CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Senja baginya



* Dbrugmmm! Dbrugmmm! Dbrugmmm! * Gemuruh suara dari roda dengan rel kereta menghiasi suasana sunyi dalam gerbong sepi tak kala diri memeluk erat dokumen petisi yang seharusnya sudah selesai dibahas bersama klien sebelum badai mengerikan melumpuhkan berbagai aktifitas layanan transportasi publik.


Memandang lampu kecil yang menyinari gerbong kecil dari kelas ekonomi yang ditempati beberapa orang termasuk diri, kedipan mata yang sesekali ikut serta dalam guncang gerbong yang ikut meredupkan pencahayaan membawanya pada kenangan masa lalu yang cukup menegangkan.


" Pergilah tanpaku, Rein. Kamu harus mengantarkan ini dengan segera sebelum mereka menemukan keberadaan kita. " ucap salah seorang rekan seperjuangan yang terluka parah akibat timah yang bersarang pada salah satu kakinya setelah keberuntungan memenangkan mereka dalam pertempuran berdarah sebelumnya.


Menundukkan wajahnya sembari mengingat ucapan terakhir sebelum meninggalkan rekannya yang terluka, sebuah goncangan yang kembali terjadi pada gerbong kereta membuatnya tertawa tak kala guncangan itu berada pada waktu yang sama saat dirinya mengingat ledakan hebat yang terjadi tidak lama setelah dirinya berbalik untuk yang kesekian kalinya ke tempat persembunyian mereka.


" Barka Lima, sudah hampir 20 tahun semenjak kematianmu yang cukup heroik bagiku.[ Jika saja waktu itu kamu tidak melindungi diriku yang lemah, aku mungkin akan berada pada posisimu saat ini dan kamu mungkin akan menjadi petinggi yang lebih baik dariku saat ini. ]" ucapnya sesaat sembari mengusap batu nisan tanpa jasad demi mengenang kepergian seorang teman yang cukup berjasa baginya.


Mengusap perlahan bahu tuannya yang masih larut dalam kesedihan bersama rintik hujan yang mulai menghilang, sebuah pelukan hangat yang diberikan tanpa sadar membuat kesunyian yang ada dalam area pemakaman itu mulai dihiasi ucapan kata terima kasih pada dirinya yang setelahnya merekapun pergi meninggalkan area pemakaman bersama beberapa rangkaian bunga yang diletakkan di atas makam.


" Terima kasih sudah mau menemaniku hari ini, Aya. Aku sungguh tidak menduga bahwa kamu akan bersedia ikut dalam perjalananku kalih ini. " ucapnya memuji Aya yang tidak biasanya memberitahukan keinginannya untuk ikut bersama dirinya dalam perjalanan ke luar kota.


Membalas pujian tuannya dengan mengakui bahwa kesendirian tanpa keberadaan tuannya selalu membawa kenangan buruk pada tempat pengundian, ucapan rasa syukur yang baru pertama kali dirinya dengar dari Aya membawa kebahagiaan lain dalam dirinya setelah lama bergelut dalam kerasnya dunia.


" He, em. Tidak. Aku tidak pernah berfikir bahwa mereka yang menjadi pusat dari kepercayaan ataupun keyakinan akan bercampur tangan dengan setiap kejadian yang ada dalam lini kehidupan. " ucapnya dalam waktu santai di area taman yang tidak jauh dari pemakaman setelah rintik hujan benar-benar mereda.


" Sebagaimana yang kamu tahu mengenai pekerjaan kotor yang selalu aku lakukan demi mencapai apa yang aku rasakan saat ini, Aya. Selain dari kepercayaan terhadap kemampuan diri ataupun ketepatan dalam memanfaatkan peluang yang muncul di ujung tanduk yang mengancam nyawa, tiada hal lain selain kepercayaan terhadap seorang rekan yang mampu menggoyahkan diri untuk menemukan sosok yang disakralkan seperti yang kamu ucapan. " lanjutnya menegaskan secara halus bahwasanya tiada hal selain keberuntungan yang membuatnya percaya pada sosok yang disakralkan bagai setiap penganut agama maupun keyakinan.


" Ah, em. Iya. Singkatnya aku adalah seorang yang netral, Aya. Aku tidak mempermasalahkan keyakinan ataupun kepercayaan dari orang-orang di sekitarku ataupun sebaliknya karena aku sendiri memiliki keyakinan tersendiri yang jika itu diucapkan maka itu akan membuat mereka saling membenarkan kepercayaan maupun keyakinan mereka masing-masing dan menimbulkan adanya resiko perpecahan. [ Dan mungkin, ucapan yang bertujuan untuk mencegah isu sara maupun kerusuhan akibat perbedaan cara pandang para keyakinan ataupun kepercayaan adalah hal yang tepat untuk dikatakan sejak awal pembahasan.] " lanjutnya yang enggan mengungkit permasalahan yang mungkin akan menimbulkan isu sara terkait kehidupannya dalam bermasyarakat.


Mencukupkan pembahasan yang cukup sakral itu mengingat ucapan netral yang dimaksudkan untuk menjaga kehormatan bagi masing-masing adat dan kebiasaan yang beraneka ragam, bayangan dari sosok Reino yang saat ini berjalan di samping dirinya kembali mengingatkan sepenggal waktu petualangan yang dihabiskan bersama sosok yang serupa dengannya pada masa lalu.


" Berbicara mengenai pandang dunia saat ini dari bagaimana caramu menyimpulkannya, aku pun sempat berharap bahwa di akhir hidupku nanti, aku akan hidup dalam dunia yang cukup sederhana sebagaimana dunia luar biasa layaknya karya fiksi belaka. " sambungnya pada pandangan Aya mengenai dunia yang nampak bagai neraka dengan udara, air dan tanah yang rusak akibat ulah manusia.


Sembari berjalan berdampingan bersama Aya menuju tempat persinggahan sementara sebelum akhir dari perjalanan bisnis darinya, berbagai ungkapan atas keinginan untuk melihat dunia imajinasi yang diucapkan Reino sesaat tadi membuat Aya sempat berkeinginan untuk menarik sosok Reino ke dalam dunia yang dianggap fiksi itu menggunakan sisa kekuatannya.


" He, em. Tidak semua orang dapat berfikir demikian untuk menyelamatkan kembali " Ibu Alam " seperti yang kami lakukan. Namun dengan sedikit harapan dan bukti nyata pada apa yang tengah kami lakukan, kelestarian alam yang asri pada tempat ini mungkin akan bertahan selama beberapa generasi sebelum neraka yang sama seperti Kota Bule Kaina di benua barat menghampiri tempat ini. " ucap seorang siswa dengan pakaian relawan penggerak roda kelestarian alam dalam even penghijauan yang diadakan disekitar tempat tinggal mereka.


Mengenakan pakaian dasar putih dan hijau di bagian lengan serta pelindung dada berwarna coklat kehitaman, perempuan ber rambut hitam keunguan yang tingginya hampir setara dengan Aya mulai menampakan senyuman tak kala Reino menyumbangkan sedikit dana demi membantu pergerakan mulia mereka.


" Kenapa denganku? Hehe, ya. Mungkin setelah menikmati kedamaian saat ini tanpa adanya masalah yang cukup berarti, [ selain penyerangan beberapa organisasi perdagangan obat terlarang maupun manusia yang dianggap layaknya barang. ] Aku rasa hal semacam ini cukup baik dilakukan di masa senjaku saat ini. " balasannya menanggapi ucapan Aya yang nampak tidak menduga bahwa dirinya akan memberikan sisa tunjangan dari hari tuanya pada anak muda yang berniat menyelamatkan dunia kecil mereka.


Memandang salah satu tangannya yang mulai keriput di kala matahari senja menampakan siluet di ujung samudra, senyum puas bersama ucapan senang bahwa langkah panjang demi bertahan hidup dalam dunia yang begitu mengerikan akan berakhir dalam kedamaian penuh kehangatan bersama Aya yang menjadi satu-satunya sosok yang begitu berharga baginya.