
" Tiada satu hal yang dapat mengubah segala sesuatu yang telah ditelan oleh waktu. " ucap seorang Dewi sembari memandang tubuh besar bersayap dari Reino dari atas altar alam langit.
" Untuk itu, aku jatuhkan hukum dunia kepadamu yang menentang sistem tatanan dunia dengan hal yang tidak seharusnya. " lanjut Dewi itu sembari mengarahkan anak panahnya ke arah sosok Reino yang begitu khawatir dengan kondisi Aya, Mili, Nara dan Spia.
* splash * tepat ketika sebuah mantra dilesakkan bersama anak panah itu untuk mengenai targetnya, sambaran petir yang begitu dasyat membuat kaget Spia dan Nara yang sebelumnya merasa khawatir atas Reino yang belum juga datang menemui mereka di waktu badai memporak-porandakan area disekitar goa.
" *Argh* Syukurlah perlindungan mutlak dari dewa itu bisa menyelamatkan diriku. " ucapnya dalam kondisi setengah sadar setelah terpental cukup jauh menghantam tebing berbatuan.
Melihat dengan samar bahwa bekas sambaran petir itu benar-benar menghancurkan permukaan tanah hingga memisahkan dua daratan diantara tempatnya berada maupun tempat sebelumnya, kekacauan akibat badai yang berkombinasi dengan energi sihir yang kembali bocor dari dalam tubuh Reino membuat dampak dari badai sebelumnya semakin besar hingga sampai batas kekuatan yang dimiliki membuat Reino kembali tenggelam dalam rasa sakit dalam kegelapan.
" Lihat ? Bahkan Raenska Bow dan Eye of Destrucion Arrow tidak mampu meniadakan eksistensi dirinya. " ucap salah seorang dewa yang datang sembari mengusap punggung dewa yang melesatkan anak panah sebelumnya yang nampak kecewa bahwa senjata sakral yang mampu menghancurkan keberadaan langit dan bumi tidak mampu membinasakan sosok Reino yang seharusnya tidak pernah ada dalam dunia.
Melihat secara jelas sebuah hal diluar nalar yang begitu mengejutkan setelah mengingat pertemuannya dengan beberapa dewa agung maupun dewa angkuh yang menginginkan sebuah wadah baru untuk hidup dalam dunia itu, untuk waktu pertama dalam hidupnya dirinya benar-benar merasa takut atas kematian yang sewajarnya sudah seringkali merenggut nyawa sosok yang berharga baginya.
" [ Anak bodoh itu. Apakah dia tidak tahu bahwa elemen yang digunakan merupakan elemen yang lebih lebah dari elemen yang membelenggu sosok itu ?] " pikirnya sesaat sebelum memandang bagian rak senjata warisan dari dewa-dewi sebelum masa keberadaan dirinya.
Mendengar tangis seorang dalam kehampaan yang sesekali terhubung dengan keberadaan dari Dewi Nara yang sesekali datang bertegur sapa untuk menemaninya dalam kesendirian sementara waktu, sosoknya yang merasa geli atas kenyataan dunia fantasi tempatnya berada sangat bertentangan dengan dasar hukum norma dan moral nyata dalam dunia sebelumnya membuatnya berpendapat secara pribadi bahwa setiap dunia memiliki aturannya sendiri.
" Begitulah adanya, anakku. Imagi adalah hal penting yang menopang seluruh kehidupan dalam semesta ini dan dunia hanyalah satu tempat yang mengekang mereka untuk mengikuti aturan tabu yang mereka buat sendiri agar mereka tidak melebihi batasan diri mengenai arti dunia dalam anggapan mereka sendiri. " balas Dewi Nara yang membenarkan pendapat dari Reino yang menyinggung keberadaan dari para dewa-dewi yang dapat tiada akibat ketiadaan sosok yang mempercayai keberadaannya meski dalam eksistensi yang berbeda mereka benar-benar ada diantara mereka.
Memberikan sedikit dorongan untuk Reino agar kembali ketempat yang seharusnya, perasaan lembut yang terasa tidak asing baginya membuatnya enggan untuk memandang keberadaan dari Aya dan Spia yang memeluk erat tubuhnya maupun Mili dan Rara yang kini menambah kehangatan diantara tubuhnya yang semakin membuat hasratnya sebagai seorang pria begitu menggelora.
Memandang langit goa yang dipenuhi gerigi batu yang tersusun dalam cara mereka sendiri yang mengarah langsung pada diri membuat dirinya yang sesekali mengusap tubuh dari merek yang terlelap diatas tubuhnya mengingat awal mula kebenciannya terhadap rekan busuk yang mengkhianati dirinya.
" He,em. Aku tidak tahu harus berterimakasih kepadamu atau harus mengutuk keberadaanmu waktu itu. " lanjutnya sembari meremas telapak tangannya sendiri di waktu membayangkan mata pisau yang bersimbah darah berada tepat di depan matanya.
" Jangan ragu untuk membunuh rekanmu sendiri adalah pedoman yang aku ciptakan setelah aku selamat dari tempat mengerikan itu. " tambahnya sebelum tertawa cukup keras dan membuat mereka yang terlelap mulai terbangun setelahnya.
Menyapa masing-masing dari mereka yang tidak bisa lepas akibat sayap besar yang melindungi mereka dari udara dingin yang menerpa, tegur sapa yang diawali dengan tawa sebelum melepas tubuh mereka yang hanya berbalut kain lusuh yang biasa digunakan sebagai alas tidur membuatnya mencoba menahan diri untuk kesekian kalinya.
" Untuk itu aku akan menyiapkan menu sepesial itu sebagai rasa terima kasihku kepada kalian. " lanjutnya setelah mengusap kepala Spia di bagian akhir urutan sebelum berjalan keluar dari goa itu meski dalam hatinya sendiri sempat merasa puas atas pandangan menarik dari mereka yang masih belum menyadari tubuh mereka sendiri yang tanpa busana.
Melakukan beberapa perenggangan otot sebelum mengadu kedua kepalan tangannya untuk bersiap melakukan pemburuan terhadap seekor hewan liar yang dirasa cocok sebagai bahan olahan makanan ataupun daya tarik terhadap bagian yang memiliki nilai jual tinggi untuk ditukarkan dengan nilai yang setara pada desa persinggahan sebelumnya.
* Strtsssts, strtsssts, strtsssts. Ctarsss! Swusuuunggssshssshsss! Gbrubuuunggssss!! * Suara gaduh yang mulai terdengar bagai gemuruh badai sebelumnya membuat Aya dan Spia menenangkan diri Mili dan Rara yang mengeri bahwa kegaduhan yang terdengar itu merupakan sosok monster besar yang mengamuk.
Menjelaskan sebuah pertemuan tidak sengaja antara dirinya dengan sosok misterius bertubuh besar dengan tanduk serta sayap besar yang menyembunyikan dua buah cakar hitam berselimut energi gelap nan menakutkan membuat Spia yang semula percaya bahwa kegaduhan itu adalah ulah tuannya yang bersungguh-sungguh dalam melakukan pemburuan mulai goyah dengan keyakinan itu sementara Aya hanya menahan tawanya tak kala mengetahui bahwa Mili belum mengetahui bahwa monster mengerikan itu adalah Reino yang menggunakan kemampuan khususnya.
" Eh ? Tunggu sebentar. Apakah memang ada celah pembatas hutan semacam ini sebelumnya? " gumamnya dalam kesendirian sembari memandang batas akhir dari area hutan yang secara jelas menampakkan batuan tajam yang mengikat diri diantara lautan awan dibawahnya.
Menggaruk pelan kepalanya sendiri setelah memilih untuk meyakini bahwa dunia tempatnya berada merupakan dunia fantasi yang dipenuhi hal-hal tidak terduga, suara mencurigakan dari balik semak-semak yang ada diantaranya pepohonan yang menjadi tempatnya memandang batasan pulau melayang itu membuatnya segera memperbaiki bagian tali pada pisau belati yang terikat sebelum menyerang secara cepat apapun yang ada dibalik semak-semak.