
Menahan ucapannya diwaktu mendengar bahwa Mili menyanjungnya sebagai pahlawan yang akan mengubah dunia, kesadaran diri yang berdasar pada kesamaan nasib sebagai seorang yang tidak diakui keberadaannya dalam status sosial maupun masyarakat membuatnya membalas sanjungan itu dengan senyuman sederhana di kala enggan menyatakan keegoisan dirinya yang hanya berniat melindungi keberadaan Aya sebagai satu-satunya sosok terpenting baginya.
" Baiklah, Mili, Rara. Mari kita uji sedikit kebenaran mengenai kemampuan yang kalian miliki. " ucapnya sembari bangkit dari duduknya untuk melihat sebagian kemampuan yang dimiliki kedua elf itu.
Melemparkan senjata jarahan yang diambil dari beberapa bandit yang telah dikalahkan dengan pedang panjang runcing dan tajam untuk Mili sementara cakar besi pada Rara yang mengakui sendiri bahwa kemampuannya berdasar pada seni bela diri dengan unsur roh elemental sebagai penguat diri, Reino yang mencoba mengetahui kemampuan dasarnya kembali tanpa mengenakan satu senjata dari gelang emas pemberian dewa-dewi mulai mengepalkan tinjunya sebagai senjata utama serta seutas tali cambuk dan pisau usang yang menjadi senjata cadangan di waktu menghadapi serangan fata diantara kedua elf itu.
" [ Dilihat dari senjata yang dibuat oleh Rin, Apakah mungkin bahwa Rin berniat menggunakan kemampuan itu kepada mereka ? " pikirnya dalam diam sewaktu mengingat sebuah akrobat yang dilakukan oleh Reino untuk menghibur dirinya yang masih belum bisa mempercayai manusia.
Memandang satu sama lain diwaktu melihat kestabilan energi mana di area sekitar mereka yang menandakan bahwa Reino benar-benar menggunakan kepalan tangannya tanpa balutan energi sihir yang mampu mengacaukan kestabilan mana, senyuman kecil yang memberi kesan diremehkan oleh Reino membuat mereka yakin untuk menunjukkan kemampuannya.
" Jika kalian bisa memberikan sebuah luka untukku setelah mengulang banyak usaha, akan aku anggap kalian sebagai saudara dari Aya daripada harus menganggap kalian sebagai pelayan dari Aya seperti kesepakatan kalian sebelumnya. " ucapnya memancing kesungguhan hati mereka sembari menyinggung pertaruhan diantara mereka terkait ucapan Aya yang dirasa akan menolak keberadaan dari mereka meski dirinya memperbolehkan mereka untuk bergabung secara terbuka.
Melihat kedua elf itu yang tidak bergeming dengan ucapannya sebelumnya, kilau terang dari pedang bergerigi yang menampakkan elemen angin mulai membuatnya waspada terhadap Mili yang tidak lama setelahnya insting tajam yang masih melekat dalam diri berhasil menyelamatkannya dari serangan mendadak yang dilakukan oleh Rara menggunakan cakar bensinnya yang juga menampakkan cahaya dengan elemen dasar bumi.
" Taring bumi! " teriak Rara sebelum menjatuhkan hantaman yang gagal mengenai tubuh Reino ke atas permukaan tanah.
* Sduuummmss!! Sduuummmss!! Sduuummmss!! * Hunusan tanah tajam nan mematikan mulai muncul sepanjang mata memandang tepat pada saat Reino hendak mendaratkan kakinya di waktu menghindar.
" Hu,um~ menarik. " ucapnya memuji serangan Rara yang mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
* Swusuuunggssshssshsss! Sbraks!! Swuuumpts!! Dhapts * Melemparkan kembali pisau lusuh yang terikat pada sebuah tali pada pohon besar yang berada didekatnya untuk menghindari tebasan gelombang besar yang tercipta dari serangan Mili layaknya menghindari serangan Rara sebelumnya, Reino yang kembali bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya mulai mengamati kemampuan yang dimiliki kedua elf itu dengan lebih hati-hati.
" Lihat, lihat! Ka Aya! Kak Rei yang bergelantungan itu begitu mirip seperti kera besar di Hutan Nelma! Hahaha! " teriak senang dari Spia yang begitu lepasnya di waktu melihat pertarungan diantara Mili dan Rara yang melawan Reino dari atas batuan di mulut goa.
" Megh Armor : Grafdndeer!! " Teriak Rara begitu melihat serangan fatal dari Reino yang sebelumnya berhasil dihindari dengan hantaman batuan besar yang membentuk kepalan tangan.
* Drudududududuk!! Gbyarsss!! * Dalam sekejap mata tangan batu yang hancur mulai menyatu menampakkan bentuk dari sebuah zirah batu yang berselimut energi sihir yang melekat pada tubuh Rara dan meski begitu kecepatan serangan fatal yang melebihi kecepatan waktu pembentukan zirah batu itu membuat Rara benar-benar terkena serangan mutlak dari Reino hingga akhirnya tubuh Rara terpental jauh menghantam tebing batu tanpa adanya kepastian untuk kembali mengikuti pertarungan.
Mendapati kawah besar yang menjadikan Rara sebagai pusatnya, Mili yang sadar akan perbedaan kemampuan yang dimiliki olehnya dengan Reino mulai membuatnya menjaga jarak dari Reino yang selalu menyerang menggunakan serangan jarak dekat seperti Rara meski sesekali memanfaatkan senjata aneh buatannya itu untuk menciptakan celah pada setiap pertarungan yang sering kali menghancurkan pola pertahanan dari dirinya maupun Rara.
" * hyuuuuupppssss hyuuuuusssshhhh* Aku kecewa denganmu Mili. Alih-alih memberikan serangan yang lebih intensif untuk mengerang balik diantara celah terbuka yang aku buat, kenapa kamu lebih memilih mengambil sikap siaga ke tempat yang tidak seharusnya. " gumamnya dalam kegelapan hutan sembari menarik nafas panjang untuk menyesuaikan diri kembali dengan tubuh berisi yang lebih muda dari umurnya yang seharusnya.
Tersenyum senang di waktu melihat tubuh Reino tengah menghadap pada sisi yang berlawanan dengannya berkat sihir pengecoh yang mampu memalsukan jalan disekitar hutan maupun menampakkan ilusi rumit pepohonan yang menyesatkan, tebasan kuat yang kembali menciptakan gelombang besar kekuatan berhasil mengenai tubuh dari Reino yang tidak sempat menghindar di waktu hantaman besar gelombang itu memangkas habis pepohonan dengan dampak area yang cukup panjang.
" Dengan ini! Berakhirlah sudah!! * gsssriiissiiiiiinngsssss* Rings of Fairy Wings!! " teriak Mili dengan begitu bersemangat di waktu melihat Reino yang terpaksa menggunakan kemampuan sayap besar itu dan berada pada posisi yang sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
* swusuuunggssshssshsss!!! swusuuunggssshssshsss!!! swusuuunggssshssshsss!!! * pusaran angin yang mulai menampakkan kilau kuning dengan listrik statis yang perlahan menahan pergerakan dirinya seakan tengah terjebak diantara dua dinding transparan layaknya lalat yang terjebak dalam kertas perekat, kilau cahaya kuning yang perlahan semakin menampakkan secara jelas sebuah sayap besar mulai membuatnya merasa kesakitan di waktu ujung dari sayap-sayap itu semakin membesar sementara area pengekangan yang mengurungnya semakin mengecil.
" Hehe, Sayang sekali ya, Mili. Padahal sedikit lagi kamu bisa menang dariku. " bisiknya di dekat telinga Mili yang masih merasa bahwa dirinya berhasil mengalahkan Reino sepenuhnya.
* dbuks * pukulan pelan yang ditujukan pada bagian tengkuk leher dari Mili membuat Mili kehilangan kesadarannya dan membuat Reino yang menahan tubuh Mili mengakhiri penilaiannya terhadap kemampuan dari dua elf itu sebelum mencatat beberapa hal berharga mengenai kebodohannya sendiri yang mampu membuatnya binasa.
Menggendong tubuh Mili terlebih dahulu untuk mendekati Rara yang juga dalam kondisi serupa sebelum meminta Spia untuk menyembuhkan mereka maupun memulihkan stamina yang terkuras menggunakan ramuan buatan yang terasa jauh lebih baik sebelumnya, bisikan kata dari Aya yang menyatakan bahwa dirinya berhasil mendapatkan beberapa petunjuk baru dari Spia yang teralihkan akibat pertarungan sebelumnya membuat kesenangan darinya tanpa sadar mengecup bibir dari Aya.