
Memasang perisai besar yang tercipta dari simbol pertahanan yang diaktifkan dengan keinginan dasar untuk memuaskan keingintahuannya mengenai aktifasi yang dapat dilakukan menggunakan gelang emas pemberian para dewa-dewi itu, sebuah cahaya yang menyilaukan pandang mata mulai menarik perhatian para petualang sebelumnya sebelum rasa tabjuk benar-benar membekas dalam diri mereka tak kala melihat sosok Reino yang melindungi diri dengan perisai di hadapan tubuhnya sementara pedang besar yang nampak menjulang diantara sayap putih yang menutupi tubuh aslinya menambah kesan mistis terlebih tanduk rusa yang ikut menampakkan simbol misterius di waktu Reino nampak pulas dalam tidurnya.
" Sungguh? " ucap seorang petualang dari regu itu yang nampak enggan untuk percaya bahwa bariarel pelindung transparan membatasi mereka dengan Reino maupun dua sosok lain yang tertidur dibelakangnya sebelum mencoba membuktikan kebenaran itu secara paksa.
* dsrisiiiingssss!! Gbraaammmsss!!! * sedikit sentuhan jari yang menekan bagian inti perisai yang terukir sebuah bentuk kepala rusa pegunungan mulai menciptakan kilatan listrik statis yang tidak lama setelahnya hentakan besar dari gelombang energi menghempaskan petualang itu dengan begitu kerasnya hingga menumbangkan beberapa pohon besar yang menjadi tempatnya mendarat.
" Untuk berjaga-jaga jikalau hal buruk terjadi pada kalian diwaktu ku terlelap, aku berikan beberapa ramuan ini secara gratis kepada kalian. " ucap Reino yang kembali diingat oleh pemimpin regu petualang itu di waktu Reino hendak mengistirahatkan diri.
Memaksakan tubuh temannya yang tidak lagi menampakkan tanda kehidupan di waktu melihat dengan sekilas beberapa posisi dari anggota tubuh yang jauh dari kata sempurna, suara keras dari letupan tulang belulang yang mulai kembali pada posisi semula bersamaan dengan darah segar mulai keluar dari bagian mulut tubuh yang terkapar itu.
" Hehe, syukurlah jika memang ramuan itu benar-benar berguna untuk kalian." tawa Reino yang mendengar kisah buatan dari para petualang itu yang berniat membohongi dirinya mengenai kejadian buruk yang mereka terima akibat kecerobohan mereka sendiri.
Menyembunyikan fakta bahwasanya dirinya masih membuka mata di waktu hentakkan energi menghempaskan petualang itu dengan tetap berusaha bersikap baik dihadapan mereka, ungkapan jelas yang menyatakan bahwa nilai ramuan yang diberikan olehnya cukup setara dengan beberapa tumpukan koin emas membuat para petualang itu merasa sangat bersyukur bahwasanya dirinya memberikan ramu-ramuan itu secara percuma.
" Aya, Spia. Kenalkan, Tan dan teman-temannya. " ucap sapa darinya pada Aya dan Spia yang mengambil sikap waspada pada para petualang yang duduk mengitari api unggun sebelumnya di waktu pagi dengan sup tulang hangat yang menemani sarapan pagi mereka.
Duduk di atas pangkuan Reino tak kala merasa bahwa hal itu merupakan salah satu cara membedakan statusnya dengan Spia, Spia yang sebelumnya merasa enggan untuk dekat dengan ras manusia yang dirasa ikut serta dalam peristiwa kehancuran tempat kelahirannya mulai duduk di dekat Reino sebelum tanpa sadar dirinya benar-benar duduk di atas pangkuan Reino yang tidak diharapkannya.
Berjalan menyusuri hutan menuju sebuah desa yang menjadi tempat semula Reino dan kelompoknya ingin singgah sementara untuk memuat persediaan bahan makanan maupun menjual beberapa barang material yang dirasa hanya menambah beban perjalanan, sambutan dari para penduduk desa yang nampak hina dan dingin terhadap dirinya maupun kelompok sudah menjadi prasangka awal sebagai pencegahan serangan mental terhadap mereka meski dalam pandangan mata yang sebenarnya jauh lebih buruk dari apa yang dirinya duga.
" Jangan dengarkan apa yang terucap dari mulut kotor mereka. Ingatlah bahwa tujuan kita datang kemari hanya untuk singgah sementara sebelum mencari petunjuk lain mengenai tugas Spia yang sebenarnya. " ucapnya berbisik pada Spia dan Aya yang masih berlindung diri di bawah sayap besar miliknya yang sengaja di buka untuk melindungi keduanya dari hal-hal yang , tidak terduga.
Dipertemukan dengan beberapa tokoh masyarakat yang menjadi inti negosiasi di malam sebelumnya demi ditukarkan dengan batuan sihir dari binatang buas yang di sebut sebagai pembantai oleh para penduduk sekitar maupun beberapa desa tetangga, putusan untuk membicarakan kepentingan mereka dalam ruang terbuka di tengah monumen desa setelah melihat kondisi beberapa rumah besar yang menahan dirinya untuk masuk melewati pintu akibat tanduk besarnya itu.
" Kalian tidak perlu menghawatirkan hal semacam itu. Seperti yang telah aku katakan sebelumnya. Kami hanyalah petualang biasa yang kehilangan jejak dengan rekan sesama petualang di waktu ekspedisi badai energi terjadi dan dengan pengetahuan dasar yang telah kami pelajari. Kami mulai menyusuri jalur mata air yang mengalir sampai ke hilir sungai desa ini untuk memperkuat harapan kami agar kami bisa menemukan perkampungan semacam ini dan kembali pada kota terakhir yang kami kunjungi. " jelasnya meredakan rasa penasaran mereka terhadap dirinya maupun kelompoknya dengan satu mata yang dipejamkan sebagai simbol pada Tan dan regunya agar mendukung kebohongan yang diucap sebelumnya.
Membandingkan nilai tukar mata uang dari wilayah kekuasaan para Elf dengan mata uang yang diambil dari para petualang yang kehilangan nyawa yang ternyata merupakan bandit gunung yang meresahkan warga, kesepakatan untuk menukar satu koin emas yang setara pada nilai dua koin emas waktu sekarang membuatnya sedikit curiga atas senyum licik dari seorang tokoh masyarakat meski pada akhirnya dirinya memilih untuk mengalah dan memberikan 5 keping koin emas yang diambil dari jasad anggota regu ekspedisi yang dipimpin oleh Afe.
" [ Aku pikir, mereka yang masih tertinggal dalam peradaban ini lebih jujur daripada mereka yang berad di dunia asal. ] " pikirnya sesaat sebelum memberikan koin emas hasil pertukaran sebelumnya untuk membeli beberapa kebutuhan dasar berupa sandang dan pangan untuk melanjutkan perjalanan.
Meminta bantuan regu petualang dari Tan untuk memilih beberapa baju ganti yang cocok untuk Spia maupun Aya dengan corak maupun disain sederhana lagi harga yang cukup terjangkau, pandangan mata yang tertuju pada beberapa pelayan dari ras yang berbeda sering kali membuatnya merasa iba selayaknya pertemuan pertamanya dengan Aya pada dunia sebelumnya.
" * hmph * Aku harus lebih memikirkan kembali siapa diriku terlebih dahulu. [ Mengingat bahwa adanya sosok pahlawan yang melindungi negri ini, aku tidak harus terburu-buru dalam hal semacam ini dan membahayakan Aya maupun Spia yang masih belum sepenuhnya mengingat tugasnya sebagai seorang titisan dewa.] " gumamnya dalam sepi setelah memberikan sedikit buah-buahan yang ada dalam tas perlengkapan miliknya untuk diberikan kepada ras yang dibeli oleh beberapa penduduk desa meski dalam usia yang masih belia.