
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Varo mengantar Alina kembali ke apartemen. Alina masih merasa cemas, dan bertanya apa Varo yakin siap bertemu dengan Vio . Varo menjawab dengan bijak kalau pertemuan tidak bisa di hindari, kalau mereka ketemu yang mau gimana lagi, anggap saja sedang sial.
“Tapi, jika kau bertemu dengan vio, ayahmu akan tahu kalau kamu berada di sini.” Ujar Alina .
“Kalau dia tahu, lalu mau apa? Dia tidak akan bisa menyeretku kembali ke rumah jika aku tidak ingin kembali!” tegas Varo .
--
Varo pulang ke apartemennya dan membuka laci meja belajarnya. Dia masih menyimpan sapu tangan Vio . Melihat sapu tangan itu membuat Varo teringat pertemuannya pertama kali dengan Vio dan saat dia mengajari Vio bermain basket.
--
Esok hari,
Viona melihat proses membuat kimchi. Vio tampak sangat antusias mempelajari cara membuat kimchi.
Sementara itu, Varo bermain basket sendirian di lapangan. Sial! Vio yang telah selesai belajar membuat kimchi dan sedang berjalan-jalan, melihatnya. Dia segera menghampiri Varo dan meminta waktu Varo untuk bicara. Tapi, Varo tidak mau bicara dengannya.
Vio tidak menyerah. Dia mengejar Varo . varo lari, dan Vio ikut lari. Akhirnya dia bisa menjauhi Vio saat di lampu penyeberangan jalan. Sialnya, Vio melihatnya dan berlari mengejarnya lagi. Varo lari lagi.
Viona terus berlari dan berteriak meminta Varo berhenti. varo capek dan berhenti, tapi karena dia berhenti tiba-tiba, Vio jadi menabraknya dan hampir terjatuh jika dia tidak memegang / lebih tepatnya memeluknya. Suasana sempat canggung, tapi Varo tersadar dan segera melepaskan pegangannya hingga Vio terjatuh.
Varo lanjut jalan. Vio lanjut ngejar. Dia minta waktu bicara, tapi Varo tidak mau. Mereka terpisah tanaman berbentuk lingkaran. Vio gerak ke kanan, Varo gerak ke kiri. Begitu terus hingga Vio jadi kesal. Dia manjat tanaman itu dan hendak nyebrang. Tapi, Varo langsung mengingatkan Vio kalau Vio bisa kena denda ratusan ribu won jika melakukannya.
“Kalau gitu ayo bicara, aku mau bicara,” melas Vio .
Tapi, Varo tidak mau dan jalan pergi. Vio terus mengikutinya. varo akhirnya capek juga dan nyuruh Vio untuk bicara dengan cepat.
“Kau salah paham padaku,” tegas Vio .
“Mengenai apa?” Tanya Varo acuh.
“Apa alasanmu?” Tanya Varo lagi.
“Aku tidak datang untuk membuat alasan. Tapi aku ingin menjelaskan kepadamu dengan penjelasan. Jadi, kau tidak akan salah paham lagi padaku.”
“Katakan!” ketus Varo .
“Aku tegaskan kalau aku tidak pernah berpikir untuk mengganti posisimu. Aku tidak pernah ingin harta mu dan juga ayahmu. Tapi, aku setuju untuk menjadi putri adopsi ayahmu karena aku tidak tahan melihatnya sedih karena kehilanganmu.” jelas Vio .
“Tidak tahan melihat atau mengambil keuntungan?” tanya Varo dengan negatif.
“Aku tidak mengambil keuntungan. Tapi aku melakukannya karena aku ingin membalas kebaikannya. Ketika ibuku meninggal, aku tidak punya siapapun lagi. Hanya dia yang mengulurkan tangan padaku. Karena itu, apapun yang membuatnya bahagia, aku akan lakukan. Tapi mengadopsi putri sepertiku, aku tidak punya kemampuan untuk menggantikan tempat putra kandung sepertimu. Ayahmu menunggumu setiap hari untuk pulang. Dia berharap mendengar kabar mengenaimu, tapi tidak ada kabar sama sekali. Tolong kembali. Aku janji, ketika kau pulang, segalanya akan kembali kepadamu seperti sebelumnya.” Vio menjelaskan dengan lembut.
“Kau kira aku akan percaya pada janjimu?” sinis Varo.
“Kalau begitu, lihat mataku. Dan kau akan tahu kalau segala yang ku katakan adalah benar.” jawab Vio sambil menyuruh Varo menatap kedua matanya.
“Aku mengambil bagian dalam penyebab kematian ibumu. Dan kau tidak marah padaku?” Tanya Varo .
“Apa yang akan ku dapatkan jika aku balas dendam? Itu hanya akan menyakiti orang yang masih hidup. Dan ibuku juga tidak akan pernah hidup lagi! aku tidak ingin membuat orang lain terluka lagi.” jelas Vio .
“Tapi hal yang ibumu lakukan pada keluargaku, masih membuatku terluka!.” tegas Varo .
“Aku berani jamin kalau ibuku tidak bersalah. Dan ibuku bukan orang yang tidak bermoral seperti yang kau tuduhkan padanya.” Ujar Vio meyakinkan Varo .
“Apa buktinya? Tidak ada kan.” jawab Varo .
“Ada. Perkataanku dan juga harga diriku. Ini, apa belum cukup?”tegas Vio . “Ayo pulang!” ajaknya lagi.
--