
" Baguslah, bila memang apa yang terjadi barusan dapat membuatmu mengingat kembali sesuatu dari masa lalu itu. " ucap Reino menahan diri di waktu menepuk bahu Spia agar sisa kemampuan yang ada dalam tubuh tidak menghapus keberadaan jiwa dari Spia.
Mengambil sebuah pisau yang telah disiapkan dalam tas perlengkapan yang isinya nampak berserakan di sekitar mereka untuk mencoba mempraktekkan cara mengambil material berharga dari dalam tubuh hewan buas maupun hewan sihir yang dapat ditukarkan dengan mata uang yang berlaku, bau amis dari darah yang cukup menyengat di hidung Spia maupun Aya tidak nampak terlalu dipedulikan oleh Reino yang justru mengingat kembali sensasi serupa pada masa lalunya yang sering kali menyiksa beberapa informan demi kelancaran pekerjaan yang dibebankan kepada dirinya.
* Gltuks * Suara ngilu dari tulang yang dipatahkan dalam sekali putaran tangan searah jarum jam membuat Aya maupun Spia nampak menutup mata dengan kesan tidak tega ketika Reino yang kembali menampakkan wajah senangnya di waktu memotong bagian dari hewan-hewan yang ada dihadapannya.
Memilah dan memilih beberapa bagian tubuh yang dapat diolah menjadi makanan maupun obat-obatan yang berdasar pada pengetahuan yang telah dipelajari maupun ucapan dari Spia yang memiliki cara berbeda dalam pengolahan setiap bahan mentah yang ada, Aya yang merasa tertinggal dari Spia mulai mencoba melakukan sesuatu dengan sisa bahan yang masih dirasa berharga demi mendapatkan kembali perhatian dari Reino sebagai tuannya.
" * Nmah * Tuan Rin! Ini aku buatkan sup tulang untuk anda! " ucapnya dengan semangat sembari menyajikan sebuah sup sumsum tulang hewan yang masih menampakkan beberapa pecahan tulang yang cukup besar diantara penyajiannya.
Menjelaskan secara sederhana mengenai efek pemulihan dasar yang mampu menguatkan tulang maupun meningkatkan kemampuan berpedang seperti yang telah Reino tunjukkan di waktu kemampuan khusus itu diaktifkan, sajian serupa sup dengan daging dan olahan kentang mulai disajikan di waktu yang hampir bersamaan ketika Reino hendak memakan sesuatu yang Spia rasa tidak terlalu berdampak besar pada kemampuan dari Reino yang dianggapnya sebagai seorang kakak.
" Tidak apa, tidak apa. Aku akan memakan semua makanan yang kalian sajikan dan sebagai gantinya pun, kalian juga harus memakan-makanan yang aku sajikan. Faham ? " ucapnya kembali menengahi pertengkaran kecil diantara mereka yang membuat mereka kembali mengingat sup sayuran yang sempat terbuang sia-sia di waktu sebelumnya.
Mencoba mengingat sebuah makanan dari dunia asalnya yang nampak sesuai dengan bumbu dan rempah yang tersisa dalam tas perlengkapan sebelumnya, sebuah sajian makanan yang begitu menggoda selera yang berasal dari baunya yang begitu khas maupun bentuk dan porsi yang sengaja dibuat lebih besar dari aslinya, sebuah stak daging dengan sebuah sajian saus yang dilengkapi bersama setitik sayuran kecil dan bumbu rempah yang menyatu dalam pembakaran sempurna mulai memanjakan lidah dari keduanya yang begitu Reino hendak duduk untuk memakan bagiannya harus membatalkan niatan itu demi memuaskan rasa lapar dari Aya maupun Spia yang enggan menampakkan keinginan untuk menambah kembali porsi dari sajian yang dibuat olehnya.
" [ Sayang sekali bahwa tidak ada item box maupun dimensional room yang dapat aku jadikan tempat penyimpanan tambahan untuk memuat semua hasil kerja kerasku ini. ] " pikirnya dengan awalan tawa sebelum mengalihkan pandangannya ke arah tubuh hewan yang masih belum tersentuh sepenuhnya akibat muatan berlebih pada ransel besar yang digunakan olehnya.
" Aha- iya, Tuan Druid. Kami mohon kepadamu untuk tidak menganggap kami sebagai musuhmu. " ucap seorang pria dengan bandana kuning yang mengikat kepalanya setelah seorang penyihir membisikkan kata bahwa sosok Druid dihadapan mereka dirasa tidak biasa.
Merasa mengulang waktu atas pertemuannya dengan para petualang itu yang dirasa sama selayaknya pertemuan dengan Afe di waktu sebelumnya, kepalan tinju yang mengarah ke kelompok kecil itu mulai dibatalkan bersama ajakan untuk bergabung dalam kamp kecil yang dibuat olehnya untuk memecah keheningan malam.
" Maaf atas kesederhanaannya. Hanya sup ini yang aku punya untuk kalian dan jika kalian enggan untuk memakannya pun aku tidak akan merasa marah atau kecewa karenanya. " ucapnya menjamu mereka yang nampak terkejut dengan keberadaan Aya maupun Spia yang nampak pulas tertidur di atas alas kain lusuh dengan bantalan tas ransel berisikan perlengkapan petualang.
Duduk diantara mereka sembari memposisikan diri untuk memasang badan secara samar pada mereka yang telah terlelap dalam tidurnya, ucap pujian yang terkesan terlalu memaksakan keadaan mambuatnya tertawa spontan sebelum mengatakan bahwa dirinya lebih menghargai kejujuran dari mereka daripada mendengarkan omong kosong belaka yang jelas berbeda dengan kenyataan sebenarnya.
* eglpts * menelan suapan terkakhir dari sup tulang yang disajikan oleh Druid itu bersama dengan beberapa topik pembicaraan yang telah berlalu, rasa penasaran yang berubah menjadi rasa enggan untuk mencari masalah pada Druid itu benar-benar timbul dalam diri masing-masing dari mereka tak kala menyebutkan bahwa tulang yang sebelumnya merupakan hasil sisa dari sebuah hewan liar yang telah menewaskan beberapa petualang yang harus membuatnya bekerja ekstra untuk menguburkan jasad mereka sebagai sebuah penghormatan atas gugurnya mereka dalam medan pertempuran.
" Mengesampingkan perbedaan diantara kita maupun masalah yang tengah terjadi diantara para penguasa, aku ingin menawarkan kepada kalian mengenai beberapa hal yang dapat ditukarkan dengan informasi ataupun mata uang yang berlaku secara umum di daerah ini. " sambungnya untuk menuntun mereka pada sebuah negosiasi dalam jual beli informasi yang sama-sama menguntungkan bagi mereka maupun dirinya.
Meragukan nilai tukar yang dimaksud atas tawaran yang diberikan oleh ras langka yang mereka temui dengan rasa kagum atas kemampuannya dalam berbagai hal baik itu sikap terbuka maupun rela mempercayai ras asing seperti manusia yang seringkali membuat masalah pada ras lain yang berbeda, sedikit potongan daging, tumpukan kulit, kumpulan batuan sihir maupun sekantung sedang kain berisikan koin mulai menarik minat dari para petualang itu sebelum proses negosiasi yang sesungguhnya benar-benar terjadi dan menghasilkan keuntungan diantara keduanya.
" [ Untunglah waktu itu aku meninggalkan Afe di sebuah tempat di hulu sungai ini. Hehe, jika tidak. Mungkin akan terjadi masalah rumit diantara diriku dengannya yang mungkin juga akan mengundang bahaya untuk Spia maupun Aya ku satu-satunya. ] " ucapnya dalam senyuman sebelum para petualang itu benar-benar menjadi penjaga yang disewa olehnya untuk melewati sisa waktu malam yang masih cukup panjang jika dihitung berdasar waktu tidur dari Aya maupun Spia.