
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
William membawa Alice dan Vio masuk ke dalam rumah. Dan hal ini membuat Varo semakin emosi. Ibunya baru di kremasi dan ayahnya sudah membawa istri baru ke rumah?! Dia tidak bisa menerima hal itu. William meminta Varo agar mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Tetapi, Varo menolak, dia tidak perlu mendengar alasan William, karena melihat Alice saja itu artinya ayahnya sudah berselingkuh dari ibunya sejak ibunya masih hidup!
“Tidak heran. Pantesan ayah tidak peduli pada Ibu! Dan wanita itu (vio), apa dia buah hati kalian?!” marah Varo .
“Tidak,” jawab Vio cepat.
“Ibu mu sangat menakjubkan. Dia punya banyak suami!” Ujar Varo menghina ibunya Vio .
“Jangan menghina ibuku!” marah Vio dan bangkit berdiri.
William berusaha mencegah agar tidak terjadi pertengkaran. Dia menyuruh Varo untuk marah padanya saja, karena hal itu pantas. Tapi Varo tidak punya hak untuk menghina Alice.
“Aku tidak akan menghina ibunya. Sebaliknya, aku akan menghina putrinya saja. Gimana? Kau ingin jadi apa kalau sudah lulus? Menjadi seperti ibumu? Ketika suaminya sudah mati, berhubungan dengan orang lainnya. Sungguh mudah dapat uang ya!” Ujar Varo emosi.
Dan William tidak lagi mentolelir sikap Varo . Dia langsung menampar Varo dengan sangat keras. Alice kaget dan menyuruh William untuk tidak memukul putranya sendiri. William berteriak pada Varo agar mendengar penjelasannya dulu baru bicara. Varo tidak mau karena mau apapun yang William katakan, pasti hal itu menurut William adalah benar, sekalipun salah.
“Kau mau dengar atau tidak?” teriak Williami.
“Tidak mau!”
“Tidak usah dengar kalau gitu. Aku juga tidak peduli bagaimana perasaanmu. Mulai dari sekarang, mereka akan tinggal di sini. Di rumah ini. Dan kau harus menghormati mereka. Ini adalah perintah!”
Alice dan Vio terdiam, tidak tahu harus merespon atau bersikap seperti apa melihat pertengkaran ayah dan anak tersebut. Varo mengerti, dia tidak akan melarang mereka tinggal.
“Silahkan tinggal di sini, jika kau bisa menahannya!” peringati Varo pada Alice dan Vio. Setelah itu, dia langsung pergi ke kamarnya di lantai atas.
Di dalam kamar, Varo mengambil sapu tangan Vio yang di simpannya di dalam laci mejanya. Dengan penuh amarah, Varo melempar sapu tangan tersebut ke lantai dan menginjaknya setelah itu dia langsung melemparnya ke dalam tong sampah. Dia benar-benar marah!
“Aku jarang bertemu dengannya. Jadi, aku tidak tahu bagaimana cara memberitahunya.” Ujar William
“Tidak heran dia sangat terkejut. Terlebih lagi dia anak bermasalah. Itulah kenapa hal ini menjadi masalah besar baginya,” komentar Vio .
Mendengar komentar Vio , Asistennya Robert yang ada di sana jelas heran. Apa Vio mengenal Varo sebelumnya? Vio memberitahu kalau dia dan Varo kuliah di tempat yang sama. William kemudian meminta Vio untuk tidak marah pada Varo , anggap saja itu kesalahannya karena tidak berbicara baik-baik padanya dari awal.
“Aku marah!” tegas Vio , dan membuat kaget Alice dan William. Mereka tidak menduga jawaban tersebut. “Tapi aku juga dapat mengerti. Dia tidak tahu kenapa kami ke sini. Jika dia sudah tenang dan mau mendengarkan, dia mungkin akan mengerti.” Ujar Vio.
William tersenyum mendengar perkataan Vio . Dia memuji Alice yang membesarkan Vio dengan baik hingga dapat sedewasa ini, sangat berbeda dengan Varo . Alice tersenyum dan mengatakan kalau Varo seperti itu mungkin karena William jarang menghabiskan waktu bersamanya dan tidak memberikan Varo cinta dan kasih sayang yang dia inginkan.
William membenarkan perkataan Alice , selama ini memang ada jarak antara dia dengan Aletta (mendiang istrinya) dan Varo .
“Tapi sekarang belum terlambat. Jika kau menjaganya, memberikan waktu dan perhatian padanya, dia akan menjadi pria baik. Tidak akan melawan dan menilai negatif terhadap hal – hal yang kau lakukan. Dan yang lebih penting, dia akan yakin kalau tidak akan ada siapapun yang dapat menggantikan posisi ibunya, atau mencuri cintamu darinya,” saran Alice .
William tersenyum mendengar saran itu. Dia menyuruh Alice dan Vio untuk tinggal dengan nyaman di rumah ini, dan mengenai Varo , dia yang akan mengurusnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sisil dengan ketakutan masuk ke dalam kamar Varo . Dia membawakan minuman dan makanan untuk Varo , dan dia juga menyarankan Varo agar makan dulu jadi hatinya bisa tenang. Peat mendekat padanya, dan Taeng jadi panik. Dia mengira Varo hendak membanting makanan. Ternyata tidak, Varo hanya tanya apa sisil sudah melihat istri baru ayahnya?
“Sudah. Istrinya sangat cantik. Dan anaknya sangat manis,” jawab Sisil .
“Aku bukan suruh kau memuji mereka!” marah Varo . “Pergi sekarang dan lihat apa yang mereka lakukan. Setelah itu, laporkan padaku!”
Sisil hendak menolak, tetapi Varo melotot padanya hingga Sisil ketakutan. Dia akhirnya setuju untuk pergi memantau dan meninggalkan makanan yang di bawanya di atas meja.
Bersambung..