
Menjelaskan satu teknik bela diri dari dunia sebelumnya yang sepenuhnya berasal dari tenaga dalam dari tubuh itu sendiri dengan menyebutkan bahwa olah nafas adalah kunci utama sebelumnya memulai sebuah pergerakan diantara anggota tubuh yang diawali dengan sikap kuda-kuda yang dilanjutkan pada penempatan kedua lengan yang ada diantara pinggang sebelum perubahan posisi pada kuda-kuda menempatkan tangan kanannya mengepal ke hadapan target yang ditentukan maupun lengan kiri yang masih kuat mencengkram pada posisi awal.
* Duarrrsss!! * sebuah penjelasan akhir yang menyatakan bahwa adanya perbedaan beban dalam tubuh merupakan bukti nyata dari kemampuan diri yang telah berkumpul pada titik berat itu, ledakkan batuan besar yang kembali mengejutkan mereka yang ada di sana setelah satu putaran pada pergelangan tangan yang semula mengepal menjadi terbuka benar-benar membuat kagum Rara yang berniat mencoba gerakan itu untuk pertama kalinya.
" *hyuuuusuuuuh* Tidak perlu terburu-buru melakukan hal itu, Rara. Ingatlah bahwa sikap keras terhadap diri sendiri itu dapat berakibat fatal pada tubuhmu. " sambungnya setelah menahan Rara yang berniat menunjuk kemampuannya meski secara jelas bahwa telapak tangannya sudah memerah sebelum gerak itu benar-benar dikuasai olehnya.
Meminta Spia untuk memberikan Rara ramuan penyembuhan di waktu merasa bahwa Rara tidak harus tahu mengenai kemampuan penyembuhan pada dirinya dapat menghilangkan luka secara instan maupun memperingan tubuh atas relaksasi otot yang letih, hembusan angin yang dirasa sebagai tanda dari Mili yang menunggu gilirannya segera mengalihkan pandangannya terhadap kebersamaan Spia, Aya dan Rara.
" Jadi, apa yang bisa aku lakukan untukmu, Mili ? " ucapnya menyapa setelah sibuk mencari keberadaan Mili yang sengaja memasang mantra pengecoh pada jalanan yang dilalui.
Menyambut hangat keberadaan Reino yang datang dengan sesekali mengusap sayap besar yang nampak berkilauan, bisikan kata yang meminta secara langsung keinginan sebagai seorang wadah seorang penerus untuk mewariskan kekuatan Reino yang diluar nalar sempat menimbulkan tanya dalam dirinya di waktu Reino menyatakan bahwa itu adalah candaan yang tidak terlalu ramah untuk didengar Aya maupun Spia dan Rara.
" Aya hanyalah satu-satunya sosok yang akan menjadi pengantinku dan seharusnya kamu sudah sadar akan hal itu. " ucapnya menegaskan perkataannya mengenai kesungguhan hati pada Aya yang seharusnya sudah dipersunting olehnya sejak lama jika hal-hal tidak terduga terus datang menghampiri mereka.
Membandingkan bentuk tubuhnya dengan bentuk tubuh Aya yang masih dirasa terlalu muda maupun pengalaman diatas ranjang yang dirasa kurang memuaskan bagi Reino, kembali dibalas dengan tawa yang membalikkan ucapan Mili yang berarti bahwa Mili mengakui bahwa tubuhnya sudah cukup renta bagi dirinya.
" Dan lagi, hehe. Bukan bermaksud hati melukai hatimu, Mili. Aku sendiri bukanlah sosok hebat yang kamu bayangkan. Aku hanya seorang kakek yang jika disetarakan dengan usia manusia, keberadaan usiaku mungkin sekitar 65 atau 70 tahunan jika aku tidak salah mengingatnya. " lanjutnya mengucapkan keterbukaan diri pada Mili yang berniat melakukan hal intim dengannya.
Melepaskan pakaian bagian atasnya untuk menutupi tubuh Mili yang benar-benar membuatnya tidak habis pikir mengenai satu hal yang dirasa merasuki dirinya.
" Cintai dirimu selayaknya kamu mencintai orang lain yang begitu berharga bagimu dan dengan begitu, bersama berlalunya waktu kamu akan menyadari bahwa kemuliaan diri sebagai seorang wanita adalah saat dirinya berhasil menjaga diri dari segala hal yang bisa merusak hakikat diri. " lanjutnya menasehati Mili mengenai kemungkinan adanya sosok yang lebih baik dari dirinya yang akan membuat Mili merasa bahagia diwaktu mengingat penolakan lembut dari dirinya.
Membalas ucapan itu dengan menyatakan bahwa tiada kesempatan akan datangnya sosok itu atas dirinya yang begitu rendah dan kotor sebagai seorang wanita, ucapan lain yang menyatakan bahwa Mili hanya harus kembali membasuh diri di waktu kotor itu dan berniat untuk tidak membiarkan kesalahan serupa terulang kembali.
Semakin menahan rasa gelisah dalam hatinya diwaktu melihat kebaikan nyata yang ditunjukkan oleh Reino kepadanya membuatnya terpaksa melakukan inisiatifnya sendiri untuk memuaskan hasrat nafsu yang terlihat jelas dari tubuhnya yang sangat menginginkan kenikmatan tubuh dari seorang wanita.
" Baiklah, Aya. Kamu sudah bisa keluar untuk menjelaskan situasi sebenarnya diantara diriku dengannya. " ucap Mili dengan tiba-tiba setelah Reino sudah mencapai batas kesabaran seperti yang Aya peringatkan sebelumnya.
Berjalan keluar dari semak menghampiri mereka berdua untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya tengah terjadi yang tidak lain merupakan salah satu inisiatif dari Mili sendiri yang berniat menilai seberapa teguh tekad dari Reino mengenai ucapannya yang hanya menempatkan Aya sebagai wanita pendamping hidupnya.
" * hmph * Benarkah itu Aya ? Aku pikir untuk sekarang ini aku bisa lebih mempercayaimu sepenuhnya seperti aku mempercayai Bobi dan beberapa bawahannya. Tapi melihat hal ini, * argh * aku kecewa padamu Aya. Sungguh. Aku membenci hal semacam ini. " ucap Reino di waktu mendengar penjelasan dari Aya sebelum benar-benar terbang menjauh dari tempat itu dengan segera meski penjelasan panjang itu belum selesai seutuhnya.
* Sdrumsss * hembusan angin yang begitu besar menghantam permukaan tanah dari pulau melayang itu yang muncul dari kepakan sayap Reino sempat meruntuhkan sisi pembatas pulau itu yang setelahnya sebuah lajur serupa asap putih berkilauan melesat cepat menjauhi pulau melayang itu.
" * Haghs * Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan itu. [ Aku benar-benar menunjukkan sifat kekanak-kanakan ku pada sosok wanita yang aku kagumi meski dia berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepadaku. ] * Haghs* ya ampun, aku benar-benar sangat malu pada diriku sendiri. " gumamnya diantara lautan awan sembari mengitari sisi bawah dari pulau melayang itu atas rasa khawatir pada mereka yang masih tertinggal di sana.
Membuka lebar kedua sayap itu sembari menempatkannya pada posisi vertikal untuk menjaga keseimbangan diri di waktu menahan terpaan besar angin yang menghantam diri diantara tanah bergerigi.
* Krakat * Suara asing diantara keheningan yang mulai terdengar mengganggu telinganya membuatnya penasaran atas asal suara yang nampak begitu dekat dengannya
" Kara!!! " Teriak dari seekor makhluk hijau yang tiba-tiba menggigit bagian lehernya hingga membuatnya jatuh menukik tajam ke dalam lautan awan sebelum menarik paksa mahluk hijau itu dan melemparkannya sekuat tenaga ke bagian bawah dari alas langit yang menimbulkan awan besar berbentuk jamur setelahnya.
Menyadari bahwa ada hal buruk yang akan menimpa Aya maupun Spia, Mili dan Rara yang belum menyadari keberadaan dari makhluk hijau itu, rapalan mantra sihir untuk mengunakan kemampuan dari gelang emas yang membelenggu diri kembali diucapkan sebelum memilih kelas yang sesuai dengan kondisinya saat ini.
" Pendukung! Combine! Ranger! " teriaknya memilih kembali salah satu job klas yang berbentuk tongkat sihir bercabang sebelum menggabungkannya dengan salah satu imajinasi yang berkaitan dengan sosok petualang yang mampu menyadari keberadaan musuh yang tersembunyi diantara kesunyian hutan dari pulau melayang itu.