
" Al Earl La Cosmical DX, [ adalah nama yang terlintas begitu saja ketika aku berhadapan dengan mereka yang dianggap dewa pada dunia ini. ]" gumamnya sesaat sembari duduk di atas bebatuan sisa tanah hancur yang tinggi menjulang bersama kesan tak percaya dalam dirinya tak kala tiga belas raksasa yang berbalut pakaian kuno layaknya para dewa yang digambarkan dalam dongeng menanyai berbagai hal terkait keberadaannya yang tidak seharusnya ada dalam dunia.
Mengusap pelan kepala Aya yang tidur di atas pangkuannya sembari memandang lengan berotot dari seorang pria yang setelahnya mulai mengusap pelan gelang emas pemberian para dewa yang berfungi sebagai penahan kekuatannya, pengakuan atas diri yang menyatakan setara dengan mereka sembari menjelaskan asal usul yang terbentuk dari tekanan hebat atas ketakutan yang disamarkan maupun kelicikan yang berdasarkan pada minimnya pengetahuan membuatnya sempat tertawa sesekali jika kembali mengingat pernyataan itu kembali.
" Tiada kebohongan yang terlalu dipaksakan saat aku mengatakan bahwa aku pun sosok yang cukup disegani dari wilayah kekuasaan yang aku miliki [ yang jika di ambil contoh wilayah itu meliputi separuh Kota De Elantate sampai semenanjung Kota El Vaneta. ] " lanjutnya mengukir sebuah bentuk pulau yang cukup membekas dalam ingatannya sebagai seorang petinggi perusahaan bidang jasa yang tidak akan segan menggunakan seluruh kemampuan koneksi yang dimiliki demi kepuasan klien meski dalam hal yang cukup beresiko.
" Hehe, yah. Selain dari mengerjakan hal-hal kotor itu atau sekedar membantu para penegak hukum untuk menjatuhkan sesama organisasi yang berkedok seperti perusahaan jasa pada umumnya, Re:in Control yang sebelumnya memiliki nama resmi Naedla a Companion merupakan perusahaan jasa yang benar-benar normal seperti perusahaan komersial lainnya sampai satu titik para petinggi itu mulai menyerang satu sama lain di kala krisis moneter benar-benar menghancurkan sistem tatanan negara yang berbuntut pada perpecahan dalam lingkup perusahaan itu sendiri yang juga dengan adanya hal itu, para karyawan yang ada di dalamnya menjadi barang dagangan terselubung yang di moduskan dalam berbagai bentuk alasan mengenai mutasi kerja. " lanjutnya menjelaskan pada Aya mengenai asal muasal diri yang sesungguhnya sebelum giliran Aya menjelaskan masa lalunya yang dengan satu sebab yang menjadi alasan kenapa dirinya dilemparkan ke dunia tempat Aya berasal.
Duduk meringkuk di samping Reino yang lebih tinggi postur tubuhnya meski sedang duduk dalam sebuah batuan besar yang membentuk sebuah goa, Aya yang memandang sosok Reino sebagai sosok yang selalu terbuka terhadap dirinya mulai mencoba menceritakan kebenaran dari masa sebelum dirinya terlempar ke dunia dari Reino berada setelah meyakini bahwa penjelasan yang terucap oleh Reino merupakan kebenaran yang sesungguhnya.
" Benarkah itu? Hehe, maaf, maaf. Aku tidak mengira bahwa kamu pun bernasib sama denganku, Aya. " ucapnya menanggapi penjelasan Aya yang menyebutkan bahwa setelah sepeninggal kedua orang tuanya, Aya disesatkan oleh warga desanya karena dianggap berbahaya atas keberadaan diri yang tidak lain merupakan seorang half hingga akhirnya dijadikan sebagai barang dagangan.
Sedikit timbul rasa penasaran atas apa yang sempat tertunda pada ucapan Aya yang selalu tertutup bahkan enggan untuk berinteraksi dengannya pada dunia sebelumnya, kelanjutan dari penjelasan yang sampai pada pertemuannya dengan seorang petualangan muda yang menyelamatkan dirinya maupun ras lain yang menjadi barang dagangan hingga timbul perasaan kasih dan sayang maupun penghianatan yang menjadi akhir penjelasan yang nampak begitu dipaksakan untuk benar-benar dikatakan melalui tangis air mata kesedihan.
* glupts * "[ Sungguh! Hah! ya ampun. Aku benar-benar tertidur tadi. ] " ucapnya dalam hati setelah Aya mencoba menanyakan pendapatnya mengenai penghianatan dari seorang yang benar-benar dekat dengannya.
" Akh, m~, ya. Mungkin " Musuh dari musuhku adalah temanku sendiri. " Merupakan hal yang dapat aku ucapkan kepadamu yang tentu memiliki berbagai makna kompleks yang salah satunya bisa aku simpulkan bahwa tidak semua teman ataupun sosok dekat yang kamu percayai akan selalu setia menemani baik suka maupun duka dan karenanya jangan pernah hilangkan rasa curiga dalam benakmu sendiri meski dia yang aku maksudkan adalah sosok yang kamu sukai. " lanjutnya menanggapi apa yang Aya minta meski kata yang terucap merupakan kata yang pernah ditujukan olehnya dari seorang rekan yang telah tiada.
" [ Terima kasih, Pritiy. Jika waktu itu kamu tidak menunjukkan sihir badai waktu itu, aku tidak akan bisa menciptakan kedekatan semacam ini dengan tuan Rin saat ini. ] " ucapnya dalam hati sembari mempererat pelukannya pada Rein demi menghilangkan rasa dingin yang cukup terasa dingin menusuk sampai ke tulang.
Memeriksa beberapa kali wajah tuannya yang nampak lelap tidurnya, Aya yang sudah merasa cukup puas dengan apa yang dilakukan sebelumnya mulai merapalkan sebuah mantra lain untuk menghangatkan diri maupun tuannya.
" *Hyuuuppss* A~kh, akh * hyuuusssh, hyuuusssh * Emph! * Hyaaaassa * Kya! * Hyuuusssh, hyuuusssh* Tidak tuan! Tidak! Ji--jika anda melakukan hal itu! Saya akan- saya akan hamil! " teriak Aya sembari mencoba melepaskan diri dari dekapan Rein yang perlahan mulai melakukan sesuatu terhadap tubuh mungilnya hingga membuatnya menimbulkan suara yang menggelikan telinga.
Menahan tawa dalam diri tak kala melihat Aya yang nampak menggeliat penuh hasrat di atas alas rerumputan, Reino yang tengah mengingat beberapa ucapan para dewa dan dewi dari dunia yang berbeda ini mulai mengalihkan pandangannya pada sebuah regu pasukan yang nampak mendekati bekas bukit yang hancur tidak jauh dari tempat dirinya maupun Aya berlindung diri.
" Kya~ah!! " teriak lepas dari Aya yang tiba-tiba nampak memancing perhatian dari beberapa anggota dari regu pasukan yang bergerak dengan gerakan kepala yang sesekali memandang tepat ke area semak belukar yang terlindung beberapa pepohonan.
Memandang area tempatnya berada yang kini sudah berbeda dengan alas tanah berbatu yang diselimuti rasa nyaman dalam pelukan hangat dari tuannya, ingatan mengenai hal intim yang serasa samar bagi dirinya mulai membuatnya segera mencari keberadaan dari tuannya yang kini nampak tidak terdeteksi meski menggunakan mantra pendeteksi aliran energi mana dalam diri.
" Maaf, bisakah anda menahan ucapan anda dahulu? Karena sepertinya dia yang kita bicarakan telah pulih dari keadaan kritisnya. " ucap Reino meminta pada kepala prajurit yang duduk di hadapannya agar terdiam sementara waktu tak kala mendengar suara gaduh dari lantai kayu di atas ruang tempatnya berada.
Mendapati sosok yang dikenalnya tengah memakai busana formal serupa prajurit kerajaan yang berdasar pada warna dasar coklat kehitaman berbalut warna merah marun, kesan dari Reino yang sebelumnya memiliki mimik wajah yang senja membuat Aya merasa bahwa Reino sangat mirip dengan seorang penyihir mistik pelindung kerajaan.