CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Small talk of maturity



* spapapapaks! Dhapts. Dhapts* Suara langkah kaki yang begitu jelas terdengar setelah kepakan sayap yang berhenti mengepak diantara keheningan hutan belantara yang nampak begitu mengerikan dengan beberapa bekas pertempuran besar membuat seseorang yang turun dari seekor pegasus lengkap dengan pelindung baja menutupi bagian Indra penciuman nya dengan jari-jari atas aroma busuk yang begitu menusuk hidungnya.


" Dengar! Meski dalam kondisi ini kita tidak tahu pasti apakah ada sosok yang masih selamat atau tidak dalam tanah Alymna ini! Kalian harus waspada terhadap apa yang ada disekitar kita! Karena bagaimanapun juga Kraca Nhlua adalah monster berbahaya yang mampu merubah dirinya dalam area tempatnya bersembunyi maupun kemampuan fatalnya dalam serangkaian serangan cepat menggunakan kuku beracun yang amat berbahaya bagi manusia maupun kemampuan pelumpuh otot pada ras selain manusia! " ucap seorang kesatria dengan jubah biru mencolok diantara kesatria lain tanpa jubah yang datang tidak lama setelahnya.


Mengucapkan kesiapan mereka secara serempak sebelum menjelajahi setiap sisi pulau melayang itu dengan pembagian regu yang terdiri dari satu pleton prajurit berisikan 24 orang yang diantaranya terdapat satu regu petualang tingkat tinggi demi mengetahui secara pasti keberadaan mahluk yang menjadi target buruan mereka, sembah sujud atas keberadaan sosok wanita yang memakai zirah lengkap baja berlapis sihir datang menghampiri satu regu pasukan yang masih berjaga di posisi awal tempat pendaratan mereka.


" Seperti itulah Nona Irana. Tiga regu utama telah berangkat terlebih dahulu untuk menyisir sekitar area ini demi memastikan ketiadaan sosok berbahaya yang menyebabkan kehancuran seperti yang ada dihadapan anda saat ini. " lanjut kesatria dengan jubah biru itu pada perempuan berziarah lengkap yang turun dari kapal perang besar yang nampak serupa bagai kapal layar kayu besar dengan beberapa moncong meriam yang keluar diantara sisi lambung kapal yang berlubang.


Terbang diantara lautan awan yang kini lebih banyak menampakkan beberapa pulau melayang yang sebagian besarnya merupakan bagian dari hutan belantara tanpa tanda kehidupan, Reino yang tetap mengepakkan sayapnya untuk mempertahankan ketinggian sembari memanfaatkan hembusan angin untuk melayang tanpa henti meski harus memaksakan batasan diri demi menemukan satu pulau melayang dengan waspada mengingat kejadian sebelumnya bersama sedikit penyesuaian pada Spia dan Aya yang sesekali bertukar posisi dengan Mili dan Rara di atas langit demi memberikan waktu jeda untuk memulihkan diri.


" Mili, Aya. Aku ingin berbicara banyak hal dengan kalian berdua. " ucapnya lirih setelah membangunkan Mili dan Aya yang telah lelap diantara tubuh Spia dan Rara yang saling mendekap satu sama lain untuk saling menghangatkan diri.


Berjalan diantara malam dalam gelapnya hutan setelah dipastikan bahwa tiada hal lain yang kembali mengancam, Aya dan Mili yang berjalan mengikuti Reino yang ada pada urutan terdepan sembari berpegangan tangan dalam perasaan cemas atas satu hukuman yang akan diberikan Reino mengingat hal buruk yang pernah dikatakan untuk tidak pernah membuatnya kesal.


" Maaf atas sikap kekanak-kanakan ku di siang itu. A-aku tidak menyangka bahwa sikap seperti itu akan muncul begitu saja dan membuat kalian kahwatir setelahnya. Sungguh, jika kalian bersedia. Aku akan menjelaskan penjelasan kalian yang tertunda. " ucapnya dengan membungkuk hormat pada Mili dan Aya di tengah hutan belantara itu setelah beberapa hari terakhir ini dirinya semakin merasa menjauh dari mereka berdua.


" Pada dasarnya kami yang selalu meminjam kekuatan ruh dari alam langit dan bumi tidak diperbolehkan mengucap satu janji pada mereka yang tidak pasti bisa memenuhi janjinya. Selayaknya satu ritual sakral yang mempertaruhkan nyawa, ucapanmu yang tanpa sadar mengikat janji untuk hidup bahagia bersama Aya membuatnya sangat gelisah karena mungkin disaat Aya benar-benar menyetujui ikatan itu, Aya akan menyesali keputusan itu di usianya yang masih belia. " lanjut Mili mengenai satu keyakinan yang dapat merusak ikatan spiritual dengan para ruh alam apabila mereka [ elf ] melanggar sebuah janji yang telah disepakati.


Mendengar pernyataannya itu pernah disampaikan oleh seorang dari dunia asalnya yang membuatnya yakin bahwa keputusannya di waktu berdebat dengan para dewa-dewi dunia benar-benar pilihan terbaik, mengucapkan kesediaannya untuk menikmati waktu tunggu itu sebelum membulatkan tekad pada satu jenjang yang lebih serius di kelanjutan hari dengan sesekali memikirkan kembali keyakinan itu terhadap sikap dan watak Aya yang nampak jelas di setiap waktu yang telah dilaluinya.


" He,em. Tentu aku akan menyikapi putusan itu dengan dewasa dan karenanya sebagai ganti dari apa yang telah kalian lakukan sebelumnya, aku ingin kalian menemaniku mencari bahan makanan untuk sarapan pagi ini. " lanjutnya setelah semua permasalahan yang terjadi diselesaikan dengan baik sebelum menambahkan bahwa mereka harus menerima hukuman yang dirinya buat setelah mereka melanggar apa yang telah diperingatkan sebelumnya.


Tersenyum senang sembari menerima hukuman yang terucap itu, sikap unik nan misterius dari tuannya yang selalu saja menampakkan hal yang tidak terduga membuatnya kembali berbisik pada Mili mengenai putusannya kembali.


" Sesuai dengan apa yang aku ucapkan di waktu uji kemampuan sebelumnya, kamu dan Rara bukanlah seorang pelayan dari kami berdua. Yah, meski aku sendiri enggan mengakuinya. kerjasama diantara kalian berdua telah membuat luka yang berkesan dalam dada meski dalam arti sebenarnya itu mengacu pada tindakan kalian yang membuatku kecewa. " ucap Reino yang masih tersisa dalam benaknya tak kala Aya berusaha mencari sebuah saran terbaik untuk memulai jalan hidupnya bersama Rein nantinya.


Menyatakan bahwa akan lebih baik jikalau mereka menikmati suasana yang ada untuk lebih lama tanpa satu ikatan yang dapat mengakibatkan perpecahan tanpa sadar membuat Aya begitu senang mendengarnya meski Mili sendiri tidak mengetahui secara pasti apa yang telah diucapkan oleh Aya sebelumnya, keinginan kecil dalam hati yang kembali mengharapkan cinta, kasih dan sayang tulus dari Reino selayaknya dirinya adalah Aya itu sendiri.


" Hey, Rei. Jika satu saat nanti kamu merasa bosan dengan Aya, kamu bisa datang kepadaku meski hanya untuk memuaskan hasratmu. " Bisik Mili pada Reino di waktu Aya sibuk memasak bersama Spia dan Rara.