
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Esok hari,
William memberikan dokumen pada Vio . Dokumen rumah lama Vio yang telah di beli oleh William dan William memberikannya pada Vio . Vio menolak untuk menerimanya, tetapi William memaksanya untuk menerima.
“Jika seperti ini, bisakah aku mengganti uang Anda dengan mengangsur?” tanya Vio .
William tersenyum. Di tambah lagi, Vio mengatakan kalau dia tidak bisa menerimanya Cuma-Cuma. William mengerti dan menyuruh Vio untuk membayarnya saat Vio sudah lulus dan membantunya di perusahaan.
“Tapi aku mempelajari perekonomian rumah. Bagaimana aku bisa membantu?” Tanya Vio .
“Setiap orang dapat belajar. Setuju atau tidak?” jawab William.
Vio berpikir sesaat, dan akhirnya menyetujui hal itu.
William hendak membahas pekerjaan part time Vio , tapi belum sempat dia mengatakan apapun, Vio langsung menegaskan kalau dia bekerja part time untuk menghasilkan uang sendiri. William tersenyum mendengarnya dan mengelus kepala Vio dengan sayang.
--
Viona pergi ke restoran Devan . Dia akan memasukkan lamaran secara resmi dan berharap masih ada posisi untuknya. Devan menjawab kalau untuk Vio selalu tersedia posisi.
Sementara itu,
Varo dan Alina dalam perjalanan ke bandara. Mereka telah benar-benar memutuskan untuk keluar negeri.
--
Malam hari,
Viona makan malam bersama dengan William. Vio bahkan memasak makanan kesukaan William. Mereka sudah tampak seperti ayah dan anak. Walau begitu, masih tampak jelas di wajah William kalau dia merindukan Varo .
Viona dan Sisil menyadari hal itu. Sisil bahkan berkomentar pada Vio kalau sejak Varo pergi, William tidak berselera makan dan hanya makan sedikit. Dia merasa kalau Varo pasti tidak tahu seberapa khawatirnya William dan malah menghilang tanpa jejak. Mendengar komentar itu, membuat Vio bertambah khawatir.
--
Sementara itu,
Alina bertanya, kenapa Varo memilih untuk pindah ke Seoul padahal America dan Eropa mempunyai lebih banyak hal menarik.
“Aku rasa kuliah di sini akan lebih menarik. Aku ingin mempelajarinya.” Ujar Varo .
“Begitu saja? Tidak ada alasan lain? Apa?” Tanya Alina .
“Bersama dengan orang Asia jauh lebih nyaman. Bukankah begitu?”
Alina hanya tersenyum. Tetapi, dia bertanya dengan serius, apa Varo merindukan rumah.Walau Varo membantah, Alina merasa kalau Varo merindukan kampung halaman. Bagaimanapun, teman mereka, Devan dan Davin masih di Thailand. Varo membenarkan.
--
Devan mengajari Vio membuat permen kapas. Mereka tampak bersenang-senang.
Sementara itu, Alina dan Varo mengelilingi kota Seoul.
Davin datang ke restoran Devan dan melihat Devan yang sedang mengajari Vio membuat permen kapas. Davin terkejut melihat Vio , tapi dia tetap memasang wajah tersenyum lebar. Dia berbisik mengajak Devan untuk bicara sebentar dengannya di luar.
“Kau memperkerjakannya. Kau tidak khawatir kalau Varo akan marah?” Tanya Davin ..
“Aku tidak takut. Masalah pribadi dan pekerjaan harus bisa di bedakan.” jawab Devan .
“Ya, itu benar.” jawab Davin membenarkan.
Devan langsung tanya untuk apa Davin kemari. Davin langsung mengeluh kalau dia kesepian karena hanya ada mereka berdua sekarang. Dia ingin Devan lebih perhatian padanya. Devan tertawa mendengarnya dan mengajak Davin untuk makan bersama.
Davin tiba-tiba bertanya, apa Devan sudah menghubungi atau di hubungi mereka.Muka Devan langsung muram karena belum ada kabar dari Alina dan Varo sejak mereka pergi. Davin malah lupa situasi dan berkomentar kalau Alina dan Varo pasti sedang bersenang-senang, dan ketika sudah tidak sibuk akan mengirimkan foto untuk mereka.
“Aku rasa Alina sangat mencintai Varo . Dia mengikuti Varo hingga keluar negeri. Aku iri padanya,” lanjut Davin .
Bersambung...