
Menarik nafas panjang untuk bersiap kembali tertidur dengan bersandar pada batang pepohonan yang tumbang setelah memastikan kembali ketiadaan ancaman disekitar tempatnya berada, jejak langkah menuju sebuah goa persembunyian bandit yang dilepaskan sebelumnya untuk mengambil seluruh harta benda yang disimpan di dalamnya tak lama setelah perlawanan sia-sia dari para bandit gunung yang ada membuatnya kembali meminta Spia untuk mencoba meramu ramuan seperti waktu sebelumnya.
" Bagaimana hasilnya, Spia ? Apakah ada hal lain yang kamu ingat dalam waktu dekat ini ? " ucapnya menyapa Spia kembali setelah melihat tanda kepulihan dari beberapa bandit yang dimasukkan dalam jeruji besi bekas kurungan para elf yang berhasil diselamatkan.
Menggelengkan kepala sebelum meminta maaf kepada Reino mengenai ketiadaan petunjuk yang berkaitan dengan tugasnya sebagai titisan dewa, usap lembut yang disertai nasehat bahwa Spia tidak harus memikirkannya secara berlebihan membuat senyuman manis yang sempat hilang kembali mencerahkan hari.
" Bagaimana kondisi mereka, Aya ? Apakah ada hal yang perlu di hawatirkan dari kondisi mereka ? " lanjutnya setelah meninggalkan Spia untuk mengetahui kondisi dari dua elf dewasa yang kurus kering dengan bagian perut yang nampak membuncit.
Membisikkan sesuatu yang dirasa tidak baik untuk didengar Spia dalam ruangan itu, rasa kesal yang timbul begitu besar dalam benaknya mulai dicoba untuk dikendalikan agar Spia yang masih belum mengetahui kekejaman para bandit itu tidak membangkitkan kenangan dari masa lalunya yang kelam.
" [ Aku harus ingat kembali posisiku dalam dunia ini. Aku bukanlah pahlawan dunia ini ataupun karakter utama dalam buku fantasi anak-anak yang mengemban tugas mulia ataupun semacamnya. ] " ucapnya berulang dalam diam setelah mengusap bagian perut dari salah satu elf yang nampak mencapai usia kandungan yang matang dan siap untuk melahirkan.
Melihat bayangan dari sosok Aya yang seharusnya masih berada di dalam goa bersama Spia untuk mengurus beberapa hal di wajah elf wanita dihadapannya, ucap kata yang menyatakan sebuah opsi untuk menggugurkan benih dari para bandit gunung yang seringkali memainkan tubuh mereka nampak memberikan dampak besar bagi fikis elf wanita itu sebelum usapan pelan dari seorang wanita elf lainnya membuat wanita elf yang tidak lagi mampu menahan rasa sakit dalam perutnya itu menyetujui opsi yang diberikan olehnya.
" * Hyuuuuupppssss, Hyuuuuusssshhhh * [ Aku harap Aya dan Spia tidak melihat hal mengerikan yang akan terjadi setelah ini. ] " ucapnya dalam hati sembari bersiap diri dengan sebuah pisau belati untuk mengeluarkan sosok janin dalam tubuh wanita elf itu layaknya seorang dokter kandungan yang melakukan sebuah tindakan medis serupa operasi.
Meminta dengan sangat pada elf wanita yang kurus kering bagai sebatang sapu lidi untuk memasang sihir ilusi agar Aya maupun Spia yang keluar mencarinya tidak mengganggunya dalam hal mengerikan yang tengah dirinya dilakukan, aliran darah yang perlahan menutupi bagian alas rerumputan yang telah diberikan sihir penghalang mulai terhenti sepenuhnya bersama senyuman kecil dari elf sebelumnya yang masih sesekali mengucap rasa nyeri diantara bagian perut yang masih beregenerasi.
" Mili, Rara. Terima kasih karena telah membantu Spia dan Aya. " ucapnya menyapa kedua wanita elf yang terdiam di mulut goa dalam posisi saling bersandar diatas batuan besar sembari menatap kosong lautan hutan dengan keputusasaan.
" Hingga di waktu dua atau lima ratus tahun yang lalu, para tetua adat yang seharusnya bisa mencegah kehancuran desa itu justru dibunuh oleh para penghianat dari ras kami sendiri dan lambat laut, beberapa penduduk mulai menghilang secara misterius sebelum akhirnya kami berdua mengetahui bahwa para penduduk itu telah dijual oleh mereka yang seharusnya melindungi kami dari marabahaya. " Lanjut wanita elf berambut oranye gelap dengan begitu kesalnya di waktu mengingat bahwa para tetua adat yang memimpin mereka justru nampak puas dengan isak tangis warga desa yang dimainkan oleh para manusia dalam sebuah rapat rahasia.
Mengucap rasa syukur atas keberuntungan diri mereka yang masih memiliki satu sama lain dalam kehidupan berat yang dilalui maupun para perempuan yang selalu menjadi pemilik mereka sebelumnya, sebuah tangis kembali nampak di mata elf wanita berrambut coklat menyala yang setelahnya mengucapkan bahwa diri mereka yang seharusnya telah merdeka oleh pemilik sebelumnya harus kembali menjadi pelayan atas putusan dari penjaga perbatasan tempat Reino mendaftarkan diri sebagai seorang petualang.
" Kami tidak tahu mengenai seberapa cepat waktu telah berlalu dan karenanya kami tidak tahu perubahan macam apa yang telah terjadi di luar tempat ini. " lanjutnya dengan mengatakan bahwa usia kandungan yang matang sebelumnya tidak dapat dijadikan tolak ukur atas dasar bahwa hubungan intim diantara ras berbeda memiliki angka kelahiran yang cukup rendah dibandingkan dengan hubungan intim diantara ras yang sama.
Membandingkan tubuh Aya di waktu pertama kali dirinya melihatnya dengan tubuh mereka yang benar-benar kering seutuhnya, anggapan bahwa kejadian yang dialami mereka hampir lebih lama dari hal buruk yang menimpa Aya sempat timbul dalam benaknya sebelum dirinya meminta sedikit putusan dari mereka antara ikut bersama dengan dirinya untuk menyelesaikan tugas dari seorang dewa ataupun lebih memilih untuk tinggal kembali di dalam wilayah kekuasaan elf yang dirasa lebih baik dari masa sebelumnya.
" Bila memang itu adalah putusan dari tuan, aku tidak dapat menolaknya. Lagipula aku turut senang bisa bercanda tawa dengan kalian yang sudah aku anggap sebagai saudara. " balasnya menanggapi ucapan elf berrambut oranye di waktu dirinya hendak menyiapkan makan siang untuk mereka.
Menambahkan sebuah pujian mengenai hal menarik mengenai dunia luar maupun berbagai ilmu dan pelajaran berharga yang belum pernah dirinya rasakan sebelumnya, ucap mengenai dirinya yang mungkin akan memohon pada Reino untuk tetap membiarkan keduanya ikut dalam perjalanan mereka benar-benar membuat hati dari elf berrambut oranye itu tersentuh dan membuatnya memeluk Aya dengan begitu eratnya.
" Spia! Rara! Kembalilah kedalam goa segera! " teriaknya di mulut goa untuk memanggil Spia dan elf berrambut coklat menyala untuk mencukupkan pengumpulan tanaman herbal yang cukup banyak tumbuh di sekitar area goa maupun tebing batu yang menjulang tinggi di atas mereka.
" * Arghkh* [ Iya. Aku harus kembali mengingat bahwa aku bukanlah seorang pahlawan maupun pemeran utama dalam kisah fantasi anak remaja. ] " ucapnya dalam hati diwaktu merasakan kebahagiaan diantara mereka yang pada waktu sebelumnya telah mengalami cobaan hidup yang begitu berat dalam waktu yang cukup lama.