CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Ultimate power



" All in, adalah satu-satunya kemampuan yang aku miliki dalam dunia yang aku tinggali [ meski pada dasarnya hal maksud dari kosakata itu sendiri berasal dari permainan kartu truft yang mengadu keberuntungan diantara para petinggi perusahaan. ] " ucapnya dihadapan para dewa dunia itu seraya menahan keinginan untuk tertawa tak kala mengingat wajah para petinggi perusahaan yang berakhir dengan kemalangan atas harta yang dipertaruhkan.


" He, em. Tidak. Aku tidak merasa lemah sedikitpun atas kekuatan yang aku miliki itu, karena bagaimanapun juga. " All In " sendiri hanya mencakup medan pertarungan yang cukup mempertaruhkan segala hal yang dimiliki untuk menantang mereka yang merasa unggul di atas segalanya yang jika berarti dalam keadaan saat ini, Kalian [ Dewa dunia ini ] menjadi bagian tidak terelakkan dari kemampuan yang telah aku gunakan saat ini untuk mengikat kalian tanpa disadari. " lanjutnya menjelaskan sebelum tersenyum atas ekspresi dari para dewa yang benar-benar merasa kesal atas ucapannya.


Menahan ancaman itu dengan senyuman tak kala dewa lain merasa bahwa kemampuan yang dimiliki Rein benar-benar mengikat mereka dalam satu konteks sistem dari dunia lain, ancaman yang semula nampak garang mulai mereda tak kala dirinya kembali menjelaskan bahwa siapapun yang akan bertaruh takdir dengan dirinya akan mendapatkan satu kesempatan yang dapat diartikan sebagai keuntungan maupun satu keberuntungan bagi mereka karena jika mereka kalah maka dirinya akan menjadi pengikut mereka dan begitupun sebaliknya.


" Tiada hal yang tidak mungkin dilakukan dalam duniaku sebelumnya. Tanah? Air? Udara? bahkan hujan yang sering kali kalian kaitkan dengan kemampuan para manusia pilihan, dapat kami beli dengan mudahnya. " tambahnya demi meningkatkan ucapan kosong sebelumnya agar para dewa yang ada dihadapannya bisa percaya.


Memutuskan sebuah pilihan diantara opsi yang tersedia diantara menjadi sosok immortal ataupun demi god sebagai pemberian selamat atas kedatangannya dalam dunia yang begitu berbeda dari asalnya.


" Dan dengan adanya beberapa perjanjian yang telah disepakati bersama mereka, aku tidak bisa membiarkan kalian untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya merupakan hal tabu dimata kalian para manusia. " balasnya pada pemimpin regu pasukan yang ada dihadapan dirinya tak kala sebuah anak panah menancap pada bagian dahan pohon yang memaksanya harus menunjukkan diri dari semak tempatnya mengintai sebelumnya.


Melihat keberadaan dari seorang yang dirasa mirip layaknya seorang Elf pria dengan tanduk berkilau cahaya hijau menyala bersama sayap putih yang juga menampakkan kilauan yang sama, salah seorang penyihir yang juga ada diantara regu pasukan itu mulai membisikkan kata bahwa sosok Rein dapat dikatakan sebagai ras demi god yang berarti dalam satu kepercayaan yang mereka yakini, Rein sendiri memiliki sebuah kesempatan untuk menjadi bagian dari dewa dewi penjaga alam semesta.


" Erlyuu Le'i Dorroty, [dewi agung pemberi kehidupan alam dunia yang memiliki elemen dasar cahaya. ] Aegea Reigris,[dewi agung pengamuk yang tidak segan mencelakai segala sesuatu yang hidup dengan cambuk bencana yang berdasar pada elemen api dan bumi. ] Dan Adele'in Avad'el [ dewi agung pemberi kesuburan pada alam dunia melalui aliran air kehidupan yang berkaitan langsung dengan elemen dasar air yang dimiliki. ] " ucapnya menangkap nama dan arti dari tiga dewa utama yang begitu disakralkan diantara beberapa dewa dan dewi lain yang mereka sebutkan sebagai awal pembuka setelah dirinya mengenalkan siapa namanya.


Mengakui diri bahwa dirinya sendiripun tidak yakin atas kemampuan yang dimiliki sebagai seorang titisan dewa-dewi yang memiliki potensi tinggi layaknya omongan kosong yang tidak seharusnya dipercayai, beberapa orang dari regu pasukan yang merasa begitu percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki mulai menampakan keinginan untuk menantang keberadaan dari calon dewa masa depan atas dorongan rasa mual pada kemungkinan yang diucapkan penyihir terkenal yang ada diantara regu pasukan.


" Atas perjanjian yang telah disepakati para dewa dan dewi, ijinkanlah diri ini untuk menggunakan sedikit kemampuan yang kalian belenggu dalam keagungan alam semesta ini. " lanjutnya sebelum mengusap dua buah gelang emas yang mengikat pergelangan tangan dan bagian lengannya yang berotot itu di waktu para penantang mulai melesatkan serangannya.


* gbruuuummmmmsssss!!! * Dalam sekejap mata muncul sebuah pusaran energi yang cukup besar di atas tanah tempat Reino berdiri yang membuat seorang ahli pedang besar maupun ahli pedang ganda layaknya ninja bergerak sangat lambat di mata Reino.


" [ Sebagai dasar untuk menguji kebenaran yang mereka ucapkan, setidaknya aku akan menahan diri untuk pria kecil ini dan memaksimalkan serangan pada pria besar itu. ] " pikirnya dalam posisi kuda-kuda dengan dua tangan yang masing-masing mengunci senjata dari ahli pedang ganda.


* Gbruuummmsss!!! Duar!!!! gbruuummmsss!!! * Menghindari lajur dari tebasan berat yang berasal dari pedang raksasa yang mengenai bagian tanah yang dipijak olehnya sebelum menghancurkan pedang raksasa itu dengan satu tendangan tepat pada bagian perut dari ahli pedang raksasa, tubuh besar yang sebelumnya nampak dipenuhi dengan tenaga mulai nampak terkulai lemas tanpa jiwa tak kala jalur yang terbentuk dari damage area nampak membelah lurus sisi hutan di bawah bukit tempat mereka berada sampai ke sisi bukit lain yang jaraknya setara lima sampai enam hari berjalan kaki penuh energi.


* glupts * menelan ludah dengan susah payah tak kala melihat kekuatan yang disebut sebagai milik dari titisan dewa-dewi, pria kecil yang berupaya melanjutkan serangannya setelah berhasil melepaskan diri dengan salah satu teknik ninja yang dimiliki mulai mencukupkan diri dan mengakui bahwa tiada keberanian dari dalam diri selain ucapan pengunduran diri.


" *ckts, ckts, ckts* Sayang sekali, Terari Nelfa Grat. Satu-satunya kemampuan yang aku miliki itu, tidak membiarkan siapapun untuk menyerah dalam pertarungan dimana aku mengerahkan segalanya dalam pertarungan yang juga kalian setujui sebelumnya. " ucapnya sembari menatap raut wajah dari ahli pedang ganda itu yang sesekali melihat ke arah rekannya yang nampak terbelenggu oleh rantai-rantai beraura hitam kemerahan.


Bersama dengan sebuah teriakan rasa sakit yang teramat keras didengar diantara keheningan hutan yang masih menampakkan secara jelas kesunyian tak kala mentari menampakkan senyuman, sebuah bercak noda darah yang menampakkan diri diantara pakaian sisa milik si ahli pedang ganda sebelumnya membuat mereka yang menjadi saksi hidup atas kengerian dari kemampuan yang ditunjukkan itu mulai mengakui bahwa Reino adalah calon dewa penghakiman yang posisinya hampir sama dengan Dewi Bencana Aegea Rigris.


" Tiada hal lain selain kebenaran atas apa yang terjadi untuk aku katakan kepada kalian. Memang dalam satu kemampuan yang aku ucapkan sebelumnya tiada kata lain untuk melepaskan ataupun kerelaan hati untuk memberikan ampunan, aku sendiri pun merasa takut atas satu-satunya kemampuan yang aku dapatkan karena secara perlahan, aku kemampuan ini mulai menghapuskan rasa kemanusiaan dalam hati dan pikiran. " balasnya menanggapi amarah dari pemimpin regu pasukan yang ternyata seorang perempuan.