
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Varo masuk ke dalam rumah sakit, tetapi dia bingung kemana ayahnya pergi? Menemui pasien? Dokter? Atau apa?
Dan Vio berjalan melewatinya. Mereka tidak saling menyadari kalau saling melewati.
William bicara berdua dengan ibu Vio ( Alice ). William memberitahu kalau selama ini dia memerintahkan Robert untuk mengawasi Alice dan Viona, dan sekarang, dia akan menjaga Alice Dan Viona.
“Dan ada satu lagi yang Robet laporkan padaku. Kau sakit keras.” Ujar William
“Kau tahu?” Tanya Alice.
“Tapi aku juga tidak tahu bagaimana ke depannya. Dapatkan kau mengizinkanku menjagamu untuk seterusnya?”
Alice terdiam sesaat dan menjawab tidak. Dia bisa mengurus dirinya sendiri. William tidak menyerah, dia berusaha merayu Alice agar membiarkannya menjaganya. Alice tetap berkeras dan meminta William agar mengabaikan semua perkataan Viona tadi dan biarkan dia tinggal bersama dengan Viona berdua seperti biasanya. William menolak.
“Aku mohon, Alice. Tinggallah di rumahku. Biarkan aku menjagamu dan Vio. Aku berjanji, jika kau setuju, tidak peduli bagaimana kondisimu, aku akan melakukan segalanya. Aku tidak akan memohon, segalanya akan berdasarkan keputusanmu,” ujar William sambil menggenggam tangan Alice.
Alice menarik tangannya dari genggaman William. Dan William terus meminta Alice memikirkan tawarannya, pikirkan juga Vio. Dan hal itu membuat Alice jadi galau dengan keputusannya.
William sudah selesai bicara dengan Alice, dan berjumpa dengan Vio yang baru selesai belanja kopi dan hendak kembali ke kamar Ibunya. William pamit untuk pulang, dan Vio meminta William untuk datang lagi.
“Aku senang berjumpa dengan Anda. Aku merasa seperti bertemu dengan ayahku.” Ujar Vio
“Aku juga senang dapat berjumpa denganmu. Aku hanya punya seorang putra ceroboh, dan dapat bertemu dengan putri yang manis sepertimu sangat menyenangkan.” Jawab William sambil tersenyum.
“Biar ku tebak, putra Anda pasti pembuat masalah,” tawa Vio.
“Benar. Pembuat masalah besar,” tawa William. “Dia seumuran denganmu. Dan kau akan segera berjumpa dengannya.”
Dan usai berbincang, William dan asistennya hendak pergi. Tetapi, Vio memanggilnya dan memberikan mereka kopi yang telah di belinya.
Varo masih berkeliling rumah sakit mencari ayahnya and Robert. Dan pas sekali, dia berjumpa dengan ayahnya yang mau keluar dari pintu rumah sakit. William jelas heran melihat putranya di rumah sakit, dan bertanya untuk apa Peat kemari? Apa dia terluka?
“Eh. Aku mengunjungi teman,” bohong Varo. “Dan untuk apa Ayah ke sini?” Tanya Varo
“Aku mengunjungi teman.” Jawab William.
“Siapa?” Tanya Varo penasaran.
“Kau tidak perlu tahu.” jawab William.
--
Esok harinya.
Varo sedang bermain basket bersama teman-temannya di lapangan. Dan Vio serta Selin lewat di dekat sana, sambil Vio curhat mengenai ibunya yang masuk rumah sakit. Lagi asyik-asyiknya curhat, kepala Vio malah terkena lemparan bola basket yang di lempar oleh Varo. Kali ini,Selin yang emosi, dia mengambil bola itu dan memarahi Varo.
Varo malah dengan cueknya meminta kembali bola itu. Selin bertanya pendapat Vio, apa mau di kembalikan? Vio ternyata menyuruh Selin untuk mengembalikan bola itu, karena mungkin saja Varo tidak sengaja. Varo jelas heran melihat Kiew yang tidak melawan balik.
Varo malah menggoda Vio dengan bertanya, apa hari ini kau tidak membawa mulutmu? Vio dengan sedikit ketus menjawab, “Aku bawa. Tapi aku tidak mau bicara,” dan setelah itu dia langsung pergi. Membuat Varo sedikit heran.
Selin masih ada di sana dan mengomeli Varo dan teman-temannya yang sepertinya baru belajar main basket.
“Setiap orang pasti pernah berbuat salah,” jawab Davin, teman Varo. “Apa kau tidak pernah berbuat salah seumur hidupmu?” Tanya Davin kepada Selin.
“Salah atau sengaja?” jawab Selin.
“Ooohh. Untuk apa sengaja?”
“Ya, mungkin ingin bicara dengan gadis muda tapi tidak berani!” sindir Selin. “Jadi pakai cara kuno seperti ini.”
“Muda? Hey, tante, kau terlalu banyak baca manga Jepang ya? Siapa yang mau bicara dengan ‘gadis Chinese’ sepertimu!”
Dan Selin dengan Davin malah bertengkar. Varo langsung menarik Davin untuk lanjut bermain basket. Dan Selin mengejar Vio yang sudah pergi jauh.
--
Dirumah sakit.
William menjenguk Alice lagi. Dokter juga ada di sana dan menanyakan keputusan Alice. Alice tampak pesimis, karena sebanyak apapun dia melakukan pengobatan, waktu hidupnya juga tidak akan bertambah. William meminta Alice untuk tidak terlalu pesimis. Dan Alice meminta dokter memberikannya waktu untuk berpikir. Dokter mengerti dan keluar dari ruang rawat Alice.
Dan William kembali meminta Alice memikirkan tawarannya kemarin. Tinggal bersamanya.
“Kau harus memikirkan Viona. Tolong jangan mengira aku menghancurkan harapanmu, Alice. Tapi, jika sesuatu terjadi padamu, kau ingin Vio sendirian di dunia ini? Tolong beri aku kesempatan Alice. Kau dan putrimu tinggallah di rumahku. Ini agar ada kepastian, jika sesuatu terjadi, Vio akan punya hidup yang baik. Dia akan punya orang yang menjaganya selain kamu.” Ujar William
“Putriku akan punya hidup baik? Dia tidak akan sendirian sepertiku, kan?” tanya Alice memastikan dengan suara bergetar.
William duduk di samping tempat tidurnya, dan memastikan hal itu. Dia akan menjaga dan selalu berada di sisi Vio selamanya. Alice menangis mendengarnya.
--