CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Pertemuan



Stefani Naya merupakan nama dari seorang wanita elf yang menjadi satu-satunya hal menarik dalam pertemuan terselubung para petinggi dalam sebuah pulau misterius di ujung bumi.


" [ Sungguh malang sekali nasibmu ini, Stefani. ] " ucapnya dalam hati sembari memandang wanita elf itu dengan berat hati tak kala roda undian yang terus berputar selalu menampakkan ketidak beruntungan bagi para petinggi yang berniat memperoleh keberadaan wanita elf itu meski menggelontorkan miliaran harta yang dimiliki.


Menjauhi tempat undian mengerikan itu untuk mendapatkan informasi mengenai rasa enggan dari pemilik tempat terselubung itu yang nampak tidak peduli pada harga yang ditawarkan untuk melepas keberadaan wanita elf itu, gelak tawa dari sosok pria gemuk dengan banyak tato yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya itu membuka sebuah pernyataan bahwasanya dirinya pun hanya mengikuti hukum yang diturunkan dari generasi sebelumnya untuk membiarkan wanita elf itu untuk menemukan tuanya sendiri.


" Selain dari orang-orang bodoh yang di sana itu, sudah ada ribuan orang bodoh lain yang menawarkan harta bendanya demi mendapatkan nenek tua yang di sana. " ucap pria itu setelah menghembuskan asap rokoknya di wajah Reino sembari menunjukkan jarinya pada wanita elf itu bersama para petinggi yang nampak diseret keluar atas sikap yang dinilai kurang ajar.


Mendengarkan dengan seksama bahwa ada beberapa mafia kelas kakap yang mencoba menculik keberadaan wanita elf itu maupun melakukan hal lain terhadap pria besar itu, wanita elf itu selalu kembali ke tempat itu tanpa sepatah kata ataupun sesayat luka yang membuat si pria besar itu cukup muak dengan kengerian yang selalu mengintai dari luar wilayah kekuasaannya.


" Begitulah, Badak. Jika kamu memang ingin menguji peruntungan sekali dalam hidupmu untuk mendapatkan nenek tua itu, maka cobalah peruntungan itu dan dapatkan makhluk yang melawan hukum dunia saat ini untuk dirimu sendiri. " lanjut pria itu sebelum pergi menghampiri beberapa pria pirang bertopeng singa dan naga yang sibuk menggauli beberapa wanita dari tempat kekuasaannya.


Memikirkan secara berulang mengenai resiko demi menyelamatkan wanita elf yang nampak begitu menderita itu, Reino yang beberapa kali memandang tubuh layu yang dibalut kain lusuh itu mulai menempelkan tangan kananya pada cermin pembatas ruang dari wanita elf itu sebelum respon balik dari wanita elf itu yang menampakkan wajah sayu mengucapkan sebuah kata yang mampu membuatnya segera mengambil paksa sepuluh kali kesempatan undian demi mendapatkan wanita elf itu.


" [ Aku, mendapatkan nya! ] " ucapnya dalam hati tak kala kemeriahan suasana yang ada terasa begitu sunyi sebelum sebuah senyuman dari wanita elf itu membuatnya begitu bahagia dalam mulut ternganga tanpa kata yang mampu melukiskan rasa senangnya.


Mendapatkan sebuah kertas lapuk yang diakui sebagai bukti kepemilikan atas wanita elf itu dari pria gemuk pemilik tempat itu bersama wajah senang layaknya seorang yang begitu lega atas lepasnya beban kutukan yang mengikat diri, berbagai tawaran menggiurkan dari beberapa petinggi yang merasa iri atas apa yang dirinya miliki tidak membuatnya memberikan wanita elf itu begitu saja.


" He, em. Yeah. Tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Dia sekarang adalah milikmu dan tanpa adanya pengakuan darinya dia tidak akan melepaskan diri begitu saja dari kehidupan keji yang menanti dirimu. Nikmatilah waktu hidup singkat itu bersama nenek tua itu. " ucap pria gemuk itu setelah membantai habis seluruh petinggi yang menjadi saksi pelepasan wanita elf itu pada Reino sebelum membuka pintu keluar dari tempat terselubung dalam gemerlap malam di area hiburan malam.


" 7.415.375 Koin Nube atau sama seperti 28.963.278 nilai Zak saat ini, aku rasa sudah cukup baik untuk memulai hidup baru sebagai pria normal pada umumnya. " gumamnya dalam perjalanan pulang menuju hotel tempat persinggahan sembari melihat barisan angka dalam layar tablet dalam genggaman sebelum mengalihkan pandangan pada wajah elf yang nampak kembali muram.


" [Selain dari itupun dengan memanfaatkan sisa koneksi yang ada, aku rasa aku bisa memilih untuk tinggal di antah berantah yang tidak terlalu mempermasalahkan keberadaan darinya.] " lanjutnya dalam diam setelah mengusap kembali wajah elf itu sembari mengatakan bahwa dia telah berada pada tempat yang aman.


Mendekap erat genggaman tangan dari elf itu selama perjalanan panjang melintasi waktu dalam kapal ekspedisi yang meninggalkan pulau terpencil itu, cahaya dari mentari pagi yang menampakkan diri diantara birunya laut kala itu membuat kesan dalam hati Reino tak kala setitik senyum mulai menampakan diri pada wajah elf itu.


" Aya Stevia adalah nama barumu dalam lingkungan baru diantara kehidupan kita yang juga baru. " ucapnya mendekap kedua tangan elf itu sembari menatap matanya penuh suka cita di depan sebuah rumah sedang di pinggiran kota yang cukup damai dari hiruk-pikuk dunia fana.


Membongkar beberapa barang dari agensi yang membantu perpindahan dengan hati-hati sembari sesekali memperhatikan tingkah dari wanita elf yang masih nampak serupa dengan humanoid tanpa ekspresi, ucapan memuji lagi keterbukaan diri bersama empati demi membangun rasa saling percaya maupun penegasan halus bahwa dirinya adalah pelindung bagi elf itu untuk saat ini mulai menampakan perubahan meski waktu yang berlalu membuatnya merasa sepi dalam kehidupan barunya.


" Tu- an- Rin, Ha- ti- ha- ti-. " ucap Aya dengan tiba-tiba di waktu Reino hendak pergi kembali untuk bekerja sebagai seorang penanggung jawab perusahaan jasa tingkat menengah di dekat wilayah tempat tinggalnya saat ini.


Mendengar secara samar suara lembut yang nampak dikenali bersama keberadaan dari Aya di yang melambaikan tangan ke arahnya meski nampak memaksakan diri, rasa keputusasaan untuk kembali dekat dengan Aya di waktu sebelumnya mulai kembali nampak bersama semangat baru untuk segera menaklukkan hari demi menghabiskan waktu sisa untuk bermanja dengan Aya.


" [Akhirnya! setelah sekian lama menunggu pengakuan darinya, akhirnya dia benar-benar mengakui diriku sebagai tuannya. ] " ucapnya dalam hati penuh riang gembira sembari membayangkan kembali sosok Aya yang memakai pakaian pelayan gaya Victoria lengkap dengan apron dan mahkota putih yang elok diantara rambut panjang berwana kuning kecoklatan.


Melewati hari penuh kepenatan dalam lingkup ruang penguras emosi dan stamina, sambutan hangat dari Aya yang kembali nampak menyambut kepulangannya kembali membuatnya merasa sangat bahagia.