CEO Rei In Different World

CEO Rei In Different World
Kematian seorang Dewa



* Sclisings * kilau cahaya dari tubuh Druid yang mendapatkan kembali eksistensi kehidupannya di waktu Aya berhasil mendapatkan kembali stamina penuh dalam dirinya tanpa harus mengorbankan energi kehidupan yang mampu menghapus ingatan sebagai ganti dari batasan diri untuk mengaktifkan sihir tingkat tingginya membuatnya begitu bahagia.


Mengambil bidak catur untuk ditempatkan pada sebuah peta dunia yang memakan bidak lain dari ras manusia bersama dengan diakumulasikannya beberapa bidak yang hanya tersisa hitungan jari saja, sebuah jam pasir yang kembali diputar untuk memulai giliran seorang dewa memainkan papan catur dunia yang dapat mengubah segala sistem tatanan yang ada, sebuah bidak hitam yang menampakkan bentuk sebuah pion kecil mulai muncul diantara dua wilayah dasar dunia yang mewakili wilayah kekuasaan elf dan manusia.


" Akhirnya. Setelah sekian lama menghilang, dia kembali menunjukkan keberadaannya sebagai seorang yang pahlawan dari ras ku yang hampir binasa. " ucap senang seorang dewa yang sebelumnya nampak terpuruk diantara dua dewa yang memainkan papan permainan itu dan membuat dua dewa itu hanya tertawa atas keberadaannya.


" [ tertawalah selagi bisa karena bidak yang tersisa akan menjadi raja dari segala raja yang akan hidup untuk membalaskan dendamnya pada kalian yang memporak-porandakan dunia dan seisinya. ] " ucapnya dalam diam sebelum merapalkan sebuah mantra kecil secara rahasia sebelum waktunya benar-benar habis akibat ketiadaan rasa percaya para ras demi human terhadap dirinya.


* sclisings sclisings sclisings* kilau cahaya yang muncul di antara tubuh Spia dan Reino yang saling menunjukkan kesamaan eksistensi energi misterius yang jauh diluar pengetahuan dari Mili, Rara bahkan Aya yang sengaja menampakkan wajah polosnya dihadapan keduanya yang pada dasarnya mengetahui bahwa energi itu merupakan bukti keberkahan dari sang Dewi agung yang berbenturan dengan energi gelap dari Dewa kematian yang menentang keras adanya pengembalian jiwa dari alam baka.


" Seraphine Narckma- " ucap Spia, Reino dan Aya di waktu yang bersamaan sebelum kilau cahaya terang menyilaukan mata menghentikan mereka untuk merapalkan satu mantra yang tidak boleh diucapkan oleh mereka yang ada dalam dunia.


Memberikan sebuah sambaran petir diantara mereka yang nampak mengacuhkan keberadaan diri di waktu sibuk mengakrabkan diri sembari mengucap hal tidak terduga bahwa ketiganya bisa bertemu dalam satu dimensi yang dirasa mimpi, ucap salam dari sosok seorang pria yang menyerupai wanita maupun sebaliknya dengan pakaian yang lebih mendominasi ke sisi pria daripada wanita serta sebuah gelang emas yang hampir sama dengan milik Reino pada lengan kanannya yang ramping selayaknya wanita sempat menimbulkan tanya diantara mereka yang melihat sosoknya.


" Jadi, diantara kalian bertiga, siapakah yang akan menjadi wadahku dalam dunia itu ? " ucapnya setelah memperjelas bahwa dirinya seorang pria dihadapan ketiga orang itu yang memiliki eksistensi energi sihir melebihi batas aturan dalam dunia.


Memandang satu sama lain sebelum mengajukan dirinya membuat dewa itu merasa senang atas keberadaan dari sosok Druid yang nampak belia dimatanya.


" Maaf, saya sudah mengikat kontrak dengan beberapa dewa dalam dunia itu dan berjanji untuk tidak bersinggungan dengan hal yang anda tawarkan. " Jelasnya sembari mengucap beberapa deskripsi dewa yang dalam ingatan dewa dihadapannya merupakan dewa-dewi pengawas alam dunia yang cukup disegani para dewa-dewi lain maupun dirinya.


" Maaf, dia yang anda tunjuk pun telah mewakili seorang Dewi dari masa sebelum anda menjadi seorang dewa dan karena aturan yang sama seperti sebelumnya, saya tidak bisa mendeskripsikannya secara jelas pada anda. " lanjutnya membela Spia yang masih menampakkan sifat penakutnya atas keberadaan sosok dewa secara nyata dan mengira bahwa dirinya telah tiada sepenuhnya.


Mengingat usapan lembut sang Dewi Adel'in yang mampu memberikan sedikit marka pada tubuhnya untuk mengetahui siapa jati diri dari pemilik tubuh itu sebenarnya, dewa angkuh yang nampak dimatanya itu mulai mencoba saran darinya dan menampakkan kebenaran atas marka yang pernah dibuat oleh seorang dewa meski nampak cacat dibeberapa bagiannya.


" Seribu maaf saya haturkan pada anda, Dewa Linract 'apotha. Keyakinan saya terhadap Dewi Afedylin 'namra tidak akan goyah meski anda menawarkan hal luar biasa itu terhadap saya dan sama seperti yang Rin katakan sebelumnya. Saya tidak lagi peduli dengan harta benda maupun perlakuan kejam yang mereka lakukan pada ras yang berbeda seperti saya, selama saya masih bisa hidup bahagia bersama Rin. " balasnya mendahului ucapan sang dewa yang melirik ke pada dirinya yang tersisa diantara pilihan yang ada.


Melihat butiran pasir dari jam pasir raksasa yang berputar diatas mereka, sosok dewa angkuh yang berlagak menjadi sosok yang begitu ditakuti oleh semua makhluk hidup dari dunia fana mulai menampakkan sosok aslinya sembari meminta kepada mereka untuk memikirkan kembali apa yang telah ditawarkan untuk mempertahankan eksistensi diri meski terlahir kembali sebagai seorang makhluk hidup diatas tanah yang sama seperti dunia asal mereka.


" [ apakah tidak masalah membuat seorang dewa menangis layaknya balita semacam ini? ] " ucapnya dalam hati sembari memandang wajah dari Spia maupun Aya.


Menganggukkan kepalanya sebagai bentuk komunikasi atas pesan yang dirasa bahwa menunjuk dirinya untuk memutuskan hal benar untuk dilakukan dengan membiarkan dewa angkuh itu menerima akibatnya sendiri, gelengan kepala justru ditunjukan oleh Spia yang begitu takut dengan hukuman dari sang dewa apabila mereka tidak menuruti permintaannya.


Melihat dengan jelas sebuah krikil terakhir jatuh ke atas tumpukan pasir dari jam pasir yang menandakan akhir dari sebuah waktu diantara mereka, kilau cahaya keemasan yang perlahan meleburkan sosok dewa angkuh dihadapan mereka benar-benar membekas dalam diri mereka di waktu melihat ketiadaan dari eksistensi terkuat yang dapat hilang akibat ketiadaan dari para pengikutnya yang tidak lagi percaya padanya.


" [ karena hal semacam inilah aku enggan untuk terlibat pada urusan yang berkaitan dengan mereka. ] " ucapnya dalam diam yang membenarkan keputusasaannya untuk tidak bersinggungan dengan para dewa-dewi dalam dunia itu sebelum alam bawah sadar itu kembali ke dalam raganya yang terlelap dalam balutan serbuk cahaya yang amat dibenci olehnya.


Membuka kedua kelopak matanya secara perlahan diwaktu merasa bahwa kesadarannya telah dikembalikan pada tubuh yang seharusnya, usapan pelan pada bagian mata untuk memperjelas pandangannya terhadap area disekitarnya, gemrecik suara yang timbul diantara air hujan yang turun begitu deras menghujani diri membuatnya bergegas pergi menuju goa persembunyian demi meyakinkan diri bahwa apa yang dilihat olehnya bukanlah permainan kecil dari dewa-dewi dunia itu yang kesal oleh keberadaan dirinya.