CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
How he returned to meet the gods of the world



Menepuk bahu Mili sembari berkata bahwa kemungkinan itu akan terjadi jikalau para dewa-dewi dunia benar-benar mengijinkannya kembali membuat satu harapan pada Reino untuk dirinya sendiri.


" [ Entah berapa kali aku harus menuliskan catatan semacam ini. Namun di hari ke sembilan belas dari hari semenjak kami meninggalkan goa persembunyian bandit, kami masih tersesat diantara lautan awan yang sesekali dihiasi pulau melayang yang masih tidak menampakkan tanda kehidupan. ] " ucapnya dalam diam sembari melihat matahari senja yang kembali tenggelam diantara lautan awan dari ujung pulau ke empat puluh enam yang menjadi tempatnya berdinggah diri untuk mengistirahatkan diri.


Memejamkan mata sembari menghitung beberapa tas buatan tangan yang berisikan berbagai bahan material hasil penjelajahan diantara pulau melayang yang telah disinggahi setelah tas perlengkapan sebelumnya tidak lagi mampu memuat bahan material yang semakin beragam.


" * hyuuuuupppssss hyuuuuusssshhhh* Sudah waktunya kembali untuk berkumpul bersama mereka. " gumamnya diatas sebuah gunung batu raksasa pada satu pulau melayang yang jauh lebih besar areanya dibandingkan beberapa pulau melayang lain yang hanya memiliki dua sampai tiga jenis area dasar yang terdiri dari hutan, perairan maupun dataran kosong yang hanya dihiasi rerumputan.


Melakukan satu perubahan bentuk pada tubuhnya menjadi sosok rusa jantan yang cukup besar dengan corak biru keputihan diantara tubuhnya yang berdasar pada warna putih pucat layaknya abu, suara keras dari raungan seekor leopard dengan corak bundar berwarna coklat kehitaman membawa senyuman dalam wajah rusa dari Reino yang menyadari bahwa dirinya sedikit tersesat dalam hutan belantara yang telah dipasang sihir pengecoh demi menciptakan satu area seteril dari binatang buas maupun binatang sihir yang menempati pulau melayang itu.


* ciiiieeeeeekkkksss!!! * Lengkingan dari seekor burung Phoenix yang hinggap diantara tanduk rusa yang setelahnya seekor macan kumbang dan Beruang hitam berjalan keluar dari gelapnya hutan menuju satu tempat perkemahan yang disinari cahaya bulan.


" [ Terima kasih untuk pengetahuan yang kamu tinggalkan, Great Sage. Meski aku tidak terlalu mengerti beberapa hal yang tertulis diantara mantra yang ada, aku cukup senang bahwa akhirnya aku bisa memahami aturan dasar dari penggunaan mantra dalam dunia fantasi ini. ] " ucapnya dalam hati sembari melakukan perubahan wujud untuk kembali pada tubuh semula.


Duduk mengitari api unggun yang menghangatkan diri sembari menyantap beberapa perbekalan yang hampir basi sebelum memilah persediaan kembali, Reino yang belum lama ini mengetahui bahwa energi sihir pada alam langit dan bumi bisa dijadikan busana sihir maupun pelindung serupa zirah aura tidak henti-hentinya memandang kemolekan tubuh dari mereka yang secara logika menampakkan diri mereka yang bercanda tawa tanpa menggunakan busana untuk menutupi tubuh mereka.


" Century Brown Syal, Wydrn Aramora, Crown of Fairy flame, Elista La'una dan Grafdnoer Demi God. * hmph* [ aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi apa yang ada dihadapan mata benar-benar sudah membuatku percaya bahwa dunia tempat Aya berada adalah dunia yang jauh berbeda dari duniaku sebelumnya. ]" gumamnya dalam keheningan malam sembari melihat sebuah syal coklat kehitaman yang menyatukan diri bersama zirah aura yang lebih mengambil bentuk dasar dari pakaian gadis kuil serupa kimono yang melekat pada tubuh Spia, sebuah zirah aura hitam keunguan yang secara samar mengambil bentuk dasar baju perang suku pedalaman dengan tanduk dan taring hewan yang Aya ciptakan, Mahkota cahaya dari api dan jubah angin yang melekat pada diri Rara, maupun zirah aura putih cahaya bulan yang membentuk baju perang dengan tanda bulan sabit dan burung hantu pada Mili.


* Clisings!! Sdrumsss!! Sduuummmss!! Gbrubuuunggssss!! * Semakin mencoba untuk memejamkan matanya untuk terlelap dalam tidur disaat gemuruh suara dari berbagai jenis sihir area menciptakan ledakan hebat hingga lidah api yang menjulur ke angkasa maupun pusaran angin yang begitu membuatnya terganggu pada akhirnya membuatnya merasa kesal di waktu sebuah sihir gravitasi menarik jatuh pulau melayang itu dari tempatnya.


Tidak lagi bisa menahan amarah dalam diri diwaktu melihat lautan api berkobar sejauh mata memandang maupun kilatan kecil dari beberapa pedang yang saling diadukan dalam kegelapan yang mendominasi satu peperangan dengan beberapa ras lain selain ras manusia yang ikut bertarung dalam belenggu rantai besar tanpa memandang gender maupun usia, melebarkan sayap besar yang ada di punggungnya sembari mengumpulkan seluruh energi sihir maupun stamina hingga sayap elang salju itu menampakkan simbol misterius berwarna biru menyala sebelum menghempaskan seluruh sosok yang datang dengan zirah penuh noda darah yang mengakibatkan gelombang besar energi sihir yang menyapu bersih area dihadapannya tanpa terkecuali maupun guncangan energi sihir yang membuat seluruh sosok yang ada disekitarnya menggeliat kesakitan akibat kekacauan mana dalam diri mereka.


" * Grghs * Lebih baik. " gumamnya sebelum kembali memberikan ramuan pemulihan Aya, Spia, Mili dan Rara yang tidak luput dari guncangan energi mana sebelumnya merapal mantra peminjaman kekuatan pada ruh bumi demi menyatukan pulau melayang yang hancur.


Mengangkat salah satu bagian pulau melayang itu yang masih menyatukan diri diantara aura cahaya yang menerangi tanpa peduli dengan apa yang telah terjadi dan tetap memfokuskan diri pada keyakinan atas kekuatan dalam diri untuk mengembalikan posisi pulau melayang yang jatuh ke posisi sebelumnya, teriak suara dari para ras lain selain manusia yang cukup kebal terhadap kekacauan energi mana mulai terdengar di sekitar area tempatnya berada hingga tanpa sadar mereka yang penuh dengan luka telah terbawa naik ke atas pulau melayang itu.


" [ Apakah para dewa-dewi dunia tengah mempermainkan diriku ? ] " pikirnya sembari bersiap diri untuk membinasakan seluruh sosok yang tersiksa itu sebelum Aya dan Spia mencoba menahan pergerakannya.


Mencoba memanggil nama Reino berulang kali bahkan hingga sempat terlempar jauh menghantam pepohonan disekitarnya lagi menahan rasa sakit dari mereka yang mulai dibinasakan, Ucapan dari Aya yang seketika itu memanggil nama lain perwujudan Reino saat ini membuat pergerakan Reino akhirnya terhenti bersama memudarnya warna merah menyala diantara warna matanya yang semula berdasar pada warna biru permata.


* Slisings!! * Kumpulan serbuk cahaya mulai menampakkan diri di langit malam itu sebelum membentuk sebuah tubuh raksasa dari seorang Dewa-dewi dunia.


" [ * hmphs * Astaga, sungguh? Setelah Dewi Adel'in waktu itu ? Sekarang aku kembali bertemu dengan Dewi agung Dorothy? * Haaakss * Mungkin kesepakatan yang telah aku lakukan sebelumnya adalah satu kesepakatan yang tidak seharusnya aku lakukan. ] " ucapnya dalam diam dihadapan dua dewa utama dalam dunia itu yang mewakili peran dari pemberi kehidupan dan kematian dalam ruang altar seperti saat pertemuan pertama dengan dewa arogan tak kala mengira bahwa kesadarannya kembali di tarik paksa oleh merek berdua.