pemikiran mereka yang terlalu berlebihan, ucap penerimaan maaf yang disampaikan pada mereka yang masih merasa begitu menyesal mulai sedikit membawa keceriaan diantara wajah mereka.
" He,em. Tentu ada satu saat dimana aku harus memilih satu keputusan untuk mengorbankan diri kalian demi bisa menyelamatkan Aya maupun diriku sendiri. Namun satu saat itu bukanlah sekarang atau nanti, karena selagi aku masih memiliki sisa kekuatan. Aku pasti tidak akan membiarkan kalian mengorbankan diri kalian sendiri. " balasnya menanggapi ucapan Mili yang merasa bahwa tindakan dari dirinya nampak bodoh di mata Mili maupun Rara yang sebenarnya bisa dijadikan sebagai tumbal nyawa untuk menyelamatkan dirinya,Aya maupun Spia.
Menegaskan kembali untuk yang kesekian kalinya bahwa hanya Aya lah satu-satunya sosok terpenting dalam hidupnya kepada mereka maupun menyebutkan bahwa Spia bahkan Mili dan Rara hanyalah pengganggu diantara hubungannya dengan Aya membuat merek yang mendengarnya terkejut tidak percaya atas apa yang diucapkan itu layaknya canda semata.
" He,em. Tentu aku serius akan apa yang aku katakan itu. Kalian hanya sekumpulan para pengganggu sebelum waktu yang telah dihabiskan bersama sebelumnya itu mengubah sudut pandang ku. " lanjutnya dengan menekankan pada mereka bahwa mereka adalah bagian penting yang mengembalikan rasa kepercayaannya pada sosok yang disebut sebagai seorang rekan.
Menahan dirinya sebelum mengucapkan potensi keberadaan dari mereka yang bisa saja dipercayakan secara lebih selayaknya saudara maupun keluarga, mantra deteksi yang telah aktif semenjak dirinya membantai habis mahluk hijau sebelumnya membuatnya segera meminta mereka untuk mengepak barang bawaan sebelum meminta mereka untuk melanjutkan perjalanan menuju satu pulau melayang yang menampakkan adanya tanda kehidupan normal dan melupakan dirinya yang harus mengulur waktu.