
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
William menjaga Alice di rumah sakit. Dia tampak sangat cemas dan bahkan memohon agar Alice segera sadar. Tiba-tiba saja, jari jemari Alice sedikit bergerak dan kemudian dia membuka matanya. William sangat senang melihat hal itu.
“Vio!” itu kata pertama yang di ucapkan Alice saat sadar.
--
Dikampus...
Selin sangat kesal dengan kelakukan Varo tadi, dan dia terus mengomel sepanjang jalan mengenai hal itu. Dia bahkan masih sulit percaya kalau Vio tinggal serumah dengan orang seperti Varo . Vio memberitahu Selin kalau dia sudah menghindari Varo sejak ibunya masuk rumah sakit.
Devan ternyata mengejar mereka. Dia meminta waktu untuk bicara pada Vio . Vio menolak, tetapi Devan tidak menyerah. Selin yang jadi kesal dan memarahi Devan yang susah di bilangin.
“Jika kau mau membicarakan mengenai temanmu. Aku tidak mau bicara,” tegas Vio .
“Bukan. Aku mau bicara mengenai kerjaan. Tapi… kau punya masalah dengan temanku? Kau dan Varo , masalah apa yang kalian miliki?” Ujar Devan .
“Aku hanya akan membicarakan kerjaan. Jika mengenai pria itu, aku tidak mau bicara.” jawab Vio .
Devan setuju. Dia hanya akan membicarakan kerjaan.
--
Dirumah sakit..
“Aku mempercayakan putriku padamu juga,” ujar Alice dengan terbata-bata.
“viona adalah putriku. Aku akan menjaganya. Kau tidak perlu khawatir, okay,” ujar William.
“Aku ingin memberitahu putriku… siapa ayahnya. Tapi, aku takut dia akan marah dan membenciku.” Ujar Alice .
“vio, tidak akan pernah membencimu, Alice . Aku yang akan memberitahunya. Kau tahu, aku ingin memberitahunya hingga hatiku serasa sudah mau meledak. Aku ingin bilang kalau ayahnya masih hidup dan dia berdiri di sini sekarang. Berdiri tepat di sebelahnya,” ujar William dengan berbinar.
“Aku minta maaf.” Ujar Alice sendu.
“Ini bukan salahmu, Al. Aku yang salah. Aku orang yang membuat dosa ini untukmu.” jawab William.
“Ini… dosa… untuk kita berdua,” tangis Alice dan kemudian nafasnya menjadi tidak stabil.
William jelas panik dan berteriak memanggil dokter. Suster dan dokter segera datang dan meminta William untuk menunggu di luar. Mereka juga menutup tirai jendela hinggan William tidak bisa melihat ke dalam.
--
Dikampus..
“Varo tidak pergi ke restoranku. Kalian tidak akan saling bertemu,” ujar Devan langsung.
“Aku tertarik dengan tawaranmu. Tapi aku merasa tidak nyaman.” Ujar Vio .
“Karena?” Tanya Devan penasaran.
“Karena…,” belum sempat Vio menjawab, ponselnya berbunyi. Dari William, dan mendengar apa yang di sampaikan William membuat wajah Vio langsung memucat.
Selin bertanya apa yang terjadi, dan Vio langsung menjelaskan kalau kondisi ibunya tidak baik dan dia harus segera ke rumah sakit sekarang. Selin langsung menawarkan diri untuk menemani. Devan yang mendengar apa yang terjadi pada ibu Vio, menawarkan diri untuk mengantarkan mereka.
Varo masih duduk sendirian di pinggir lapangan. Alina dan Davin mendekatinya. Pas sekali, Davin melihat Vio yang tampang terburu-buru bersama dengan Selin dan Devan . Varo yang seolah mendapat firasat buruk, langsung pergi mengikuti mereka.
--
Dirumah sakit..
Dokter keluar usai memeriksa Alice dan memberikan kabar buruk. Kondisi Alice mendadak kritis. Vio baru sampai dan bertanya bagaimana kondisi ibunya. William dengan berat hati memberitahu kalau dokter meminta mereka untuk menyiapkan diri.
Viona langsung menangis dan masuk ke kamar rawat ibunya. Varo juga baru tiba dan melihat hal itu.
“Pembunuh!” umpat selin begitu melihat Varo .
“Hey, bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi?” tanya Devan penasaran.
Varo jelas mendengar umpatan Selin , tapi dia diam saja dan tidak membalas.
“Segalanya terjadi karena temanmu,” beritahu Selin .
Varo berdiri diam di depan pintu.
Ibunya dalam kondisi kritis meminta Vio untuk tinggal bersama dengan William. Vio jelas menangis dan memohon agar ibunya tidak meninggalkannya sendirian. Varo tampak bersalah melihat hal tersebut.
“Aku tidak bisa bersamamu lebih lama lagi. Mulai dari sekarang, paman William akan menjaga dan merawatmu, sayang. Janji padaku kalau kau akan menyanyangi dan menghormati pamanmu seperti ayahmu sendiri. Kau harus tinggal dengan paman William, Sayang. Dapatkah kau berjanji?” Tanya ibunya Vio dengan lirih.
Dan dengan menangis Vio berjanji akan mengikuti perkataan ibunya. Alice meminta pada William untuk menjaga putrinya, dan William menyanggupinya.
“Aku menyanyangimu, putriku,” ujar ibunya .
“Aku juga menyanyangi ibu,” tangis Vio .
“Aku mencintaimu, Al,” ujar William Tak terasa air matanya pun menetes.