
Varo makan di kantin, dan kebetulan sekali mereka duduk tidak jauh dari Vio dan Selin. Varo tampak melirik terus menerus ke arah meja Vio dan Selin , dan Davin menyadari hal itu. Dia bertanya apa Varo ingin duduk bersama Vio . Varo gugup dan membantah hal itu. Davin dengan tenang menyuruh Varo untuk tidak berbohong, dia tahu siapa yang Varo lihatt Varo masih terus membantah.
“Mulut mu tidak sejalan dengan hatimu!” ujar Davin
.
“Jika Alina tahu, kau pasti akan terkena masalah Varo!” ingati Devan teman Varo .
“Masalah? Mengapa?” Tanya Varo .
“Karena kau sengaja mencari masalah dengan wanita itu ( Vio ) karena kau tertarik padanya.” Jawab Devan.
“Hey! Orang sepertimu tidak akan tertarik pada wanita seperti itu. Aku mencari masalah dengannya, karena dia merusak motorku.” Jawab Varo dengan nada tinggi.
Tetapi, Devan malah mengejek Varo yang tidak jantan karena mencari masalah hanya karena alasan tersebut. Varo jadi kesal dan menyuruh Devan untuk tutup mulut saja. Mereka hampir bertengkar, kalau Davin tidak melerai dan menyuruh mereka untuk lanjut makan saja.
--
Dirumah sakit
Alice masih memikirkan tawaran William. Dan setelah memikirkannya cukup lama, Alice akhirnya bicara dengan Vio. Pertama, dia memberitahu kalau dia sudah boleh keluar dari rumah sakit besok. Dan Vio jelas senang mendengarnya.
“Ada hal lain yang ingin Ibu bicarakan padamu, Vio ,” ujar ibunya..
--
Esok hari,
Vio duduk sendirian di bangku penonton lapangan kampus. Pas sekali, Varo lewat dan melihatnya. Dia dengan sengaja berjalan di depan Vio , tetapi tidak ada respon, padahal dia berjalan bolak balik.
Dan karena itu, dia melempar bola basket yang di bawanya ke arah KiVio,dan itu membuat Kiew terperanjat dari lamunannya.
“Apa rohmu sudah pergi dari tubuhmu?” Tanya varo.
“Kau lagi. Ada apa lagi?” kesal Vio .
“Lempar bolanya balik padaku.” perintah Varo .
Vio malas bertengkar, jadi dia lempar balik bolanya pada Varo . Tetapi, Varo melemparnya lagi pada Vio dan menyuruh Vio lempar balik padanya. Lama kelamaan Vio jadi kesal dan menyuruh Varo ambil sendiri saja. varo tertawa melihatnya.
“Apa yang kau mau sih?” Tanya Vio dengan kesalnya.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mencari teman bermain. Tapi kemampuanmu sangat buruk. Aku tidak yakin kalau kau mampu melempar bola ke dalam ring atau tidak.” jawab Varo dengan santainya.
Dan dimulailah pengajaran basket oleh PeaVato epada KiewVio ereka tampak sangat bersenang-senang.
Dan Alina serta Devan melihat mereka berdua. Alina tampak marah dan cemburu melihat Varo yang dekat dengan wanita lain. Dan anehnya, Devan tersenyum menatap Alina.
--
Dirumah Varo
Pembantu Varo ( Sisil ) sedang sibuk ngepel lantai. Dan Varo pulang dengan gembira, hingga berjalan terburu-buru dan terpeleset. Sisil langsung panik dan memohon ampun agar tidak di potong gajinya.
“Ya udah. Cuma masalah kecil aja kok,” jawab Varo dan tersenyum.
Sisil sampai kaget melihat senyum Varo , apalagi Varo tidak marah dan langsung naik ke atas. Dia sampai nampar pipinya sendiri untuk membuktikan kalau dia tidak bermimpi.
Varo masuk ke kamarnya dengan senyum terkembang. Dia memainkan bola basket yang ada di kamarnya dan mengingat saat dia mengajari Vio bermain basket. Dia benar-benar bahagia.
Di tempat lain, Vio juga tersenyum senang mengingat Varo . Mereka masih terus senyum-senyum sendiri hingga malam.
--
Esok harinya,
Varo baru pulang dari bermain basket. Tetapi, dia malah melihat ayahnya bersama Sisil pembantunya berdiri di depan rumah. Dan tidak lama, sebuah mobil putih berhenti di depan rumah mereka. Dari dalam mobil itu, keluarkan Alice ibu Vio bersama dengan Vio.
Varo jelas terkejut melihat Viona.
“Varo,” pangiil William. “Kau tiba tepat waktu. Sini.”
Dan Vio baru melihat Varo. Dia juga terkejut.
“Ini Alice. Dan ini Viona Arabella, putri Alice,” perkenalkan William. “Dan ini, Alvaro, putraku.”
Peat masih bingung dan bertambah bingung sekaligus marah melihat William menggenggam tangan Alice.
“Untuk apa mereka kemari?” Tanya Varo
“Alice akan tinggal di sini sebagai istriku. Dan Viona, dia akan menjadi adikmu.” jawab William.
Varo kaget hingga dia menjatuhkan bola basketnya. Dia menatap marah pada Alice dan Vio. Dan Vio menghindari tatapannya.
Jangan lupa Vote, Like Dan Komen yah guys!!😘💓😇😇