
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
William membawa Alice dan Vio melihat kamar. Dia sudah menyiapkan sebuah kamar untuk Vio . Vio memuji kamar itu yang cantik, tapi terlalu bersar baginya. William dengan lembut menyuruh Vio menerima kamar itu, karena Vio bukanlah tamu tetapi anaknya juga. Vio sedikit canggung, tetapi dia tetap berterimakasih.
Sisil pembantunya diam-diam mengintip. Tetapi ketahuan oleh William. Dan William memerintahkannya untuk membawa koper dan barang Vio di lantai bawah ke atas. Vio langsung menyuruh Sisil untuk tidak melakukannya, dia bisa melakukannya sendiri.
Usai itu, William membawa Alice ke kamar mereka. Dia menyuruh Alice untuk masuk ke dalam dan melihat kamar itu.
โAehhโฆ tidur di kamar yang sama dengan Tuan. Bahkan Nyonya saja (ibu Varo ) tidak pernah tidur di sana,โ gumam Sisil melihat hal itu. โJika Tuan Varo tahu hal iniโฆ rumah ini pasti hancur!โ merinding Sisil .
Dan ketika dia berbalik, varo sudah ada di sana. Peat mengepalkan tangannya dengan kuat, menunjukkan seberapa marah dirinya.
--
William, ibunya Vio dan Vio sarapan bersama. Mereka sudah tampak seperti keluarga. William menanyakan mengenai pekerjaan paruh waktu Vio , dan Vio memberitahu kalau dia bekerja di cafe kopi.
โKamu yakin tidak ingin ku bantu?โ Tanya William.
โYa. Merepotkan Anda dengan biaya medis ibuku saja sudah lebih dari cukup,โ jawab Vio . โDan daripada mengumpulkan uang, aku melakukan pekerjaan paruh waktu ini juga karena ingin belajar cara membuat kopi dan minuman lainnya. Ini untuk meningkatkan pengetahuanku sesuai dengan yang ku pelajari.โ jawab Vio .
โSangat rajin. Tidak seperti Vio . Dia tidak rajin dan tidak punya rasa tanggung jawab. Tetapi untungnya dia pintar,โ Ujar William.
William bahkan menawarkan untuk mengantar Vio ke tempat kerjanya. Tetapi, Vio menolak, dia bisa pergi sendiri, dan juga dia ingin hidup seperti cara hidupnya dulu. Dia tidak ingin mengganggu William. William mengerti, tetapi jika Vio perlu apapun, jangan sungkan untuk meminta padanya.
Usai berbincang, Tuan William baru nanya ke Sisil, kenapa Varo belum turun juga untuk makan? Sisil kebingungan menjawabnya.
โAku sangat senang. Ayah menanyakanku,โ ujar Varo dari sudut tangga.
varo hendak keluar tanpa sarapan karena dia tidak ingin melihat wajah para โlintahโ. William langsung menegur sikap Varo tersebut. Tetapi, Varo terus menghina ibunya Vio dandan Vio yang pasti mengincar harta ayahnya. William capek berdebat dan menyuruh Varo untuk tidak bergabung makan kalau tidak mau.
Varo malah lebih marah. Dia berjalan ke meja makan, dan membalik piringnya yang sudah di siapkan sebelumnya. Isi piring tumpah dan Varo dengan marah berkata kalau dia memang tidak mau sarapan.
William marah melihat sikap Varo dan hendak mengejar Varo . Tetapi, Alice menghalangi. Tidak baik jika William bicara saat sedang emosi. Tidak usah khawatir pada Vio dan dirinya, karena mereka masih bisa menolerir hal itu.
Viona sudah sarapan dan hendak berangkat kerja paruh waktu. Varo ternyata belum pergi, dia diam-diam mengikuti Vio dari belakang untuk mengetahui tempat kerja paruh waktu Vio . Dia merencanakan sesuatu.
๐๐๐๐๐
Devan sedang memperlihatkan salah satu menu di cafรฉ yang akan di bukanya pada Alina dan Davin . Nama menu itu adalah Inferno Mountain, dimana di letakkan cairan yang membuat api biru dan membuat makanan di dalamnya matang. Davin sangat kagum dan memuji rasannya yang sangat enak. Alina kemudian bertanya, kapan cafรฉ Devan akan di buka? Apa lagi yang kurang?
โKurang dukungan moral. Alina , dapatkah kau memberikannya padaku?โ
โTentu saja!โ
Dan Davin langsung berdeham memberi tanda kalau dia ada di sana. Devan tersenyum, dan memberitahu kalau persiapan pembukaan cafenya sudah mencapai 90 %. Dan dia masih harus memeriksa supllier dan masih kekurangan staff pelayan dan chef.
Alina bertanya kenapa Kris tidak meminta bantuan dari orang-orang di perusahaan utama? Devan menjelaskan kalau cafรฉ ini dia dirikan sendiri dan sudah melarang ibunya untuk membantu, dan bahkan dia meminjam uang untuk membuka cafรฉ ini. Davin memuji Devan yang keren.
Pas sekali, Varo menelpon Davin . Davin langsung menduga kalau Varo pasti lupa janji pertemuan mereka hari ini kan? varo menjawab tidak, tetapi dia menyuruh Davin dan yang lain untuk datang menemuinya di cafe kopi sekarang. Davin serta yang lain jelas bingung, apalagi suara Varo sangat serius.
Tidak lama semua sudah berkumpul. Dan Varo langsung masuk ke dalam cafe kopi tersebut. Davin sampai heran dan bertanya pada Devan , apa kopi di cafรฉ ini sangat enak sampai Varo meminta mereka ke sini?
โAku rasa ada alasan lain yang membuat Varo ingin ke sini,โ jawab Devan saat melihat ada Vio di sana.
Varo menemui Vio yang berada di balik kasir. Vio jelas tidak suka melihat kehadiran Varo , tetapi dia mencoba tetap profesional dengan menanyakan pesanan Varo .
โAku ingin orang yang sedang jualan sekarang! Kau jual atau tidak?โ Ujar Varo dengan nada menghina.
โVar, kau keterlaluan,โ tegur Devan.
โTempat ini menjual kopi, minuman dan juga dessert. Jika kau ingin yang lain dari itu, silahkan ke cafรฉ lain saja,โ tegas Vio .
Varo berkata kalau dia hanya bercanda. Dan dia menyuruh Devan , Alina , dan Davin saja yang pesan, pesan yang banyak dan dia yang akan bayar. Setelah itu, Varo membayar pesanan tersebut dan menyuruh Vio untuk menyimpan saja kembaliannya. Dan juga dia ingin semua pesanan tadi di antarkan oleh Vio sendiri ke meja mereka. Vio dengan profesional menyuruh Varo untuk menunggu.
Hai readers! jangan lupa Vote, like dan , comment juga yah!!๐๐
Supaya aku tambah semangat menulis cerita nya oke!!!๐๐๐