CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Tyrans Dragon



Membuka sayap besarnya untuk kembali kedalam goa persembunyian setelah mengingat bahwa jalanan di sekitar hutan nampak begitu menyesatkan, gemuruh suara dari petir yang menyambar bersama awan badai yang datang tidak membuatnya gentar atas petir yang dapat menyambar tanpa sadar.


" Lihatlah itu!! Disana!! Naga Bencana Nameral Tyu'rex!! " ucap seorang kesatria yang mengenakan zirah putih berselimut aura sembari menunjukk ke arah dirinya yang tidak begitu mendengar jelas apa yang dikatakan akibat sambaran petir yang menyambar disekitarnya.


Terbang menjauh dari para prajurit yang mulai mengejar dirinya yang tidak tahu menahu apa masalah yang dibuat olehnya, pemikiran untuk jauh menyesatkan mereka ke dalam hutan yang telah dipasang mantra pengecoh benar-benar membuahkan hasil dan membebaskannya dari para pengejar itu sebelum akhirnya tiba dalam goa yang seharusnya ada Aya, Spia, Mili dan Rara.


" Megh Armor Grafdnoer!! " rapalan mantra yang terdengar tidak asing baginya membuatnya senang karena bisa mengetahui bahwa ada seorang dalam goa itu meski tanpa sadar dirinya sendiri tidak bisa memasuk lebih dalam setelah menampakkan kakinya diantara tebing berbatuan itu.


* Gbralsss!!! Grraaaaaaaaghh!!!! * Hantaman keras dari sebuah batuan bercahaya yang disatukan oleh cahaya lain berwarna oranye membuatnya terpental jatuh ke sisi hutan dengan suara teriakan yang membuat seluruh penghuni dari hutan belantara itu berlari tunggang-langgang.


" Kenapa denganmu Rara! Apakah kamu masih marah dengan apa yang aku lakukan sebelumnya! " ucapnya sembari mengusap kepalanya yang terbentur cukup keras sebelum melihat sebuah monster batu yang tersusun dari batuan bercahaya yang dirasa sebagai batuan platina.


Diam menatap seekor naga besar berwarna ungu kehitaman dengan tanduk bercabang yang disertai surai putih kehitaman layaknya mahkota dengan kristal besar pada dahinya, raungan keras yang mampu meruntuhkan sisi lain tebing yang membuat bebatuan disekitarnya berjatuhan nampak jelas tidak dihiraukan oleh pengendali dari monster batu itu yang justru melindungi mulut goa itu dengan menghancurkan setiap batuan yang jatuh menerjangnya.


" Nh, baiklah jika memang kamu kesal. Aku sendiri tahu bahwa aku cukup berlebihan kepadamu. " lanjutnya sembari bangkit dari duduknya untuk mendekati Rara yang dirasa semakin kuat setelah meminum ramuan buatan dari Spia.


Mendapati naga besar itu kembali bangkit dengan awan badai yang semakin dasyat menghancurkan sekitar areanya, tatapan mata penuh harap untuk bertemu dengan Aya demi memastikan bahwa tidak ada hal buruk menimpa mereka langsung dibalas dengan tebasan angin yang membelah awan badai di sekitar naga besar itu berada.


" Bagus, sekarang aku tahu bahwa Mili juga membenciku." lanjutnya setelah menghindari seranganan yang datang secara tiba-tiba itu dengan mudahnya.


Memandang secara samar sebuah gerakan tangan yang nampak membuatnya ingat atas satu serangan besar berdampak area yang mampu meluluhlantakkan pepohonan disekitarnya, teriakan keras untuk memanggil Aya keluar menemui dirinya justru semakin menampakkan kengerian di mata pengguna pedang panjang yang diselimuti oleh kekuatan elemental maupun pengendali monster batuan platina di depan goa.


" Mili, Rara. Cukup dengan serangan kalian. Sosok yang ada dihadapan kita bukanlah seorang musuh melainkan tuan kita yang lama hilang. " ucap seorang Elf yang menepuk kedua bahu dari mereka yang menjaga mulut goa persembunyian itu.


" Tyu'uri 'nava Afeiladerin Nacma. " ucapnya dengan lembut sembari menciptakan sebuah simbol diantara kristal besar itu yang setelahnya serbuk cahaya mulai turun diantara langit cerah yang terbelah.


" * Aaaaaaarrrghh!! * Aku benci cahaya ini! " teriaknya dengan begitu kesakitan tak kala serbuk cahaya itu mulai membentuk sebuah tabung bercahaya yang mengurung dirinya.


* Gbrubuuunggssss!!! Gbrubuuunggssss!!! Gbrubuuunggssss!!! * Benturan keras yang mengguncang langit dan bumi mulai tercipta diwaktu pemberontakan dari naga besar itu yang berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan salah satu sisi tabung bercahaya itu sebelum tabung itu benar-benar meniadakan ruang geraknya.


" Maafkan aku, Rin. Aku tahu bahwa hal ini sangat menyakitkan bagimu. " ucap Aya dengan menahan rasa sakit di dalam dadanya ketika harus kembali menggunakan sihir tingkat tinggi untuk menyegel kekuatan dari Reino yang mengamuk.


" Eternal Jail : Ring of the Earth and Heaven!! " Teriak Aya sebelum menghancurkan inti kristal di dahi naga besar itu bersama tabung cahaya yang ikut hancur setelahnya.


Melihat sebuah ledakan hebat dari kumpulan energi sihir gelap dan terang meluluhlantakkan seluruh area sekitarnya, Mili dan Rara yang menyadari bahwa mereka berdua mungkin akan tiada jika terkena dampak ledakan itu mulai menciptakan penghalang terkuat yang dapat mereka buat di bagian mulut goa sebelum Spia yang bangkit dari tidur lelapnya bangkit membantu mereka menggunakan sebuah mantra pendukung tingkat tinggi hingga pertahanan yang mulai terkikis itu menampakkan bentuk utuhnya kembali.


" Sama seperti saat dirinya bangkit dalam dunia ini dan menghancurkan alam langit dan bumi. Stevani Naya, yang menjadi salah satu dari tiga belas perwakilan pahlawan dunia harus mengaktifkan sihir level dunia yang bahkan hanya mampu menghapus separuh kekuatan penuh dari dirinya yang tidak seharusnya ada dalam dunia. " ucap seorang Dewi yang diselimuti aura kuning bercahaya yang tersenyum memandang bola sihir kristal yang menampakkan tubuh renta dari Reino didalamnya.


* Hikshs hikshs hikshs * suara lirih dari tangis air mata Aya dihadapan tubuh kosong tanpa adanya tanda kehidupan dari tubuh Druid yang perlahan mulai kehilangan bentuk tanduk rusanya maupun sayap besar yang mulai pudar bersama cahaya kunang-kunang yang berterbangan diantara area kosong tanpa adanya tanda kehidupan, kilau cahaya dari bintang jatuh yang menghiasi langit malam bersama aurora yang terbentuk dari kekacauan energi sihir disekitar tempatnya berada membawanya pada ketiadaan arti dari kehidupan.


" Dan, Lagi. Menggunakan sebagian energi kehidupan yang dimiliki untuk mengambil paksa jiwa ini, dia akan kembali mengorbankan ingatannya kembali. " lanjutnya di waktu melihat kristal yang mengurung tubuh dari Reino mulai melebur menjadi serbuk cahaya yang mulai turun dari altar Dewi itu berada menuju alas kehampaan setelah langit berbintang menuju jasad yang kembali diberikan sebuah luka besar memanjang dibagian dadanya.


* krtks, krtks, Gbrubuuunggssss!! * Ledakan dari tanah berbatu yang menampakkan sosok Mili dan Rara yang menggendong Spia yang kembali kehilangan kesadaran membuat dirinya tersenyum di antara akhir dari mantra terlarang yang tidak bisa lagi dihentikan.


" Nak Aya!! Tangkap!! " teriak Mili sembari melemparkan ramuan buatan Spia yang tersembunyi dialam tas saku milik Rara.