CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Naderal Spia



" * Argh * Maaf, Aya. Ijinkan aku untuk mengistirahatkan diri sejenak. " ucapnya dengan begitu kelelahan tak kala selesai memutari seisi hutan yang dirasa cukup luas tanpa arah tujuan jelas hingga memutuskan untuk berteduh didekat pohon besar yang menarik perhatiannya.


Memanjat tingginya pohon itu sembari memperhatikan secara seksama letak dari tempatnya berada sebelum kembali melihat tuannya yang duduk memejamkan mata, sebuah sihir pendeteksi area yang berdasar pada penyebaran energi mana ke sekitar area demi mengetahui seberapa jauh tuannya menggendong dirinya mulai dirapalkan tak kala merasa bahwa tuannya tidak akan terganggu oleh perbedaan energi sihir di sekitarnya.


* kyiiingk kyiiingk kyiiingk * suara merintih dari seekor anjing yang kesakitan mulai terdengar jelas tidak lama setelah dirinya terbangun dari tidurnya yang singkat itu.


" [ Ya ampun, para dewa itu benar-benar berlaku sesuka hatinya padaku. ] " ucapnya dalam hati sembari mengusap bagian bebatuan besar yang menjadi tempatnya bersandar untuk menemukan keberadaan dari asal suara itu setelah mengingat pertemuannya dengan seorang dewa yang memintanya melakukan sesuatu untuk kepentingannya sendiri.


" [ He,emgh. Aku pasti akan mendapatkan hukuman keji dari mereka jika mereka tahu bahwa aku melanggar kesepakatan sebelumnya. ] " lanjutnya sembari berfikir mengenai penjelasan yang akan dirinya katakan pada dewa-dewi dunia ini terkait kesepakatan untuk menjalani kehidupan dalam dunia ini tanpa mengusik keberadaan dari mereka maupun bersinggungan dengan masalah yang terjadi diantara pengikut mereka.


Berjalan kembali ke tempat tuannya yang terlelap dalam tidurnya dengan membawa beberapa buah dan sayuran yang didapatkan dalam hutan demi menyajikan sedikit makanan sebagai pengisi energi setelah suara perut keroncongan terdengar diantara keheningan, pandangan mata yang terbelalak melihat seorang wanita lain tengah berada dalam dekapan dari tuannya membuatnya terdiam tanpa kata dengan beberapa buah dan sayuran yang dijatuhkan tanpa sengaja.


" Naderal Spia, adalah namanya. Dia adalah seorang anak dari ras Ertna brown yang tinggal di sebelah tenggara Gunung Bubla atau lebih tepatnya bagian terdalam dari Tebing Gragrang, Kota Tanah Eyule. " ucapnya memperkenalkan gadis cilik yang masih menenggelamkan kepalanya dalam pelukan dirinya dengan sedikit air mata yang masih tersisa diantara kelopak matanya.


Menjelaskan secara sederhana masalah dari permintaan seorang Dewi yang tidak pernah ditemuinya dalam alam lain yang dihuni para dewa-dewi dunia itu yang menyatakan bahwa pada satu waktu sebelum perang besar terjadi, Dewi yang berniat meminjam wadah dari pengikutnya demi menghentikan peperangan itu justru gagal akibat adanya sosok lain yang tidak menyukai dirinya dan membuat kegagalan pada wadah yang telah dimaksudkan dan berakibat pada jiwanya yang masih berada dalam satu dimensi kehampaan yang tidak terikat pada dunia tempatnya berada maupun dunia tempat asalnya sebelumnya.


" Dengan kata lain, berkat kekuatannya yang berdasar pada elemen tanah atau bumi. Dia yang berada dalam kondisi seperti kita saat ini, memilih untuk menyamarkan diri di dekat bebatuan ini hingga tanpa sadar merapalkan sejenis sihir tingkat tinggi yang membuatnya hidup pada masa ini. " lanjutnya sebelum menyinggung kejadian yang terjadi pada Aya yang terjebak dalam dunia tempatnya berada sebelumnya.


Meski sempat terjadi sebuah ketegangan diantara mereka terkait pada ucapan tuannya yang seharusnya tidak mencampuri urusan dari para dewa-dewi seperti pada penjelasannya di waktu sebelumnya, Reino yang kembali menyamakan situs Aya di waktu sebelumnya membuat Aya mengalah dan memutuskan untuk berusaha membantu gadis cilik itu meski dalam hitungan umur yang sebenarnya dapat dinyatakan bahwa gadis cilik itu jauh lebih berumur darinya.


" Jadi, begitu, ya. Baiklah. Kita akan makan terlebih dahulu. " ucapnya begitu mendengar suara perut dari gadis cilik itu tak kala memintanya menjelaskan secara lebih mengenai peranannya yang sempat tertunda.


" Kak Rei, Kak Rei. Apakah luka itu tidak menyakiti kakak ? " ucap gadis itu yang menanyakan bekas luka besar pada bagian dadanya yang terlihat diantara baju kerah yang terbuka.


Terkejut dengan sentuhan gadis itu yang begitu tiba-tiba menyentuh dadanya, sebuah cahaya kuning keemasan kembali menampakkan diri diantara bekas luka yang ada sebelum serpihan kecil serbuk cahaya mulai melayang diantara keduanya yang setelahnya sebuah simbol misterius menampakkan diri pada bagian dada kanan dari gadis itu.


" [ Bukankah itu adalah salah satu simbol dari empat kelas petualang yang ada saat ini? ] " pikirnya sesaat di waktu serbuk cahaya itu membentuk sebuah palang merah di tengah bentuk hati pada bagian tubuh dari gadis itu.


Memakaikan baju miliknya pada gadis itu di waktu cahaya itu mengikis bajunya yang rapuh, perasaan iri kembali timbul dalam hati Aya tak kala perlakuan yang hampir sama dengan yang diterima olehnya di tunjukkan pada gadis itu oleh tuannya.


" Terlebih lagi, * Argh * ukuran yang tidak semestinya itu akan membuat tuan memalingkan dirinya dariku. " gumamnya di waktu keduanya nampak membicarakan sesuatu yang tidak dirinya ketahui.


Mencoba mendekati keduanya yang masih berbalut penghalang transparan dari cahaya sebelumnya untuk mengetahui hal macam apa yang mereka bicarakan, pandang mata yang kembali teralihkan pada gerakan tangan dari tuannya yang membelai pelan tubuh gadis itu semakin membuatnya merasa geram.


" * Mnh * Ji--jika Kak Rei berkenan, a-aku bisa membantu Kak Rei untuk menyembuhkan luka itu. " ucapnya dengan memaksakan diri di tengah ketidak tahuan atas apa yang terjadi maupun perlakuan lembut dari Reino yang nampak jelas ingin melindungi dirinya dari sesuatu.


Memejamkan matanya kembali di saat yang sama ketika mengingat cahaya terang yang menyakiti dirinya di waktu perpindahan ruang dan waktu dunia yang berbeda, sosok Dewi yang sebelumnya nampak buram dalam mimpi waktu lalu mulai menampakkan dirinya kembali dengan lebih jelas dari sebelumnya.


" Maaf karena telah melibatkan mu dalam hal ini. Sama seperti yang aku sudah katakan sebelumnya, pada pertemuan kalih ini, aku ingin menjelaskan hal dasar untuk menggunakan sedikit kemampuan dari Ring of Earth and Heaven. " ucap sosok Dewi dengan wajah pirus berambut putih panjang nan halus serta kristal biru laut pada dahinya yang nampak senada dengan balutan busana dewa-dewi mitologi yunani maupun tambahan kain sari yang menutupi bagian lengan maupun dada yang nampak terbuka.


Memperhatikan dengan seksama penjelasan dari Dewi itu meski sempat timbul berbagai pertanyaan mengenai beberapa kalimat asing maupun empat simbol dasar pekerjaan serta dua simbol lain yang dinyatakan telah hilang dari peradaban, empat simbol yang mewakili penyembuh, petahana, petarung dan penyihir mulai nampak dalam gelang emas yang membelenggu pergelangan tangannya di waktu yang sama dengan memudarnya pelindung cahaya transparan yang membatasi mereka dengan Aya.