
Varo sedang nongkrong sendirian sambil minum kopi. Tapi, tiba-tiba dia melihat sosok Vio . Matanya langsung membesar seolah melihat hantu, tapi pas dia lihat lagi, tidak ada.
Saat Varo udah mau pergi, dia malah melihat Vio beneran sedang membaca buku. Varo langsung buru-buru menjauh dari sana.
Sementara itu, Vio berjalan-jalan sendirian di kota Seoul sambil mencicipi makanan pinggir jalan. Dia juga masuk ke dalam toko-toko dan melihat sekeliling. Dia terus berjalan hingga malam.
--
Varo pulang ke apartemen-nya. Dan dia merasa gugup sekaligus heran. Dia sudah kabur hingga ke Seoul, tapi kenapa Vio juga bisa ada di sini.
--
Alina datang ke apartemen Varo . Dia sudah siap untuk pergi menuju Jeju. Tapi, Varo tidak membukakan pintu untuknya. Alina jelas panik. Tidak berapa lama, dia mendapat pesan line dari Varo : Professor memintaku menemuinya. Aku akan segrea kembali.
Alina tambah panik dan langsung berlari menuju kampus.
--
Varo tiba di kampus.
Sementara itu, Vio dan rombongan di ajak berkeliling kampus. Dan mata Vio menangkap sosok Varo . Mereka saling bertatapan. varo segera kabur. Vio hendak menyusul tapi tidak bisa karena dia harus mengikuti rombongan.
Varo panik, kenapa Vio bisa ada di sini.
Dan saat itulah, dia baru melihat pengumuman di mading kampus mengenai pertukaran mahasiswa. varo tampak marah. Pas sekali, Alina muncul. varo sadar kalau Alina sudah tahu mengenai hal ini.
varo sangat marah dan meninggalkan Alina . Alina menyusulnya dan mengakui kalau dia sduah tahu hal itu dan tidak memberitahu Varo karena tidak ingin Varo bertemu dengan Vio .
“Kau tidak perlu berbohong padaku. Jika kau tahu dia akan ke sini, aku juga tidak ingin bertemu dengannya!” bentak varo pada Alina .
“Tapi, kau akan merindukannya!” jawab Alina.
“Aku tidak pernah merindukannya! Aku membenci-nya!” teriak varo berbohong.
“Kau yakin kau membenci-nya? Jika kau benar-benar membencinya, kau seharusnya berterimakasih karena aku tidak memberitahu hal ini. Bukannya marah seperti sekarang. Kau marah karena kau benci, atau kau marah karena kau hampir tidak bertemu dengannya? Jawab aku!” tegas Alina.
“Ini… kau melakukan hal ini, apa yang akan kau dapatkan? Bagaimanaku perasaanku, tidak ada hubungannya denganmu!” jawab Varo.
“Kenapa tidak? Apapun yang kau rasakan, itu penting bagiku.”
“Sejak kapan aku memberimu hak?!” tanya Varo dengan tegas. “Kita hanya teman. Jangan melewati batas!” peringati Varo . “Jika kau tetap tidak berhenti membuat masalah, bahkan jika kau temanku, aku juga tidak akan peduli!” tegas Varo Langsung meninggalkan alina sendiri.
--
Vio telah selesai mengelilingi kampus dengan rombongan. Professor-nya menyuruh Vio untuk istirahat dan mereka akan lanjut nanti sore lagi. Vio meminta izin untuk jalan-jalan sendiri, dan professor mengizinkan.
Setelah mendapat izin, Vio langsung berkeliling untuk mencari Varo . Tapi, dia tidak menemukannya sama sekali.
--
Alina yang di tinggal sendirian, menelpon Devan sambil menangis. Devan jelas merasa khawatir mendengar suara tangisan Alina dan bertanya ada apa.
“Aku… bertengkar dengan Varo .”
“Tolong tenang. Ceritakan dengan pelan. Aku selalu siap untuk mendengarkanmu,” ujar Devan yang sedang berada di Seoul dan melihat alina dari jauh.
Flashback
Ternyata, Devan pergi ke Korea menyusul Alina Dan Varo tanpa sepengetahuan mereka. Dan dia telah mengikuti Alina dari Alina keluar apartemen, menuju apartemen Varo dan dengan panik berlari ke kampus. Dia melihat semuanya.
Flashback off
“Aku menyembunyikan darinya mengenai seseorang yang datang ke sini. Aku ingin melindungi Varo . Tapi, Varo menuduhku telah melewati batas, terlalu mengganggunya.”
“Mungkin Varo hanya marah. Mungin dia mengucapkannya tanpa berpikir.” Ujar Devan menenangkan alina .
“Hingga dia ingin memutuskan hubungan denganku? Apa aku sangat salah? Aku hanya ingin menolong Varo agar dia tidak merasa sendirian. Tapi sekarang, aku merasa kalau akulah yang sendirian.” tangis Alina .
“Tapi kau masih memilikiku.” jawab Devan .
“Tapi kau tidak di sini,” tangis Alina .
Devan sudah hendak menghampiri Alina , tapi tiba-tiba dia mendengar Alina memanggil nama Varo . varo kembali dan meminta maaf pada Alina . Alina langsung memeluk Varo dengan erat. Dan sekali lagi, Devan patah hati (auhhh… kasihan kali).
Alina meminta maaf pada Varo , dia hanya berniat baik. varo mengerti dan dia juga meminta maaf karena telah bicara kasar pada Alina . Alina sangat senang mendengarnya. varo bertanya apa Alina sedang bicara dengan Devan. Alina membenarkan dan memberikan ponselnya pada Varo .
“Sudah tidak ada masalah. Terimakasih banyak.” Ujar Varo .
“Ya. Bicaralah baik-baik dengannya,” ujar Devan dan mematikan telepon.
Dari jauh, Devan melihat Alina yang berpelukan dengan erat pada Varo .